Home Blog Page 103

Perawatan Jiwa dan Raga

0

Masyarakat menengah ke atas yang menjalani hidup di kota besar pada umumnya telah sadar akan perawatan tubuh secara holistik, jiwa dan raga, sebagai pengimbagan aktivitas rutin lainnya. Bukan sekadar spa yang mereka butuhkan, tapi tempat yang mampu memberikan instant refreshment. “Bukan hanya sekadar memijat tubuh, tetapi tempat relaksasi yang dapat memberi rasa ketenangan dengan produk, serta pelayanan yang prima,” jelas Indira Budiati, Direktur Utama Zen Living.

Zen Living yang berdiri empat tahun lalu, kata Indira, adalah pelopor aromatherapy reflexology di Indonesia yang untuk kelas premium. Pelayanan yang ditawarkan adalah; 1) Relaxation reflexology, yakni aromaterapi dengan suatu kesatuan interior yang nyaman seperti layaknya first class cabin suatu penerbangan; 2) Stoneage foot treatment, perawatan kulit kaki dengan lumpur dan pasir yang dilengkapi dengan pijat relaksasi yang menggunakan batu panas; 3) Hand neuro reflex, terapi yang difokuskan pada daerah tangan, lengan, dan bahu; dan 4) Normobaric, atau terapi hirup oksigen murni. Terapi ini dikerjakan bersamaan dengan pemihatan refleksi pijat refeksi sehinga tercipta relaksasi yang menyeluruh.

Pelayanan serupa, khususnya terapi hirup oksigen, rupanya tidak hanya dilakukan di spa treatment, tapi juga di klinik-klinik kesehatan, seperti Stanford. Klinik yang berlokasi di Jalan Heng Lekir Raya 9, Kebayoran Baru, Jakarta itu memperkenalkan terapi ozone, yang konon bermanfaat untuk mengoptimalkan organ tubuh, sehingga mempunyai fungsi untuk membuat awet muda.

Pengobatan ozon ini diperoleh dari suatu proses oksigen murni yang dialirkan melalui generator listrik. Ozone sendiri adalah jenis gas yang sangat reaktif dan tidak stabil dengan masa hidup yang sangat pendek (20-30 menit) sebelum kembali menjadi oksigen.

Bila disuntikkan ke dalam peredaran darah sangat bermanfaat untuk perbaikan peredaran darah dan oksigenasi jaringan tubuh, terutama bagi penderita kencing manis, gangren dan bagi orang yang pembuluh darahnya mulai mengalami pengerasan (sclerosis), penderita dengan kelumpuhan badan, vertigo, penyakit jantung koroner dan kesemutan pada kaki atau tangan.

Pendeknya, perawatan jenis apa pun kini sudah bisa dilakukan, oleh pria maupun wanita. Teknologinya pun tersedia, mulai dari penggunaan laser hingga alat-alat operasi ala kedokteran. Jakarta Skin Centre, misalnya, memanfaatkan teknologi laser. Klinik yang didirikan putri mantan wapres Sudharmono pada 1993 itu menawarkan sekitar 15 pelayanan medis untuk kulit, di antaranya dermatologi, bedah laser, bedah kulit, injeksi kolagen, suntik botox, bedah plastik, hingga liposuction alias sedot lemak.

Sementara Impressions, yang dulu hanya dikenal sebagai klinik perampingan tubuh, kini membuka pelayanan khusus untuk pria, yang disebut men’s health centre. Klinik utamanya di Jakarta juga mempunyai fasiliats mesin IPL (Intense Pulse Light) dari Lumenis/Spectron Cosmetic Ltd, Inggris dan LHE (Light Heat Energy) Skin Station dari Radiance Inc, AS. Perawatan yang ditawarkan, antara lain, mengatasi dermabrasi, skin rejuvenation, menghilangkan jerawat, serta membantu menghilangkan bekas tato, bercak-bercak atau cacat di kulit.

Kepedulian akan kesehatan dan penampilan yang lebih oke, dan terutama naiknya penghasilan sebagian masyarakat, terutama lapisan atas, agaknya yang ikut menumbuhsuburkan klinik-klinik kecantikan. Seakan memanfaatkan eforia ingin tampil sempurna bak selebriti, para pemilik klinik pun tidak segan-segan mengembangkan inovasi dan gimmick pemasaran untuk merayu kalangan kelas tersebut.

Jadi, sebaiknya jangan bingung istilah-istilah yang aneh dalam perkara perawatan tubuh. Bahkan, setelah perawatan spa (saulus per aqua), yang arti sebenarnya adalah “mencari kesehatan dari air” ngetren, ada istilah serupa untuk perawatan gigi, juga untuk rambut yang disebut hair spa. Juga ada klinik yang memberikan embel-embel “butik”.

Menambahkan istilah khusus untuk mendekatkan ke gaya hidup tertentu memang sah-sah saja. Apalagi hal itu bisa menjadikan lebih eksklusif dan bisa “menaikkan” harga. Harga perawatan rambut ala hair spa di salon tertentu, misalnya, tarifnya pasti lebih mahal ketimbang keramas atau creambath biasa. Demikian pula dengan tarif di klinik biasa, tentu berbeda dengan di klinik yang berkategori butik.

Memindahkan Resor ke Rumah

0

SPA kini cenderung menjadi ikon gaya hidup masa kini. Tidak hanya sebagai fasilitas publik, tapi harus kehilangan eksklusivitasnya, tapi perkembangan selanjutnya, rumah-rumah pribadi platinum society pun kini melengkapi fasilitasnya dengan spa, yang lebih mempunyai privacy.

