Home Blog Page 101

Ambisi Menaklukkan Pasar Sepatu Dunia

0

Terdengar asing, sehingga banyak orang mengira kalau Edward Forrer adalah merek global. Padahal, merek sepatu (dan tas) kulit itu benar-benar berasal dari Bandung. Memang, gerai Edward Forrer kini tidak hanya tersedia di seluruh penjuru Bandung, tapi juga menyebar di kota-kota penting di Indonesia, bahkan di manca negara, seperti Malaysia, Hawaii, dan Australia.

Edward Forrer adalah salah satu merek sepatu lokal, yang saat ini tidak hanya sanggup bertahan dari serbuan pasar asing – sebutlah produk Cina yang harganya murah, tapi juga mempunyai brand value yang bagus. Selain Forrer, merek-merek lokal yang tangguh saat ini tercatat Pakalolo, Yongki Komaladi, dan Eagle.

Memang grafik produksi sepatu di Indonesia menurun, tapi merek-merek kuat di atas tersebutlah penyelamatnya. Meski menurun, tapi kabar baiknya adalah, jumlah para wirausahawan baru di bisnis ini terus bermunculan. Tahun ini, menurut catatan Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), sudah lebih dari 100 perusahaan yang bergerak di industri persepatuan.

Orang sering tahu happy ending-nya, padahal menguatnya merek-merek lokal tersebut telah melalui proses yang panjang dan berliku. Bahkan untuk menghadapi persaingan yang ketat, Edward Forrer, misalnya, menerapkan strategi tersendiri. Selain melipatgandakan jumlah gerainya jadi sekitar 50 tahun ini dari 16 pada 2003, perusahaan keluarga ini menerapkan manajemen modern. 

Saat ini Edward Forrer – yang juga nama pemiliknya, membangun organizational learning untuk menjamin perusahaan selalu menjadi yang terdepan dalam hal inovasi. Be innovative, begitulah mottonya. Selain itu, peusahaan ini juga mengembangkan sistem pemesanan berbasis web yang inheren dengan skema produksi made to order.

Melalui cara ini, Edward Forrer dapat terus menekan biaya secara efektif. Hasilnya, produsen sepatu yang memiliki 2.000 karyawan (termasuk mitra usaha) ini tetap tampil mengesankan dan menguasai 5% pangsa pasar sepatu nonsport.

Tidak ada yang tidak mungkin, begitu prinsip Edward. Semua impian bisa diwujudkan dengan kerja keras, konsistensi, serta keteguhan memegang dan menjalankan nilai. Itu pula ketika ia memutuskan menjadi enterpreneur. “Saya percaya setiap orang mempunyai gift unik yang dapat digunakan untuk menjalani kehidupan,” ungkap kelahiran Bandung, 25 Oktober 1966 itu. 

Menjadikan Merek Global

Merek Edward Forrer mulai dirintis sejak tahun 1989 oleh Edward Forrer sendiri. Awalnya produk sepatu hasil ciptaannya dipasarkan melalui cara door to door. Caranya dengan memperlihatkan gambar dari model-model yang pernah dirancang sebelumnya. Di samping itu, konsumen bisa memesan sendiri model yang mereka inginkan. Tak ayal lagi, Edward Forrer akhirnya punya banyak pelanggan tetap.

Begitu banyaknya pesanan, membuat pihak Edward Forrer kewalahan menanganinya. Atas dasar itu pula didirikanlah PT Edward Forrer, yang sekaligus juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga di sekitarnya. Karena model-model yang ditawarkannya selalu inovatif, Edward Forrer bisa berkembang pesat hingga saat ini.

Tak ayal, Edward Forrer adalah produk fashion dengan kualitas terbaik, terdiri dari sepatu dan tas dengan harga yang wajar serta terjangkau. Desainnya selalu baru, unik, dan modern, hadir dalam berbagai gaya khusus dipersembahkan bagi kepuasan konsumen. Untuk layanan purna jual, Edward Forrer memberikan garansi reparasi bagi pembeli produknya.

Boleh jadi, sikap itulah yang mengantarkan Edward yang lulusan SMA ini sukses meretas kiprahnya sebagai pengusaha sepatu. Gerainya tersebar di mana-mana – sepertiga gerai yang milik sendiri (termasuk yang di luar negeri), tapi selebihnya adalah milik orang lain dalam pola waralaba.

Dalam menggandeng para entrepreneur tersebut, franchisor Edward Forrer memberi dukungan berupa training, di mana franchisee akan belajar langsung dalam inventory management, proses desain visual merchandise, layanan kepada pelanggan, dan manajemen keuanan dan perencanaan, perekrutan staf pegawai, seleksi produksi, proses pemesanan, konstruksi gerai, hingga grand opening.

