Perpaduan kuliner kelas atas, koktail mantap, dan musik live dalam satu paket gaya yang sulit dit
Hong Kong punya banyak hotel mewah, tapi Mondrian Hong Kong bukan sekadar tempat menginap—ini tempat lo hidup maksimal. Sepanjang Mei, hotel ini menyajikan brunch yang gak main-main, koktail penuh karakter, steak Italia, sampai musik jalanan yang bikin lo betah nongkrong lebih lama.
Avoca: Koktail di Atas Awan
Berlokasi di lantai 38 dengan pemandangan kota yang bikin speechless, Avoca bukan bar rooftop biasa. Ini arena bagi para penikmat minuman sejati dan foodies yang suka eksplorasi rasa. Lewat program “Guest Shift”, bartender top dari Asia—seperti Tokyo Confidential dan Bar Wakabayashi—datang membawakan racikan spesial dengan sentuhan lokal.
Akhir pekan lo? Udah aman. High Spirits Brunch hadir tiap Sabtu, Minggu, dan hari libur dengan sajian mini tak terbatas, hidangan utama lezat, musik dari DJ, dan paket minuman mulai dari HK$200. Datang lapar, pulang puas (dan mungkin sedikit teler).
Rehat Sejenak, Reconnect, dan Gas Pol Nyalain Energi Baru
Kalau selama ini lo mikir “wellness” itu cuma buat cewek-cewek yoga atau meditasi di Bali, lo bakal berubah pikiran setelah mampir ke TA’AKTANA, a Luxury Collection Resort & Spa, Labuan Bajo. Sabtu, 14 Juni 2025, resor kece ini ngerayain Global Wellness Day dengan cara yang nggak biasa—full day experience buat ngasah tubuh, nyegerin otak, dan ngisi ulang semangat lo.
Tema tahun ini? #ReconnectMagenta—warna magenta diartiin sebagai simbol empati, keseimbangan emosi, dan kebangkitan diri. Tapi jangan khawatir, ini bukan acara mellow. Ini soal bagaimana lo bisa reconnect sambil tetap nikmatin sisi maskulin dan petualangan lo di alam liar Labuan Bajo.
Mulai jam 5 pagi, lo udah diajak jalan bareng tim recreation TA’AKTANA buat trekking ke Sylvia Hill. Jalurnya nggak terlalu berat, tapi cukup bikin badan panas dan mata melek total. Di atas bukit, lo disuguhi panorama laut yang bikin lo mikir, “Ini sih worth it banget buat bangun pagi.”
default
Yoga & Meditasi: Tenang, Nggak Cuma Buat Cewek
Habis trekking, lanjut sesi sunrise yoga & meditasi jam 6 pagi di Salang Hill Garden. Jangan salah, yoga itu bukan cuma lentur-lenturan. Dengan latar hutan hijau dan view laut yang terbentang luas, lo diajak buat ngatur napas, ngerileksin pikiran, dan ngasih waktu buat reset diri lo sendiri. Peace of mind, bro.
Jam 9 pagi, pindah ke kolam renang ukuran olimpiade. Di sini, lo bisa belajar teknik freediving dan renang bareng Susan Gosal, freediver profesional yang bakal ngajarin lo cara gerak efisien di air. Lo juga bakal dikasih tips soal kontrol napas dan rileksasi saat di dalam air. Siapa tahu lo pengin lanjut jadi penyelam beneran?
Jam 10 pagi, lo diajak ngobrol sama marine biologist TA’AKTANA. Nggak bosenin, karena lo bakal dapet insight soal ekosistem bawah laut Labuan Bajo, plus gimana pentingnya jaga kelestarian laut. Habis itu, langsung terjun snorkeling ke Clownfish Garden buat lihat langsung dunia bawah laut yang penuh warna dan (tentu saja) Nemo!
Ada restoran. Ada pengalaman. Dan ada Il Ristorante – Niko Romito, yang berdiri anggun di tepi tebing Uluwatu dalam kompleks Bvlgari Resort Bali. Ini bukan sekadar pembukaan restoran baru—ini adalah perayaan rasa, warisan, dan kemewahan yang diracik dengan presisi khas Italia.
Setelah sukses besar di Milan, Dubai, Tokyo, dan kota-kota lain yang mengerti arti fine dining, Niko Romito membawa visinya ke Bali. Tanggal 19 Mei 2025 jadi tonggak hadirnya kuliner Italia kontemporer yang dipadukan dengan keindahan alam dan kehangatan rasa khas Bali.
Makan Malam yang Tak Sekadar Makan Malam
Hanya tersedia saat malam. Hanya 24 kursi. Dikelilingi kolam refleksi dan pencahayaan lembut yang menghanyutkan. Lokasinya? Di puncak tebing batu kapur, menghadap langsung ke lautan lepas. Di sini, setiap malam terasa seperti pertunjukan—dengan cita rasa sebagai aktor utama dan pemandangan samudra sebagai panggungnya.
Romito tak datang membawa menu klise. Ia datang membawa filosofi rasa: bersih, autentik, dan berani. Mengangkat bahan lokal seperti vanila Kintamani, tomat Plaga, dan berbagai rempah yang tumbuh di kebun resort sendiri. Ini adalah Italia—tapi dengan aksen tropis Bali yang subtil namun memikat.