Spa, singkatan dari saulus per aqua, dalam bahas Latin berarti “mencari kesehatan dari air”, tapi kemudian berkembang menjadi seni relaksasi yang berkembang ke seluruh dunia. Tidak terlalu sulit untuk mencari lokasi untuk berspa ria di Jakarta, juga kota-kota besar lain di Indonesia. Tidak hanya tempat yang benar-benar mengkhususkan diri sebagai spa. Beberapa sport centre pun ada yang memiliki fasilitas spa, mulai dari penyediaan whirpool air panas dan dingin, ruang sauna, ruang steam (uap), termasuk pemijatan dengan aromaterapi.

Tapi spa di rumah? Inilah yang mulai marak di Jakartra. Memang tidak menjadi tren massal. Tapi kita mulai tidak sulit menemui rumah-rumah mewah yang memiliki fasilitas spa. Ada yang merupakan bagian pengembangan kamar mandi, misalnya menjadikan salah satu bathtub-nya sebagai whirpool yang bisa menyemburkan air dan “memijat” penggunanya. Ada yang memang sejak awal mereka mendesain tempat spa mewah tersendiri, bisa bergaya modern, bisa juga dengan sentuhan etnik dengan tema “back to nature”. Lengkap dengan ruang sauna dan kamar uap.

Memang, home spa di Indonesia tergolong baru. Tidak seperti di Finlandia, misalnya. Rumah di negara yang mempunyai empat musim itu kebanyakan mempunyai ruang sauna sendiri. Di Belgia, yang konon tradisi spa berasal. pada musim dingin penduduknya mencari pusat-pusat air panas untuk berendam dan menghangatkan tubuh. Pada perkembangan selanjutnya orang membuat pool sendiri di rumah yang pemanasannya memakai energi batu bara, kemudian listrik ketika listrik ditemukan. Tidak hanya kolam, seni spa ini kemudian berkembang dengan atribut pendukungnya, seperti whirpool, ruang sauna, dan seterusnya.

Sementara di Jepang, fasilitas whirpool – lebih populer dengan sebutan jacuzzi, menjadi bagian penting bagi rumah. Memang, selain sebagai fasilitas pribadi, sebuah perkampungan tradisional di Negeri Sakura itu biasanya mempunyai fasilitas mandi umum untuk penduduknya – yang dalam kehidupan modern dikenal dengan spa.

Wirianto, arsitek lulusan Universitas Tarumanagara, Jakarta, merasa bahwa dengan membangun spa di rumah salah satu alasannya karena masalah kemacetan di Jakarta. “Kami tidak perlu keluar rumah untuk menikmati spa. Tidak perlu antre, juga tidak perlu bayar,” katanya.

Ayah dua anak ini sengaja membangun rumahnya dengan gaya tropis minimalis. Fasilitas kamar mandinya, yang dikembangkan menjadi spa, terbagi dua; indoor dan outdoor.

Di indoor dinamakan master bathroom, ada bathub besar yang bisa menampung dua orang dengan gaya klasik, dua wastafel yang mejanya bertabur batu kali yang senada dengan ubinnya, dengan nuansa tropis minimalis. Kesan natural didapat dengan menambahkan semacam air terjun yang mengalir di samping bathub tersebut dan menyirami pohon jenis alang-alang di bawahnya.

Di pojok ruangan tersebut ada tempat mandi biasa dengan shower yang digunakan sehari-hari. Juga dilengkapi dengan pesawat televisi agar tidak ketinggalan berita terbaru atau hiburan. Sementara untuk outdoor terdapat jacuzzi atau whirpool. Ada paviliun untuk tamu, kursi santai, meja biliar, serta arena bermain anak-anak.

Yang unik, fokus pandangan semua ruang (termasuk ruang TV, keluarga, tamu, bahkan dapur kering) mengarah pada jacuzzi yang ada di ruang dalam yang terbuka. Bila malam tiba lampu temaram akan mengarah ke jacuzzi yang dikelilingi obor. Di ruang atas juga ada kursi santai menghadap barat sehingga bisa menikmati sunset sambil memperhatikan anak-anak yang berenang di bawahnya.

Bagi Wirianto, rumah bukan hanya untuk istirahat badan tapi juga istirahat jiwa. “Jadi kami berusaha membawa kualitas resor ke dalam rumah. Sehingga berada di rumah itu benar-benar bisa nyaman. Karena setelah penat bekerja, apalagi kalau saya sedang lembur dan bisa seharian berkutat dengan pekerjaan, maunya kan bisa rileks agar bisa segar kembali,” ujar Direktur PT Arsicon Wiratama, perusahaan yang bergerak dalam bidang arsitektur itu.

Menguja Rasa, Meramu Nikmat

0

Maraknya home spa di Indonesia sekitar tahun 2000-an. Begitu menurut pengamatan Aditya Indrajaya, Pemilik Gran Odiseus Fitness & Spa, yang tersebar di beberapa lokasi. Hal ini didorong oleh tuntutan global masyarakat dunia, terutama di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika yang menginginkan bisa menikmati spa dalam kehidupan sehari-hari. Dan, itu tidak cuma mereka mendatangi pusat spa yang tersebar di sejumlah tempat, tapi juga bisa melakukannya sendiri di rumah sendiri.

Hal ini juga melanda ke Indonesia di mana sebagian orang, terutama kalangan premium, untuk membangun spa di rumahnya sendiri. Tuntutan global itu juga berimbas kepada semua fasilitas akomodasi seperti hotel, cottage, penginapan, tempat rekreasi, dan lain-lain, sehingga hotel yang ada dituntut untuk menyediakan fasilitas spa. Bahkan fasilitas spa sendiri berkembang mengikuti perkembangan zaman.