Dari Musisi hingga Seniman Tato

0

Zaman berubah, merek-merek pun berganti. Kegemaran generasi MTV tidak sama dengan kesukaan generasi sebelumnya. Merek tidak harus tercipta dari tangan seorang desainer mode, tapi lahir dari berbagai kalangan. Berikut adalah beberapa contoh merek yang melaju pesat, bahkan tidak mustahil meninggalkan legend brand.

Giring Ganesha Jumaryo, 25 tahun, vokalis grup band Nidji, mengaku sebagai salah satu penggemar berat sepatu Onitsuka Tiger. Dulu, ia hanya mampu beli sepatu asal Jepang itu versi palsunya. “Setelah punya penghasilan sendiri, baru saya bisa beli aslinya. Selain itu, dulu belum ada toko yang menjual Tiger di Indonesia,” ujar Giring yang biasa membeli Tiger di Singapura.

Karena itu, Giring tidak alang kepalang gembiranya ketika tahu sepatu favoritnya merek Onitsuka Tiger itu ada di Jakarta. “Baru satu tahun belakangan saya beli Tiger di sini,” ujar pria berambut kribo itu usai pembukaan gerai Motion di fx, mal baru yang berlokasi di Jl. Sudirman, Jakarta Selatan, Juli lalu. 

Pembawa lagu Laskar Pelangi itu itu menyukai desain Tiger yang menurutnya unik dan nyaman dipakai. “Yang saya pakai ini dibuat hand made,” tutur Giring yang memiliki lima Tiger. Dua di antaranya, selalu ia bawa setiap kali tur, agar ia bisa berganti-ganti sepatu saat manggung.

Tiger hanya salah satu brand pendatang baru yang berada di top of mind anak-anak muda sekarang. Kalau merek sepatu yang ada di benak Anda adalah Puma, Adidas, Reebok, Rockpot, tentu tidak salah. Tapi sekarang pada era generasi MTV, pilihan sepatunya lebih beragam, mereknya pun lebih variatif. Begitu pun dengan aparel pada umumnya.

Kalau Anda perhatikan anak-anak muda sekarang, jangan heran kalau menemukan merek-merek yang “asing” yang kedengaran asing – tapi sebetulnya tidak bagi para fashionista. Sebutlah True Religion, Evisu, Onitsuka Tiger, Harajuku Lover, K-Swiss, Ed Hardy, Royal Elastic, Christian Audiger, atau Paris Hilton. Merek-merek tersebut jelas bukan murahan, bahkan boleh dibilang untuk kantong ABG cukup eksklusif. Harga-harganya berkisar di Rp 800.000 ke atas.

Sebutlah Levi’s, memang benar, adalah merek jins yang legendaris. Tapi Anda akan dibilang “tidak gaul” kalau tidak mengenal merek True Religion, merek jins yang kini sedang digandrungi anak-anak muda Amerika, yang mungkin menjadi “agama baru” di sana.

Tidak hanya di AS, di era kemajuan TI di mana media internet dan TV mampu menyebarkan informasi seperti virus, merek-merek global itu tentu saja cepat mendunia. Kalau kita lihat tas belanjaan Ages Monica, misalnya, salah satu merek yang disebut di atas itu, pasti terselip. Nyatanya penyanyi muda yang sedang naik daun itu adalah penggemar merek-merek seperti True Religion, Harajuku Lovers, David & Goliath, dan lain-lain.

Bahkan Melly Goeslaw yang sering tampil aneh-aneh di panggung lebih pede memakai merek-merek seperti Royal Elastic, Christian Audiger, juga Ed Hardy. 

Gwen Stefani, David & Goliath

Waktu berganti, kesukaan akan barang dan merek pun berganti pula. Pencipta brand tidak harus seorang desainer, tapi bisa datang dari mana saja, mulai dari artis film, penyanyi, ikon dunia konsumsi, hingga seniman tato. 

Gwen Stefani adalah satu satunya. Setelah sukses dengan merek Lamb (2004), penyanyi eksentrik itu meluncurkan merek Harajuku Lovers (2005). Stefani terinspirasi mode jalanan Jepang yang berani saat melakukan perjalanan ke Tokyo pada tahun 1996, di mana ia sangat kagum dengan ekspresi diri dan gaya mode para remaja di sana. Kekaguman tersebut tidak hanya dituangkan dalam lagu “Harajuku Girls”, tapi juga diwujudkan dalam sebuah fashion brand.

Modifying a Car, Why Not?

0

Have you seen the film Pimp My Ride on MTV? The film shows how a car in very bad repair is modified into a flashy one. The owner of the car cannot even recognize his car as it has assumed a new appearance after being modified by a TV crew, or rather a modification crew. Although it is completely different, it is adjusted to suit the personality of the owner.

So, modification is nothing new. It is a smart way to get a new car without having to visit a car showroom. In other words, you simply have to repair the car and introduce some modifications according to your taste.