Nusa Dua Spa, misalnya, untuk menyebut contoh, semula hanya bagian dari health centre yang menyediakan massage service. Tapi dalam perkembangannya, karena potensi pasar semakin besar, unit bisnis ini diubah menjadi spa centre.

Dalam memberikan jasanya spa centre yang berlokasi di Nusa Dua, Bali itu membagi dua jenis, wet spa dan spa treatment. Yang pertama bisa dilakukan sendiri, yakni berendam di whirpool, masuk ke ruang sauna dan uap. Sedangkan kedua berkaitan dengan pelayanan, meliputi pemijatan, lulur dan perawatan muka.

Tren maraknya home spa juga dibenarkan Serlie Tjandra, Assistant General Manager Hal Mar Sanitary. Trennya sekitar lima tahun terakhir ini. Permintaan akan peralatan spa dalam kurun waktu tersebut, seperti bathub maupun mesin spa untuk whirlpool, terus meningkat. Kalau dulu spa hanya dipunyai hotel dan spa centre, kini sudah merambah ke rumah-rumah tangga.

”Penjualan perlengkapan spa produk Hal Mar, misalnya, tumbuh sekitar 10-20 persen per tahun,” katanya.

Serlie menyebut tiga peralatan utama dalam spa. Yakni, whirpool, yang befungsi sebagai hydrotherapy, menghasilkan tekanan air dalam bak mandi (bathtub), yang mampu memperlancar peredaran darah, menghilangkan rasa letih sehingga tubuh menjadi segar kembali. Air dalam bak mandi jadi ada arusnya serta gelombang, karena ada tekanan air yang dihasilkan dari whirlpool. Tekanan keluar dari sepanjang sisi bak mandi.

Berikutnya adalah airpool, dipasang pada dasar bathtub. Gelembung udara yang dikeluarkan mini jet mengenai bawah paha sehingga tekanan gelembung tersebut mampu menstimulasi sel kulit yang sudah waktunya berganti. Dengan demikian sel kulit baru akan tumbuh dan kulit menjadi halus kembali.

Yang ketiga, aqualight, terdiri dari 12 macam pilihan warna cahaya, warna yang dihasilkan berfungsi sebagai stress therapy, misalnya biru merangsang konsentrasi dan kreativitas, mengurangi selulit dan kegemukkan; hijau untuk terapi relaksasi, memberi ketenangan; merah merangsang memperlancar sirkulasi darah, dan sebagainya.

Gabungan dari ketiga alat tersebut disebut spa. ”Namun, tren yang ada sekarang bukan kombinasi dari ketiga alat, tapi lebih memprioritaskan alat whirlpool. Kalau sudah punya alat whirlpool, maka sudah disebut spa. Sedangkan airpool dan aqualight dianggap sebagai aksesorisnya,” kata Serlie.

Memanjakan Mata dan Telinga

0

Tren pemakaian hi-fi makin meningkat di kalangan para eksekutif. Mereka rela merogoh koceknya lebih dalam demi mendapatkan kenikmatan audio visual dari peranti sound system masa kini dan perangkat home theater mutakhir. (Burhan Abe)

Kesempurnaan. Agaknya itulah yang selalu dicari para hi-fi mania. Istilah hi-fi sendiri berasal dari kependekan high fidelity audio visual entertainment. Maksudnya perangkat audio visual yang sangat peka dan mampu mereproduksi dan memancarkan suara yang sangat jernih dan bebas noise. Tidak ada kresek-kresek, tidak ada dengung, untuk visualnya tidak ada bintik-bintik, dan mampu menayangkan gambar terang maupun gelap dengan sangat baik.

Demi kesempurnaan itu pula yang membuat Francis Wanandi rela melakukan perburuan yang panjang untuk mendapatkan peralatan hi-fi di rumahnya. Direktur pemasaran sebuah perusahaan distribusi itu memang bukan muka baru sebagai penikmat audio video.

Sejak semasa SMU dulu, awal tahun 1980-an, Frans memang sangat hobi mendengarkan musik dan menonton film. Pada waktu itu sistem audio yang ada baru radio dan tape atawa pemutar kaset. “Saya juga punya piringan hitam, tapi itu jarang digunakan karena tidak praktis. Waktu itu juga belum ada yang namanya compact disc atawa CD,” kenangnya.

Sekarang, seiring dengan perkembangan teknologi di bidang audio, mulai bermunculan berbagai audio system yang ada, mulai dari piringan hitam, CD, dan terakhir DVD audio, format audio baru yang memiliki kualitas musik suround yang berbasis teknologi digital.

Begitu juga untuk sistem audio visual, mulai dari pita kaset (dulu namanya VHS Betamax, atau film video), berkembang menjadi laser disc, VCD MP3, hingga DVD video. Untuk pesewat televisi, berawal dari layar kaca cembung, flat, hingga tipe plasma yang bahannya menggunakan gas neon xebib di antara dua pelat kaca tipis, sehingga mampu mengeluarkan gambar yang sangat sempurna.

Perangkat untuk audio pun juga berkembang, mulai dari speaker, amplifier, equalizer, sampai dengan perangkat yang berfungsi memecah atau membagi suara. Kualitas suara pun makin lebih bagus. Inilah yang kita sebut sebagai era hi-fi. “Kita mendengarkan lagu seolah-olah kita berada di hadapan penyanyi, begitu jernih, dan transparan,” ujar Frans yang mengaku sudah mengeluarkan Rp 250 juta untuk menjalankan hobinya ini.

Harga perangkat hi-fi, apalagi yang mutakhir, memang tidak murah. Untuk peralatan high end bagi penggemar musik kelas berat, misalnya, yang terdiri dari pemutar CD, amplifier, serta speaker, harganya berkisar Rp 30-70 juta, tergantung merek serta kemampuannya.

Jika mengambil speaker merek Mordaunt-Shout MS914, misalnya, yang harganya Rp 4,3 jutaan cukup mampu menghasilkan sound yang berat namun dinamis. Tapi kalau kita memutuskan membeli speaker yang lebih mahal, sebutlah Quad 12l seharga Rp 7,8 jutaan niscaya suara yang dihasilkan pasti lebih yahud; ringan, detil, dinamis, transparan, dengan kedalaman suara bas yang luar biasa. “Ibaratnya, desah dan nafas seorang saksofonis pun terdengar jelas,” ujar seorang audiophile – sebutan untuk pecinta audio kelas berat.

Memang, buat audiophile, yang mereka cari bukan sekadar tonal harmony distortion biasa, yang sudah tersedia dalam perangkat hi-fi umum. Tapi reproduksi suara tengah yang natural yang tanpa kolorasi, terutama pada suara vokal manusia – mirip mendengar orang menyanyi di sebelah kita. Sementara untuk musik, nada basnya rendah, dalam, bulat, dan ketat, tanpa distorsi, bebas dari suara boxy dan boomy. Nada tingginya detil, jernih, seakan-akan tidak membebani telinga. Meski mendengar lebih dari lima jam, tapi tidak melelahkan.

Lalu, berapa dana yang dibutuhkan untuk membangun home theater? Tjandra Ghozalli, Pemimpin Redaksi Audio Video, membagi atas tiga kelas. Pertama, kelas A, dengan ruangan home theater yang harganya Rp 5 jutaan per meter persegi. Kelas B yang harganya Rp 4 jutaan per meter persegi. Dan kelas C yang harganya Rp 3 jutaan per meter persegi. “Jadi, kalau mau bikin ruangan kelas C seluas 4 x 6 m2, maka harga set up-nya sekitar Rp 72 juta,” katanya memberi contoh.

Itu baru ruangan berikut interior saja, belum termasuk kursi – yang biasanya cukup mahal (sekitar Rp 20 – 40 juta per biji), karena didesain untuk tidak untuk sekadar duduk tapi rebahan, plus ada tempat untuk menaruh minuman. Pendeknya dibuat senyaman mungkin, tidak kalah dengan Bioskop 21.

Bermainlah Golf Hingga ke Negeri Kangguru

0

Banyak pilihan berlibur, salah satunya adalah bermain golf. Tidak asal bermain golf tentu saja, tapi sekalian berwisata, yang sering juga disebut golf tour. Banyak agen travel yang membuat paket ini sebagai pilihan berwisata, tapi tidak sedikit yang para eksekutif yang berinisitaif sendiri untuk melakukannya, baik berombongan dengan teman-temannya atau pun pergi sendirian – yang tentu saja di tempat tujuan sudah ada temen-temennya yang menunggu.

“Bukan golfnya saja yang asyik, ketika off the court pun tidak kalah menariknya,” ujar seorang bankir yang berkantor di bilangan segitiga emas Jakarta.Bisa dimaklumi, apalagi lapangan golf yang dikunjungi pun yang kelas satu, bisa berlokasi di Singapura, Melbourne, Perth, atau pun lapangan golf di kota-kota dunia lainnya. Sebetulnya pilihan di dalam negeri pun tidak menariknya bagi orang Jakarta, misalnya lapangan-lapangan golf di Bali, Batam, Pulau Bintan, dan lain-lain.

Wisata golf memang tidak sekadar urusan olah raga, tapi lebih sophisticated. Ada urusan sportivitas, ada urusan bisnis – kendati dalam masa liburan, ada juga urusan untuk bersenang-senang. Sisi yang menarik dan menjadi tantangan bagi setiap golfer adalah ketika menemui lapangan baru, sebab mau tidak mau pegolf harus bisa menaklukkan lapangan baru tersebut kalau ingin mendapatkan nilai tinggi. Itulah yang diceritakan Nunus Oetomo, pemimpin kelompok band Flash Black yang mempunyai hobi menjelajah lapangan baru.

Pemenang berbagai kejuaraan dan turnamen golf di tanah air itu tidak hanya menjajal lapangan golf domestik, tapi sering mencari tantangan baru ke luar negeri. Bisa berenam atau berdelapan dengan teman-temannya. Australia adalah salah satu destinasi yang disukai. Selain pemandangannya indah, jenis lapangannya juga unik. “Pernah saya berjalan di lapangan seluas sembilan kilometer persegi. Panas terik tak terhiraukan, apalagi saya bisa mendapat score tinggi,” ungkapnya.

Pengalaman exciting juga diungkapkan Bambang Irawan, pria berkacamata yang sering menyelenggarakan turnamen golf. Bermain di Joondalup Country Club, Australia Barat, adalah peristiwa yang tak terlupakan. Betapa tidak, ketika mengayunkan stik dalam kesejukan udara, tiba-tiba di pinggir fairway berdiri sekelompok kanguru seakan menyaksikanpermainan para pegolf yang sedang unjuk kelihaian lapangan golf 27 holes ini.

Golf course rancangan Robert Trent Jones Junior ini terbagi dalam tiga bagian keunikan karakter masing-masing; Quarry, Lake, dan Dune, masing-masing terdiri 9 lubang. Pada hole ke 3 par 3 di bagian Quarry, misalnya, memiliki keunikan yang cukup menantang. Untuk bisa secara tepat menjatuhkan bola dari tee box yang berjarak 137 meter ke green harus mampu melewati semacam lembah. Jika pukulan meleset niscaya bola akan jatuh ke jurang sedalam 40 meter tersebut.