Paris Hilton, actress and heiress of the Hilton empire, has good taste in cars. This beautiful and sexy artist puts her trust in West Coast Customs (WCC) to modify her Bentley Continental GT.

One of the cars in Paris’s collection has been modified by WCC by giving it a girly touch. The entire exterior is pink in color. Paris’ car was on display in the Specialty Equipment Market Association (SEMA) held in Las Vegas, the United States, from Nov. 4 to 7.

Of course, you don’t have to be Paris Hilton to have your car modified and neither do you have to wait your turn to appear on Pimp My Ride. You can modify your car yourself to suit your taste any time. Of course, you had better consult a car modification expert first. You can consult an expert about the engine, the accessories and the design so that everything suits your taste.

Modifying a car is certainly not an easy thing to do but if you can successfully modify your car you will certainly feel proud and your time, energy and money will be well used.

To modify your car, you need passion and, more importantly, technical ability, which you can discuss with a professional. Basically, the aspects to be take into account are the type of the car to be modified, the concept and its execution.

Type

If you wish to modify an automobile, you must pay careful attention to its type. Find out which category the car belongs to. In this way you will avoid any mistakes. Otherwise you may modify an SUV (sport utility vehicle) with a city car approach, for example. Each type of automobile has their own distinct style and specifications.

Originality of Idea

In every car modification, try to come up with fresh ideas. This means that the car modification is not simply a repeat of what other people have done. Originality refers to aspects from the use of new things that are rarely available, to a new modification technique or to a new model of the body or wheels.

If someone tries to apply new ideas in car modification, the cost will be high because it requires a lot of trial and error. It is often the case that you may have to sacrifice the modification items to acquire a modification master in order to gain a new model. However, if you are in search of satisfaction, it is all worthwhile.

Asian Shopping Destinations

0

There are no borders for shopping aficionados, and the number of upscale Indonesian families traveling to top Asian shopping destinations has been on the rise over the past several years, especially ahead of Christmas and New Year. Take Hong Kong, for example, a favorite shopping destination. This country offers not only a shopping experience in giant shopping centers but also provides room for small and unique boutiques to develop.

Who can resist shopping in Hong Kong? Everything is available here, ranging from bags to footwear, and items at prices that won’t drain your pocket too quickly. “Whenever I go to Hong Kong, I never have enough time for shopping,” said Shinta, a businesswoman.

Causeway Bay is a large shopping area most frequented by foreign tourists. Here you can find various department stores, malls and small stores selling apparel, electronics and computer equipment.

When looking for bargains, go to Tsim Sha Tsui, Kowloon. Like Causeway Bay, here there are lots of stores selling various products such as electronics, apparel, souvenirs and jewelry. The difference between these two places is that Causeway Bay seems more conventional while Tsim Sha Tsui is more hip. More importantly, though, the prices offered at Tsim Sha Tsui are relatively lower.

Hong Kong is indeed a favorite shopping destination for middle-class Indonesians. Then again Singapore, which is closer, is also a popular shopping destination. “Indonesia is Singapore’s largest market and this makes shoppers from Indonesia important,” said Regional Director of Singapore Tourism Board, ASEAN, Chooi Yee Choong.

Indonesians can be seen, day and night, hunting for the best offers in Singapore. In the city-state you can easily find anything you need, ranging from daily necessities to lifestyle items. Shopping, dining and nightlife is available all around Orchard Road, the most popular shopping area in Southeast Asia.As a tourist destination, Orchard Road is well known as a place that is open almost around the clock, with foreign tourists snapping up goods on sale. Here visitors may be stunned at how products can be offered at relatively low prices.

Meanwhile, if you want unique items, try Chinatown or Little India. Chinatown is under the skyscrapers in a financial area. It is colorful and lively, with people buying Chinese spices, herbal medicine and fruit. Little India boasts the only shopping mall in Singapore that is open around the clock: Mustafa Center, an emporium plus department store plus a 24-hour Aladdin’s cave. Established in 1973, you can find everything here at the lowest prices in Singapore.

Every year, Singapore organizes the Great Singapore Sale and promotes the event in Indonesia. This year was the sale’s 15th. The sale lasts three months and offers fashion goods, accessories, household equipment and electronics at discounts of up to 70 percent.

The Great Singapore Sale may be over, but that does not mean there are no more discounts on offer. Christmas and New Year are ideal times to shop in Singapore as stores often offer special discounts at this time of year.

Malaysia is also an up and coming shopping destination, but it is also more than that. With its tourism tagline of “Malaysia, Truly Asia”, its tourist industry continues to develop and flourish. Malaysia continues to be innovative in the marketing of its tourism products. Promotions for the Formula 1 Malaysia, culture and arts, eco-tourism, culinary experiences and shopping have been intensified.