Yang jelas, keelokan dan keasrian alamnya sekaligus memiliki hole yang sangat menantang, menjadikan lapangan golf ini banyak diminati pegolf asal Indonesia. Lagi-lagi, lapangan golf yang sering disebut sebagai The Whole In One – karena fasilitasnya yang lengkap dan berkelas – bukan sekadar tempat olah raga, tapi juga tujuan wisata, sekaligus tempat tetirah yang memberikan suasana damai dan asri.

Selain Australia, Singapura, karena lokasinya yang dekat dengan Indonesia, juga menjadi sasaran para eksekutif kita. Tidak hanya wisata belanja, negeri yang cuma seluas 682,7 kilometer persegi ini, juga mempunyai 15 lapangan golf. Salah salah satu golf course destination yang berkelas adalah Laguna National Golf & Country Club. Di sinilah berbagai turnamen golf dunia sering digelar, di antaranya Caltex Singapore Masters and Charity Pro-Am beberapa waktu yang lalu.

“Bagi pegolf yang berasal dari negara berhawa dingin, bermain golf di Singapura memerlukan stamina ekstra, dan tahan diterpa terik matahari serta suhu kawasan tropis yang berkisar antara 24-32 derajat Celsius. Tapi bagi orang Indonesia tentu tidak masalah,” cerita Bambang.

Tidak hanya pemandangan yang indah dan keistimewaan desain, lapangan golf tertentu ternyata ada yang menawarkan ‘keunikan’ lain. Di Taiwan, misalnya, ada lapangan golf course yang caddy-nya semuanya wanita. Yang seorang bertugas membawakan payung, seorang lagi membawakan perlengkapan golf, dan yang ketiga memijat penggung golfer. Para caddy tersebut konon lebih komersial dibandingkan di Indonesia. Bahkan tidak sedikit yang bersedia untuk diajak kencan atau sekadar menemani bobo siang. Wallahualam!

Berwisata golf tidak hanya membuat badan sehat, tapi juga menyenangkan dan membuat badan kembali rileks. Di lapangan golf kita bisa berolah raga, di luar lapangan tentu urusan masing-masing orang. (Burhan Abe)

Platinum Society Edisi 07

Fashion, Merek, dan Pencitraan

0

Penggemar fashion adalah kalangan atas, terbatas, tapi mampu menggerakkan industri yang rodanya bertumpu pada gaya hidup itu. Mereka, yang dikenal sebagai platinum society menyikapi produk fashion tidak sekadar benda tapi juga status sosial. “Percaya atau tidak, barang-barang bermerek yang dipamerkan di toko ini, dalam dua hari saja bisa ludes. Apalagi kalau ada limited edition, malah bisa jadi rebutan,” ujar Dewa Ayu Teguh Mahasari, penulis Plaza Indonesia News.

Padahal, sebutlah sepasang sepatu merek Sergio Rossi harganya Rp 5,9 juta. Dewa Ayu yang sehari-harinya mengamati perkembangan penjualan produk-produk branded fashion di Plaza Indonesia, Jakarta ini juga percaya kalau tas Chloe model terbaru, terbuat dari kulit buaya yang dipamerkan pada peluncuran koleksi musim semi dan panas 2005 itu akan menjadi rebutan. Padahal, tas tangan handmade yang di dunia hanya diproduksi empat buah ini harganya Rp 97 juta!

Niscaya bukan Jakarta Big Bang! Apa pun yang dijual di Ibu Kota, termasuk produk terbatas seperti contoh di atas pasti ada pembelinya. Begitulah kelas atas, yang dikenal sebagai platinum society menyikapi produk fashion tidak sekadar benda tapi juga status sosial. Bukan bendanya itu sediri tapi pencitraan yang melekat menyertainya.

Fashion is all about personal style. Fashion bukan seragam yang keluar dari pabrik, demikian Ria Juwita, General Manager Retail, Lolita Lempicka. Hanya saja, untuk kasus di Indonesia yang industri fashionnya masih muda, pengikut modenya belum berani mengekspresikan diri secara bebas. Akibatnya, kalau mau bergaya, mereka melihat dulu tetangga atau komunitasnya. Maka, tak heran kalau high society di Jakarta dicerminkan oleh-ibu-ibu dengan rambut sasak tinggi menenteng tas Hermes. Jadi, status sosial di Indonesia ditentukan oleh merek yang dipakai.

Jangan heran kalau ada seorang wanita pengusaha atau ibu-ibu kaya setiap bulannya bisa membelanjakan uangnya lebih dari Rp 50 juta produk-produk international branded fashion, yang butiknya sudah ada di Jakarta. Komunitas mereka, dengan profil yang digambarkan di atas, tidak sedikit meski juga tidak besar. Contoh yang paling mendekati mungkin seperti yang digambarkan dalam film Arisan, yang anggotanya selalu memakai busana dan aksesoris mahal mode terbaru.

Dewa Ayu tidak melebih-lebihkan cerita tentang kegilaan belanja kaum platinum Ibu Kota tersebut. Ninik Puspitasari, pejabat PR Pedder Group di Indonesia, bahkan mengamini pengamatan Dewa Ayu tersebut. Menurut Ninik, kalau ada produk baru, para pelanggan setianya akan selalu menyempatkan diri mampir ke tokonya untuk melihat-lihat. Kalau ada yang cocok, pastilah mereka membeli. Tidak peduli berapa pun harganya.

Maka jangan heran kalau Sarah Leung, Marketing Communications Coordinator Pedder Group yang memegang 20 merek ternama di dunia—antara lain Dolce & Gabbana, Jimmy Choo, Rene Caovilla, Car Shoe, Balenciaga, Chloe, Giuseppe Zanotti, Helmut Lang, Luella, Marni, Mulberry, Marc Jacobs, Stella McCartney, Anya Hindmarch, dan Sergio Rossi—mengatakan bahwa Jakarta adalah pasar yang sangat prospektif bagi produk-produknya. Karena itu, setelah satu tahun melakukan tes pasar di sini, Pedder Group memutuskan berkonsentrasi penuh menggarap pasar Jakarta dengan memperbesar gerainya di Plaza Indonesia. Dalam masa tes pasar itu, menurut Sarah Leung, penjualan tokonya 50% lebih tinggi dari target awal!

Ninik tahu banget bagaimana memasarkan produk fashionnya di Jakarta. Kuncinya terletak pada pelayanan serta pendekatan personal kepada pelanggannya. “Kami harus tahu taste masing-masing pelanggan,” katanya di sela-sela peluncuran koleksi musim semi 2005 akhir April lalu – padahal di Indonesia hanya mengenal dua musim, hujan dan kemarau.

Photo by Alexi Romano on Unsplash

Untuk mengenali selera pelanggannya, On Pedder memiliki customer databased yang direkam dari setiap transaksinya. Berdasarkan databased itu, lanjut Ninik, On Pedder bisa menawarkan produk baru yang kemungkinan cocok dengan selera mereka. “Kami akan menelepon untuk menginformasikan produk baru itu. Kalau tertarik, mereka akan datang ke toko. Dan biasanya kalau cocok, barang akan langsung dibawa pulang.”

Selain lewat penyampaian informasi secara langsung melalui telepon, kata Ninik, informasi produk baru juga dilakukan lewat penyelenggaraan customer event—berupa trunk show—dan press event dengan mengundang wartawan sejumlah media. Tidak hanya itu, kampanye produk baru juga dilakukan lewat kerjasama dengan media—berupa peminjaman barang untuk keperluan pemotretan di halaman mode.

Hidup Mewah di Apartemen Mewah

0

Apartemen-apartemen mewah mulai bermunculan di Jakarta. Kebutuhannya memang ada, karena tinggal di rumah vertikal di tengah kota bagi penduduk metropolitan agaknya mulai menjadi pilihan. Apa sebenarnya yang mereka cari? Prestise, kepraktisan, atau sudah menjadi bagian dari gaya hidup

Home is a name, a word, it is a strong one; stronger than magician ever spoke, or spirit ever answered to, in the strongest conjuration. Charles Dickens (1812 – 1870).

Rumah memang penting, seperti yang diungkapkan novelis Inggris di atas. Tapi rumah kini agaknya bukan sekadar tempat tinggal. Bagi kalangan berduit yang tinggal di kota-kota besar, hunian istimewa adalah hunian yang mempunyai fasilitas bintang lima, sekaligus praktis karena terletak di jantung kota. Dan itu hanya bisa didapat di apartemen mewah, yang belakangan bermunculan di Jakarta.

Asal tahu saja, apartemen berfasilitas bintang lima harganya kini harganya per unit berkisar antara Rp 1,2 miliar untuk tipe standar hingga Rp 7 miliar untuk tipe istimewa, misalnya penthouse. Namun, bagi platinum society harga bukan menjadi masalah benar kalau yang dicari adalah kemewahan sekaligus kenyamanan.

Itu pula yang manjadi pertimbangan Sonia Wibisono, dokter dan model iklan, ketika memutuskan untuk tinggal di Apartemen Casablanca, setelah menikah akhir tahun 2002. Mereka menempati unit berkamar tiga, tepat satu lantai di bawah penthouse. “Waktu baru dibuka, apartemen ini termasuk yang paling bagus dibandingkan apartemen seangkatannya. Lagipula lokasinya strategis, kemana-mana dekat,” ujarnya memberi alasan.

Bagi pasangan super sibuk dengan kehidupan metropolitan macam Sonia dan suaminya, tinggal di apartemen terasa lebih nyaman. Di samping tak perlu waktu banyak untuk mengatur ruangan yang tak seberapa luas, semua urusan menjadi lebih gampang karena tersedia pelayanan 24 jam layaknya hotel. “Kalau ada apa-apa kami tinggal telepon ke bawah. Teknisi akan datang setiap saat,” tambahnya.

Dengan kondisi seperti ini, Sonia menghitung living cost di apartemen justru relatif lebih rendah dibandingkan jika menghuni rumah tinggal. Tinggal di apartemen juga terasa simpel karena dilengkapi dengan enaka fasilitas yang sangat memadai. Minimarket yang buka mulai jam 7 pagi hingga 10 malam di lantai bawah, cukup memenuhi kebutuhan harian.

Selain itu tersedia kolam renang, fitness centre, tempat pijat, video rental, serta parkir bersama. Berbeda dengan tinggal di rumah, Sonia juga tidak perlu ketar-ketir kalau mau pergi ke mana pun, karena faktor keamanan sangat terjamin.

Tidak hanya Sonia tentu saja. Bagi para eksekutif sibuk, single maupun yang sudah berkeluarga, tinggal di apartemen adalah pilihan yang tepat. Di tengah kehidupan modern yang selalu dinamis dengan mobilitas tinggi, apartemen yang berlokasi di tengah kota juga mempunyai akses mudah menuju pusat bisnis, perbelanjaan, dan hiburan, juga menjawab kebutuhan akan hunian yang strategis dengan segala kemudahan dan kenyamanannya.