The Infotainment Parliament

0

Tidak hanya menghebohkan panggung hiburan, kehadiran selebiriti juga meramaikan kancah perpolitikan. Mereka berlomba-lomba mencalonkan diri menjadi legislatif dan politisi. Sekadar memanfaatkan popularitas?

Itulah fenomena kehidupan artis sekarang. Berita-berita di media infortainmen, koran, tabloid dan majalah, sekarang bukan membeberkan tentang percintaan, perselingkungan, perceraian atau pekawinan para selebriti, tapi aktivitas politiknya. Misalnya tentang sosok penyanyi dangdut Saipul Jamil. Bukan hanya berita tentang perceraiannya dengan Dewi Perssik. Kegiatan politik mantan suami penyanyi dangdut nan seksi itu sempat menghebohkan media masa. Saipul dilamar PPP untuk mendampingi Ruhyadi Kirtam Sanjaya Ketua DPC PPP menjadi wakil Walikota Serang dalam pilkada 8 Agustus 2008.

Hal serupa juga dilakukan oleh Primus Yustisio. Aktor ganteng itu maju menjadi salah satu kandidat wakil Bupati Kabupaten Subang. Primus diusung Partai Golkar dan PAN (Partai Amanat Nasional), Partai Demokrat, Partai Karya Pembangunan Indonesia dengan nomor urut dua. Dalam pilkada yang akan berlangsung bulan Novenber, suami Jihan Fahira ini mendampingi Aryumningsih. 

Bukan hanya di eksekutif, para selebriti juga masuk ke ranah legislatif. Berdasarkan data yang dimiliki ME ada sekitar 60 artis mendaftar menjadi caleg. Di antaranya, Bella Saphira (Partai Damai Sejahtera – PDS), Wulan Guritno (Partai Amanat Nasionalm – PAN), Luna Maya (PPP), Rieke Diah Pitaloka (PDI Perjuangan), Jaja Miharja (Partai Gerakan Indonesia Raya – Gerindra), Vena Melinda (Partai Demokrat), Rachel Mariam (Partai Gerindra), Wulan Guritno (PAN), Nurul Arifin (Partai Golkar), Denada (PPP), Ikang Fawzi (PAN), Marisa Haque (PPP), Wanda Hamidah (PAN), Gusti Randa (Partai Hati Nurasi Rakyat – Hanura) dan masih banyak lagi.

Jika ditarik ke benang demokrasi. Itu merupakan bentuk kesepakatan kita dalam menjalankan nilai demokrasi yaitu kebebasan berpolitik. Kebebasan berpolitik memberikan ruang besar pada semua lapisan masyarakat untuk menjadi caleg.

Suka tidak suka ini juga merupakan konsekwensi dari kehidupan demokrasi. Bahwa semua warga negara berhak untuk ikut berpartisipasi dalam politik dan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Walau tidak mempunyai pengalaman politik dan menjadi kader partai.

Berangkat dari sini munculah puluhan partai politik dan mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan harapan bisa menjadi peserta Pemilu 2009. KPU pun melakukan penyeleksian, hasil seleksi memutuskan ”hanya” 44 partai politik ikut Pemilu 2009. 

Berdasarkan data ada sekitar 12.198 caleg yang akan bertarung memperebutkan 560 kursi di DPR RI. Mereka itu tersebar di 77 daerah pemilihan. Dilihat dari jumlah caleg, angkanya cukup besar sementara kursi yang perebutan sedikit. Ini tentu akan menimbulkan persaingan ketat antar caleg, termasuk antara artis yang menjadi caleg. Jadi jangan heran, untuk bisa menang mereka pun rela mengeluarkan uang ratusan juta bahkan miliaran rupiah. Untuk beli spanduk, kaos, konsumsi, menemui konstituen ke daerah pimilihan dan membayar tim sukses. 

Walau tidak mempunyai latar belakang politik, para selebriti mempunyai semangat dan rasa percaya diri tinggi. Yakin akan terpilih menjadi anggota dewan perwakilan rakyat. Tapi sayang sebagian masyarakat masih mempertanyakan kredibilitas mereka. Apa mungkin, orang (artis) yang tidak pernah bersentuhan dengan politik dan tidak mempunyai pengalaman politik jadi wakil rakyat menjalankan amat rakyat secara benar?

Pertanyaan ini muncul karena rakyat sudah mulai kecewa dengan kinerja anggota DPR. Rakyat menilai, anggota legislatif hanya memikirkan diri sendiri dan kelompok tidak memikirkan negara dan rakyat. Terbukti, sebagian dari anggota dewan rakyat yang terhormat tersebut terlibat kasus korupsi. Mereka tidak peduli dengan kesulitan ekonomi yang sedang dialami rakyat. Menyedihkan sekali!