Peluang itulah yang dimanfaatkan para pengembang untuk berlomba-lomba membangun apartemen. Panangian Simanungkalit, konsultan properti dari Panangian Consulting Group, melihat apartemen merupakan sebuah fenomena setahun terakhir ini. Kalau pada kurun waktu 1980-2000 jumlah apartemen 25.000 unit – atau hanya tumbuh 1.250 unit per tahun. Maka, pada lima tahun berikutnya, 2000 – 2005 nanti, pertumbuhhannya sangat luar biasa, yakni 5.000 unit per tahun. “Ini angka yang menakjubkan,” komentarnya.

In Vino Veritas (1)

0

Minum anggur ada seninya. Pelajari sejarah dan seluk-beluknya agar kita bisa mengapresiasi secara benar.

In vino veritas, dalam anggur ada kebenaran. Begitu ungkapan yang populer di kalangan pecinta anggur. Rasa memang tidak pernah berdusta. Maka, agar kita bisa mengapresiasi dengan benar, ada baiknya mengenali lebih jauh seluk-beluk anggur.

Sejarah anggur atau wine ditulis sejak berabad-abad lalu. Para pedagang Eropa yang datang ke Tanah Hindia berabad-abad lalu membawa serta anggur di samping cerutu sebagai hadiah bagi saudagar di Batavia. Para saudagar muda Jakarta meniru jejak ini ratusan tahun kemudian.

Pada dasarnya, anggur terbagi menjadi tiga jenis: merah, putih dan rose. Ada juga sparkling wine yang masih termasuk varian anggur, atau yang di Prancis dikenal sebagai champagne — sesuai dengan nama daerah penghasilnya, Champagne — yang mengalami proses fermentasi dua kali. Rasanya lebih ringan, biasa dipakai untuk pesta, termasuk di arena balap F-1, yang bunyinya “pop” kalau sumbat botolnya dibuka.

Dari tiga jenis di atas, anggur masih terbagi lagi berdasarkan tahun panen, jenis varietas, bahkan mereknya yang mencapai ribuan. Prancis sering mengklaim diri sebagai penghasil anggur terbaik di dunia — berdasarkan tanah dan iklim yang spesifik di negara itu.

Bahkan, yang disebut terroir — gabungan antara struktur dan kandungan tanah tempat tumbuh pohon anggur, serta cuaca yang memengaruhi wilayah yang bersangkutan — sangat unik, tidak terdapat di negara lain.

Memang, sampai sekarang anggur yang paling populer berasal dari Prancis. Selain karena Prancis mengenal tradisi pembuatan anggur yang terlama, anggur Prancis mempunyai citra yang baik. Selain Prancis (khususnya dari daerah Burgundy, Boedeaux, Loire dan Rhone), sebetulnya anggur diproduksi oleh negara — sebutlah Australia, Italia, Amerika, Afrika Selatan — yang dikenal juga sebagai new world wine.

Yang terang, di alam global yang makin tanpa sekat, penikmat anggur sekarang tidak hanya monopoli Prancis, atau negara-negara produsen anggur yang lahir belakangan. Di mana pun kita mudah memperoleh anggur dari berbagai negara, dengan aneka merek dan jenis — Chardonnay, Semillon, Shiraz, Riesling, Pinot Noir, Cabernet, Sauvignon hingga Merlot.

Selain jenisnya, usia anggur juga menentukan kualitas anggur itu sendiri. Jika tertera angka tahun 1997, artinya panen anggur berlangsung pada tahun itu. Sebelum dipasarkan dalam kemasan botol, anggur sudah melalui beberapa proses, termasuk aging yang lama. “Semakin tua semakin bagus kualitasnya,” tutur Frantz Dumey, Manajer Merek Internasional Barton & Gaustier, merek anggur Prancis yang berdiri sejak 1725.

Sekadar mengingatkan, proses pembuatan anggur secara sederhana dibagi 8 tahap. Yakni, harversing (pemetikan), crushing (pengadukan), maceration (perendaman), fermentation (fermentasi), the 2nd fermentation (fermentasi lanjutan), aging (penyimpanan), blending (pencampuran), dan bottling (pembotolan).

Seni dan Ritual Mereguk Wine

0

Wine memang bukan minuman beralkohol biasa. Ada cara tertentu untuk menikmatinya, juga etiket tertentu sebagai social drink. Memang, banyak acara wine dinner digelar, seperti yang diadakan RISC, yang kita tinggal datang, makan dan minum anggur. Namun, manakala Anda menjadi tuan rumah, ada baiknya Anda mempelajari pernik-pernik yang kelihatan sepele tapi sangat penting artinya, bahkan menunjukkan kelas Anda.

Gelas, misalnya, tidak boleh sembarangan, karena bisa memengaruhi rasa anggur. Maka, jenis anggur yang berbeda disajikan dalam gelas yang berbeda pula. Anggur putih, sebagai contoh, umumnya dituangkan ke dalam gelas yang berbentuk tulip. Adapun gelas anggur merah ukurannya lebih besar, tambun, berfungsi meningkatkan anggur berkontak dengan udara. Sementara itu, sparkling wine atau champagne lebih cocok dengan gelas bertipe flute, yang memungkinkan Anda memandangi secara seksama gelembung yang bermunculan, sehingga keharuman aromanya dapat tercium secara bertahap.

Cara memegang gelas pun ada seninya. Yang lazim — bentuk apa pun gelasnya — adalah memegang bagian batangnya. Maksudnya untuk menghindari jari-jari yang tertempel pada dinding gelas yang bisa mengubah suhu wine.

Pada saat menuangkan anggur dari botol, arahkan langsung ke tengah gelas, sedangkan untuk sparkling wine harus dituangkan berlawanan dengan sisi untuk menjaga gelembung yang muncul. Pada saat menuangkan anggur, isilah gelas tidak lebih dari dua pertiga. Hal ini memungkinkan tamu Anda menggoyang isinya, mencium aroma, dan melihat warnanya.