Hidup Mewah di Apartemen Mewah

0

Rumah memang penting, tapi rumah kini agaknya bukan sekadar tempat tinggal. Bagi kalangan berduit yang tinggal di kota-kota besar, hunian istimewa adalah hunian yang mempunyai fasilitas bintang lima, sekaligus praktis karena terletak di jantung kota. Dan itu hanya bisa didapat di apartemen mewah, yang belakangan bermunculan di Jakarta.

Bagi kalangan berduit dan mempunyai aktivitas padat, tinggal di apartemen mewah yang biasanya berlokasi di central business district (CBD), jelas sangat nyaman. Di samping tak perlu waktu banyak untuk mengatur ruangan yang kompak, semua urusan menjadi lebih gampang karena tersedia berbagai fasilitas, keamanan pastinya, serta pelayanan 24 jam layaknya hotel.

Bagi para eksekutif sibuk, single maupun yang sudah berkeluarga, tinggal di apartemen adalah pilihan yang tepat. Di tengah kehidupan modern yang selalu dinamis dengan mobilitas tinggi, apartemen yang berlokasi di tengah kota juga mempunyai akses mudah menuju pusat bisnis, perbelanjaan, dan hiburan, juga menjawab kebutuhan akan hunian yang strategis dengan segala kemudahan dan kenyamanannya.

Peluang itulah yang dimanfaatkan para pengembang untuk berlomba-lomba membangun apartemen mewah, bahkan super mewah!

Apartemen super mewah – tepatnya kondominum yang dijual secara strata title – yang dimaksud adalah yang mempunyai luas sedikitnya 400 meter persegi. Harganya berkisar antara 1,5 – 2 juta USD per unit. Cukup mahal, namun bagi platinum society harga bukan menjadi masalah benar kalau yang dicari adalah kemewahan sekaligus kenyamanan.

Menurut catatan Provis, sedikitnya ada 6 (enam) kondominium yang tergolong super mewah di Jakarta. Yakni, Da Vinci (30 unit), Airlangga (40 unit), Four Seasons (60 unit), Pacific Place (60 unit), dan masih dalam tahap projek pembangunan yang diperkirakan selesai tahun 2010 adalah The Keraton (68 unit) dan St Regis (154 unit).

Ada beberapa hal yang mendorong pertumbuhan apartmen super mewah di Indonesia, khususnya di Jakarta. Pertama, semakin diterimanya gaya hidup tinggal di rumah vertikal. Kedua, mempunyai apartemen super mewah menjadikan gengsi tersendiri.

Photo by Andrea Davis on Unsplash

Motivasi kebanyakan orang, selain untuk ditinggali, membeli kondominium juga untuk investasi. Bahkan berdasarkan data yang ada, umumnya mereka membeli apartemen tidak melulu untuk ditinggali, tapi lebih banyak sebagai investasi. Sebagian besar tujuannnya adalah untuk investasi seperti disewakan atau dijual lagi karena harganya akan selalu naik.

Hanya saja, khusus untuk apartemen mewah, tujuan untuk berinvestasi ini tidak terlalu relevan. Dengan harga beli yang tingi, tapi harga sewa maksimum 6.000 USD per unit per bulan, maka yield-nya terlalu kecil.

Menangguk Rezeki dari Pesta Perkawinan

0

Keterbatasan waktu membuat orang-orang mempercayakan penyelenggaraan resepsi perkawinan kepada ahlinya. Itu sebabnya, bisnis wedding organizer (WO) – wedding planner (WP) kini marak, bahkan tidak mengenal resesi. Hi-end party juga mulai mendapat tempat di Indonesia, kalau tidak mana mungkin seorang Preston Bailey asal Amerika mengembangkan sayapnya ke sini. 

Oleh Burhan Abe

Bisnis jasa penyelenggaraan pesta perkawinan – atau sering disebut sebagai wedding organizer (WO), kini makin marak. Sejumlah penyedia jasa, mulai dari WO sendiri, penyedia jasa dekorasi, katering, kue pengantin, gaun pengantin, cendera mata, jasa fotografi, hiburan termasuk MC (master of ceremony) dan wedding singer, bermunculan bak cendawan di musim hujan.

Tak terhitung berapa kali mereka ikut wedding exhibition, baik di hotel maupun di mal, yang frekwensinya makin lama makin bertambah. Ini memang menunjukkan betapa gurihnya bisnis penyelenggaraan pesta pernikahan akhir-akhir ini dan tidak terkira uang yang berputar di sini.

Sebuah hajatan perkawinan di sebuah hotel berbintang yang melibatkan banyak pihak, menurut sumber SWA, menelan dana antara Rp 600 juta hingga Rp 2 miliar.

Di Jakarta saja, ketika musim kawin tiba, terutama di bulan-bulan yang berakhiran “ber”, kecuali Ramadan dan Lebaran, setiap akhir pekan (Jumat, Sabtu dan Minggu) ada saja orang yang merayakan pernikahan. Balai-balai atau hall di hari-hari itu selalu penuh, ballroom hotel-hotel demikian pula – bahkan tak jarang satu hotel yang bisa menyelenggarakan dua hajatan sekaligus pada waktu yang bersamaan.

Hotel-hotel berbintang lima yang laris dipakai resepsi perkawinan saat ini adalah Hotel Mulia, Grand Melia, JW Marriot, Dharmawangsa, Grand Hyatt, Nikko, dan Four Seasons, Ritz-Carlton (Mega Kuningan), atau Ritz-Carlton (Pacific Place). Mereka rata-rata bisa menampung 1.000-2.000 tamu, sedangkan yang paling luas saat ini dipegang oleh Ritz-Carlton Pacific Place yang mempunyai luas 3.000 m2 (bisa menampung 5.000 tamu untuk standing party). Begitu larisnya venue-venue tersebut, sehingga mempelai harus reserve enam bulan sebelumnya.

Wedding of The Year

Pesta pernikahan paling megah tahun ini siapa lagi kalau bukan pesta pernikahan Adinda Bakrie, putri pemilik PT Lapindo Brantas, Indra Bakrie, yang diselenggarakan di Hotel Mulia, Jakarta, 24 Juli lalu. 

Pesta yang sangat megah itu dihadiri oleh tamu-tamu VIP, mulai dari pejabat negara, para pengusaha papan atas, para diplomat negara-negara sahabat, serta para sosialita Jakarta. Tak kurang dari Wakil Presiden Yusuf Kalla, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Agung Laksono, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution, Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardoyo, hingga Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa. 

Di kalangan sosialita ada Wulan Guritno, Dian Sastrowardoyo Dian Sastrowardoyo, Manohara Pinot, Janna K Soekasah, Amanda Soekasah, Indah Saugi, Elsa Kurniawan, Vashty Soegomo, Renny Sutiyoso, Ronald Liem, Rachmat Harsono, Livia Prananto, Fitria Yusuf, Tirza Tabitha, Jessica Nathalie, dan lain-lain. Wajah mereka inilah yang kerap menghiasi majalah-majalah gaya hidup.

Photo by Nick Karvounis on Unsplash

Adinda memang termasuk dalam sosialita di negeri ini. Ia memiliki selera yang tinggi dalam segala hal, baik berupa barang maupun penampilan. Tak heran kalau resepsi pernikahannya juga diselenggarakan dengan selera high class. 

Meriahnya pesta tersebut sudah dimulai sejak gerbang hotel. Jajaran karangan bunga berdesakan di kiri kanan jalan masuk menuju pintu lobi sebelah utara. Kemegahan pun lengkap di ruang pesta. Tiga ballroom Hotel Mulia dijadikan satu dengan 15 lampu kristal ukuran besar bergantungan di atap. Pasangan mempelai duduk di pelaminan yang mewah. 

Antara Singapura dan Jakarta

0

Dear Mr Abe,

A very warm welcome to The Fullerton Hotel Singapore. We wish you a most pleasant stay and should you require any assistance, please do not hesitate to contact us at extension 8977.

Sincerely, Melissa Kong Assistant Marketing Communications Manager The Fullerton Hotel, Singapore  

SEPUCUK surat itu tergeletak di meja kamar di The Fullerton Hotel, Singapura, ketika saya menginap di hotel tersebut beberapa waktu yang lalu. Hal yang biasa sebagai sapaan hangat host kepada tamunya. Tapi yang membuat saya terkesan, surat tersebut ditulis pakai tangan. Rasanya lebih personal.  

Saya harus memaklumi, di negeri sekecil Singapura, yang hanya seperdelapan Pulau Bali, yang tidak mempunyai sumber daya alam, yang mereka tawarkan adalah jasa. Bukan sekadar jasa, tapi servis yang paling prima.   

The Fullerton Hotel, Singapore  

Bukan hanya hotel, sebelumnya ketika naik SQ dari Jakarta, saya sudah merasakan servis yang luar biasa tersebut. Standar pelayanannya jelas, terbang selalu tepat waktu, pramugarinya tidak sekadar jual tampang, tapi juga sangat helpful melayani kebutuhan penumpang.  

Singapura memang negara kecil. Tapi negeri dengan penduduk 4,6 juta itu merupakan magnet yang membuat banyak orang datang dengan beragam alasan. Lokasi yang strategis saja pasti tidak cukup, kalau tidak didukung oleh infrastruktur yang baik – kota tertata rapi dan sistem transportasi publik yang memudahkan orang untuk bergerak ke mana pun tanpa kehilangan waktu karena macet di jalan.

Tapi yang lebih penting adalah, sistem manajemen pemerintahan yang profesional, serta penduduknya yang siap berkompetisi di dunia global.   