Dalam jamuan makan malam, sajikan wine kepada wanita didahulukan, juga tamu yang lebih tua, kemudian pria, dan Anda yang terakhir. Selama acara berlangsung, botol wine biasanya terletak di sisi kanan tuan rumah.

Lalu, bagaimana menjodohkan wine dengan makanan? Bagi pemula memang tidak mudah, membutuhkan keahlian dan pengalaman. Red Cabernet mungkin bisa akur dengan beef tenderloin, tapi kurang matching jika dengan ikan gurame goreng. Hakikatnya, anggur merah cocok dengan daging merah, seperti sapi, rusa, kambing, dan lain-lain. Sementara itu, anggur putih lebih klop dengan ikan dan unggas-unggasan. Bon appetit! (Burhan Abe)

SWA, 18 September 2003

The Enjoyment of Good Drink

0

Ketika menerima undangan untuk menghadiri acara Wyndham Estate Dinner, beberapa waktu yang lalu, yang terbayang adalah appetite journey ala Australia. Maklum, warga Australia bukan saja terkenal pemuja dan penikmat wine, yang pada setiap jamuan makannya selalu tersedia wine, tapi Negeri Kangguru itu termasuk salah satu negara baru penghasil wine terpenting di dunia.

Wyndham Estate adalah salah satu wine Australia yang tertua, bahkan boleh disebut sebagai “the first commercial Shiraz planting’s in Australia” karena mereka telah mulai memproduksi Shiraz wine sejak tahun 1828 saat George Wyndham – seorang ahli pertanian asal Inggris yang berimigrasi ke Australia – menanam Shiraz yang dibawanya dari Eropa di sebidang tanah yang diberi nama Dalwood di daerah Hunter Valley, New South Wales, Australia. Inilah salah satu wine yang saat ini penjulannya sangat tinggi dan sering mendapatkan berbagai penghargaan di berbagai kompetisi wine regional maupun internasional.

Penikmat minuman anggur atau wine di Indonesia memang masih terbatas, bahkan hanya kalangan tertentu saja. Tentu sebuah kehormatan kalau bisa bergabung dalam acara wine tasting dengan orang-orang yang memang pakarnya. Bertempat di Cassis Restaurant di Jakarta, pada akhir Maret lalu berkumpul sekitar 60 orang pemerhati minuman hasil olahan buah anggur ini.

Acaranya makan malam yang dirangkai dengan menikmati wine tentu saja. Hadir malam itu Edhi Sumadi, Country Manager Pernod Ricard Indonesia, Yohan Handoyo, Wine Consultan, serta orang-orang yang bergerak dalam bidang resto, kafe, dan hiburan di Jakarta.

Jenis dan ragam wine sudah cukup banyak beredar di Indonesia khususnya Jakarta, bisa dimaklumi kalau komunitas-komunitas pencinta wine pun tumbuh seiring bertambahnya apresiasi masyarakat terhadap jenis minuman ini. Acara icip-icip anggur yang diadakan Wyndham Estate adalah program berkala yang didesain untuk memperkenalkan karakter wine tersebut. Kemampuannya untuk dipadukan dengan berbagai jenis masakan yang berbeda konon menjadi highlight dan kekuatan acara ini.

Wine, kata orang, adalah minuman misterius. Setiap kali kita meminumnya menerbitkan pengalaman tersendiri, yang kadang-kadang hasilnya sering tak terduga. Mereka yang ingin mempunyai pengetahuan lebih soal minuman ini harus sering mencoba, serta berdiskusi dengan ahlinya soal rasa, juga bagaimana memadukannya dengan berbagai macam hidangan, misalnya.

Memang, memilih wine bukanlah perkara mudah, apalagi informasi yang ada biasanya terbatas pada back label yang menempel di botol wine saja. Anggur asal Prancis, konon mempunyai tradisi yang kuat serta karakteristik yang unik.

Tapi New World Wines — yakni anggur “pendatang baru” yang berasal dari ladang-ladang yang tersebar di Amerika, Afrika Selatan, dan Australia –-, yang lebih pekat (full-bodied), tapi rasanya lebih lembut, dan lebih terasa rasa buahnya, ternyata lebih memikat para pecinta wine untuk mencobanya. Itu sebabnya wine dari Australia lebih masuk ke selera orang Indonesia, karena adalah fruit-driven character-nya, seperti Wyndham Estate, misalnya, masih memiliki karakter buah anggur yang kaya dan menawan.

Fruit-driven wine biasanya memiliki cita rasa buah anggur yang khas, fruity, dan gampang diminum dan umumnya juga memiliki tannin (komponen yang membuat wine terasa sepat) dan acidity (yang membuat wine terasa asam) yang tidak terlalu menonjol sehingga tidak akan membuat alis berkerut saat menikmatinya. “konsumen Indonesia yang memiliki preferensi cita rasa yang unik, wine yang memiliki fruit-driven character biasanya lebih mudah diterima dan disukai oleh lidah Indonesia,” tukas Yohan Handoyo, Wine Consultant.

Sejatinya, anggur Australia akan terasa pas jika dipadukan dengan hidangan ala Australia juga, yang didominasi gaya Pacific Rim dan Modern European. Tapi karena karakternya fruity, tidak terlalu asam dan tidak terlalu sepat itulah yang membuat anggur Australia bisa cocok dengan berbagai cuisine style, sehingga tak heran saat ini Wyndham Estate mengklaim sudah bisa menembus ke 47 negara dengan penjualan melebihi satu juta lebih karton per tahun.