Kalau tidak mana mugkin Negeri Singa ini menjadi salah satu negeri yang paling dinamis di dunia. Pada 2007 nilai investasi aset tetap di Singapura melebihi $10 miliar. Perekonomian tumbuh ke tingkat rata-ata 6 – 7 persen per tahun sejak 2004 dan tahun ini, bahkan dalam situasi kehancuran nilai kredit, tetap tumbuh sekitar 4- 6 persen.   

Memang, kita boleh tidak setuju dengan pemerintah Singapura yang menekan demokrasi. Banyak aturan, banyak reward, tapi banyak punishment-nya. Orang menyebut fine city, bukan negeri baik, tapi “negeri denda”. Tentu, itu hanya ledekan. Tapi bagi saya pribadi, lebih baik punya aturan ketat tapi jelas manfaatnya, daripada bebas tapi seringkali tidak bertanggungjawab.   

Saya hanya berutopia, kapan Jakarta bisa meniru Singapura. Jangankan punya subway yang di Singapura dikenal sebagai mass rapid transportation (MRT), mengatur busway saja tidak pernah beres, apalagi monorail yang tidak jelas juntrungannya.   

Beeing Single

0

Dulu ada kesan, menjadi lajang – apalagi ketika usia berkepala tiga atau bahkan empat, karena tidak laku kawin. Tapi kini, status lajang, dengan berbagai alasan, justru menjadi pilihan hidup. Hidup sendiri bukan berarti tidak bisa berprestasi, bukan?

Idul Fitri adalah saat paling indah untuk berkumpul bersama keluarga. Tapi bagi Indah, 33 tahun, malah sebaliknya. Justru saat berkumpul itulah ada pertanyaan basi selalu tertujukan kepadanya, “Mana undangannya?” Atau pertanyaan dengan kalimat yang lebih lugas, “Kapan menikah?” Bukan karena malas membalasnya, tapi jawaban Indah toh tidak beranjak dari sebuah basa-basi, “Belum ketemu jodoh!” 

Apa boleh buat, pertemuan yang seharusnya menyenangkan, menjadi membosankan. Topiknya tidak beranjak dari soal menikah dan perjodohan. Padahal, bagi Indah, profesional di bidang periklanan itu, menikah menjadi tujuan utama. Selama belum ketemu the right man, kenapa juga harus dipaksakan. “Lagi pula, persoalan hidup tidak cuma menikah atau tidak. Bahagia atau tidak bukan diukur dari statusnya,” ujarnya. 

Pendapat Indah memang tidak salah. Yang salah adalah ia hidup di Indonesia, di alam Timur yang masih menganggap bahwa setiap orang – terutama wanita, ketika usia cukup, harus menikah. Itu sebabnya di KTP Indonesia, kolom status biasanya diisi dengan “kawin” atau “belum menikah” – yang masih diharapkan kelak akan menikah. Tidak dikenal kata “tidak menikah”. 

Dengan kata lain, hidup melajang di Indonesia masih dianggap tabu. Kalau tidak mana mungkin ada iklan rokok yang tagline-nya “Kapan kawin? Kapan-kapan”. Seakan melengkapi iklan satire tersebut, Agus Ringgo, bintang iklan tersebut yang tampangnya lucu hanya menjawab, “Mei!” Tapi ada terusannya, “Maybe not, maybe yes!” 

Itu pula yang terjadi pada Boyke Johan. Tapi bukan lantaran takut putus cinta dan dikecewakan pasangan kalau di usia 36 tahun, ia masih terlihat menikmati kesendiriannya. Kesibukan dan aktivitasnya yang padat menjadi fokus utama Boyke sebelum akhirnya kelak serius mengarahkan hatinya ke jenjang pernikahan. “Saya orangnya perfeksionis, termasuk untuk urusan jodoh. Dari awal kalau ada hal-hal yang memang terlalu jauh dari prinsip saya, buat apa diteruskan? Nantinya malah bisa jadi masalah,” ujarnya santai.

Di tengah relasi dan pertemannya ia tetap mencari wanita yang bisa menjadi tambatan hidupnya kelak tapi tanpa target waktu. “Untuk umur segini, yang saya pikirkan adalah mencari untuk yang pertama dan yang terakhir. Harus yang benar-benar serius,” tambah pria yang pernah berpacaran sepuluh kali ini. 

Pernyataan yang klise memang. Tapi Boyke tidak sendiri, tidak sedikit jomblo berkualitas, selain fisiknya yang oke, pekerjaannya yang mapan, serta uangnya yang berlimpah, tapi seret jodoh. “Ada sebagian eksekutif lajang tidak memiliki waktu untuk berpikir ke arah mencari pasangan, apalagi mereka yang tinggal di kota besar. Waktu mereka dihabiskan untuk bekerja,” Farina Arsita, psikolog keluarga dari RS Dr. Oen Surakarta memberi analisis, seperti dikutip Bisnis Indonesia.

Faktanya memang para lajang eksekutif ini kebanyakan tidak punya banyak waktu untuk mencari pasangan hidup karena sibuknya bekerja. Selain itu, sebagian eksekutif lajang ini mengaku takut salah pilih pasangan. Kurang serasi, tidak satu visi, hingga tidak cocok secara kepribadian, menjadi alasan utama para lajang untuk selalu menunda mencari pasangan. “Akhirnya banyak di antara mereka memutuskan tidak menikah hingga mereka tidak sadar usia sudah tidak lagi muda,” ujar Arsita lagi.

Novelis kondang Ayu Utami yang masih melajang di usia 40 mempunyai pandangan yang menarik terhadap status lajang. Menjadi lajang, katanya, bukan waktu tunggu ke pernikahan. Itu masalah pilihan, bukan suatu hierarki. ”Saya juga baru menyadari bahwa banyak orang lajang bukan karena nggak laku, tapi karena memang belum mau,” katanya.

”Menikah adalah satu hal, dan menjadi lajang adalah hal yang lainnya,“ tambah penulis novel Saman, Larung, dan Bilangan Fu itu. 

Sang Pemimpi dari Belitong

0

Berkat novelnya Andrea Hirata bisa menjadi ikon baru di industri kebudayaan pop Indonesia. Tapi pemuda yang memilih hidup sebagai single ini enggan disebut sebagai selebriti. Kendati clubbing, minum wine, “saya tetap orang kampung,” katanya. (Burhan Abe

Tak pelak lagi, Andrea Hirata adalah penulis paling populer saat ini. Novelnya, Laskar Pelangi, yang bercerita tentang perjuangan sepuluh anak kampung dalam meraih cita-cita, seolah memberi setitik kesegaran di tengah-tengah dahaga pembaca terhadap karya-karya berkualitas. 

Laskar Pelangi adalah fenomena. Novel yang pertama kali diterbitkan Bentang, Yogyakarta, September 2005, tidak hanya menjadi best seller (Mei 2008 memasuki cetakan ke 22), tapi ikut melejitkan nama penulisnya bak selebriti yang kehadirannya selalu ditunggu-tunggu. Dalam setahun tak kurang dari 200 acara yang harus ia hadiri, baik sebagai pembicara dalam bedah buku atau pun sekadar “jumpa fans”. 

Andrea sendiri tidak pernah menyangka, sambutan publik atas novelnya begitu tinggi. Padahal, ”Saya menulis buku itu hanya sekadar mencurahkan isi hatinya tentang perjuangan guru saya semasa saya bersekolah di SD Muhammadiyah, Belitong Timur, Bangka Belitung,” ujar anak kelima dari pasangan Seman Said Harun Hirata dan Masturah ini.

Siapa nyana, novel yang mungkin tidak akan pernah sampai ke tangan pembaca jika tidak ada seorang temannya yang diam-diam mengirimkan karyanya ke sebuah penerbit ini, nyatanya memang mendapat tempat di khasanah sastra Indonesia, sekaligus sukses secara bisnis. 

Tapi tentu, tak adil jika kelarisan novel ini disebut hanya karena faktor keberuntungan semata. Pujian dari sejumlah kalangan di atas sudah menjadi bukti bahwa novel ini sanggup meninggalkan kesan yang mendalam di benak para pembaca.

”Saya larut dalam empati yang dalam sekali. Sekiranya novel ini difilmkan, akan dapat membangkitkan ruh bangsa yang sedang mati suri,” komentar Ahmad Syafi’i Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah.

Pujian lain datang dari Sapardi Djoko Damono, sastrawan dan Guu Besar Fakulas Ilmu Budaya UI. ”(Buku ini adalah) ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, yang menjawab inti pertanyaan kita tentang hubungan-hubungan antara gagasan sederhana, kendala, dan kualitas pendidikan.” 

Komentar memang bisa datang dari mana saja, apalagi kenyataannya tulisan Andrea tidak sekadar pengalaman masa kecil, tapi sebuah memoar yang sulit dicari tandingannya dalam khasanah sastra kontemporer saat ini.

Tidak heran kalau buku ini pun ramai diperbincangkan, diresensi, diulas di berbagai milis, dan akhirnya laris manis di pasaran. Buku ini bahkan sudah diterjemahkan dalam bahasa Melayu dan diterbitkan di sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Myanmar. Dan tak lama buku Laskar Pelangi akan diterbitkan di Eropa dan Amerika Serikat, tentu dalam terjemahan bahasa Inggris.

Mimpi Backpacker 

Tidak berhenti pada novel ternyata, Laskar Pelangi kini masuk ke industri film, yang tentu mempunyai potensi sebagai film laris. Film yang diproduksi Miles Production dengan sutradara Riri Riza ini sound track-nya digarap dan dinyanyikan ramai-ramai oleh para musisi top saat ini – mulai dari Ipank, Nidji, Sherina, hingga Gita Gutawa.