Tiga Pilihan, Tiga Karakter
Tasting Menu “I Classici” – 4 Hidangan
Untuk pencinta klasik: sebuah komposisi yang membawa Anda melintasi daerah-daerah kuliner Italia. Dimulai dengan L’Antipasto all’italiana, berlanjut ke Tortelli ricotta Bali dan ikan trout karang dengan udang serta tomat, lalu ditutup dengan Bread and Chocolate—cokelat Bali yang dikemas dalam kehangatan kenangan masa kecil ala Italia.
Tasting Menu “La Degustazione” – 7 Hidangan
Bagi yang siap menyelami sisi eksperimental Niko Romito. Dari kerang dengan krim udang, cod rebus dalam susu ikan kod, hingga Wagyu bersaus lada hitam lokal yang dalam dan berkarakter. Penutupnya? Sorbet buah beri liar, mousse serai, dan meringue renyah—kesegaran yang menyegarkan, bukan hanya palate, tapi juga pikiran.
Pernah merasa otak seperti macet? Tubuh ingin istirahat, tapi pikiran terus memutar ulang kejadian masa lalu yang kita sesali. Atau sebaliknya, terlalu sibuk membayangkan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi esok. Hasilnya sama: lelah, gelisah, dan tetap tidak bergerak ke mana-mana.
Selamat datang di dunia overthinking—kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan hingga tak tahu lagi mana yang realita, mana yang asumsi. Di era kerja modern yang penuh tekanan, informasi berlimpah, dan ekspektasi tinggi, overthinking bukan fenomena langka. Justru jadi gaya hidup yang diam-diam melemahkan performa.
Terlalu banyak mikir bikin kita ragu, lambat, dan akhirnya kehilangan peluang.
1. Rumination: Mengunyah Masa Lalu
Kita tahu kita sedang ruminasi saat terus mengulang adegan-adegan gagal dalam hidup. “Kenapa tadi saya nggak ngomong begini?”, “Harusnya saya lebih siap.”—dan seterusnya.
Masalahnya: kita bukan mesin waktu. Mengutuki masa lalu tak akan mengubah hasilnya. Tapi mengubah narasinya bisa. Ganti “Saya gagal” jadi “Saya belajar.”Ambil jarak. Ceritakan pada orang lain. Dapatkan perspektif baru.
2. Future-Tripping: Terjebak Masa Depan yang Belum Terjadi
Overthinking jenis ini bikin kita hidup di “nanti”—tempat di mana segala hal bisa salah. Kita sudah buat Plan A, B, sampai Z, tapi tetap merasa belum siap. Selalu ada kemungkinan buruk baru yang belum dipikirkan.
Solusinya? Kurangi asupan informasi. Kita tak harus tahu semua hal buruk yang bisa terjadi. Fokus pada apa yang bisa dikontrol. Hidup bukan soal mengantisipasi semua risiko, tapi soal bergerak meski risiko tetap ada.
3. Overanalyzing: Tenggelam dalam Kedalaman Tak Perlu
Ini yang sering terjadi di ruang meeting: terlalu banyak data, terlalu banyak pertimbangan, keputusan jadi tertunda. Menunggu “momen sempurna” yang tak pernah datang.
Cukup. Ambil keputusan yang “cukup baik”. Tentukan 3 kriteria penting, lalu jalan. Keputusan sempurna itu mitos. Bahkan keputusan terbaik pun tetap punya risiko.
Kuncinya: Fokus Pada Saat Ini
Mengelola overthinking bukan berarti berhenti berpikir. Tapi belajar mengatur arah pikiran. Karena menyesali masa lalu tidak menyembuhkannya. Mengkhawatirkan masa depan tidak menjaminnya.
Novak Djokovic bukan hanya legenda tenis dunia dengan 24 gelar Grand Slam. Ia adalah simbol kedisiplinan, konsistensi, dan kontrol diri tingkat tinggi. Di tahun 2024, ia membawa filosofi hidup sehatnya ke level baru dengan bergabung sebagai Global Wellness Advisor pertama Aman, jaringan resort mewah paling eksklusif di dunia.
Lewat kolaborasi multi-tahun ini, Djokovic mempersembahkan Longevity Pathways — serangkaian program kebugaran berstandar atlet elit yang dirancang khusus untuk tamu Aman. Seri pertamanya, Detoxification Programme, kini tersedia sepanjang tahun di tujuh properti Aman pilihan.
“Saya bangga bisa menjadi bagian dari Aman. Visi dan misi kami sangat sejalan. Kami berbicara dalam bahasa yang sama,” kata Djokovic.
BEBASKAN TUBUH, TENANGKAN PIKIRAN
Program Detox ini bukan sekadar spa atau liburan. Selama tiga hari, kamu akan dibimbing dalam ritual pemulihan yang dirancang langsung oleh Djokovic berdasarkan pengalamannya bertahun-tahun menjaga performa puncak.
Hari Pertama: Signature Aman Treatment (90–150 menit) untuk membuka aliran energi dan relaksasi.
Hari Kedua: Terapi khas lokasi — bisa berupa yoga saat matahari terbit di Amangiri, Utah, atau Pinda Sweda di Amanbagh, India, teknik Ayurveda menggunakan bola herbal hangat.
Hari Ketiga: Aktivitas keseimbangan body-mind-spirit (60 menit), membekali kamu dengan tools untuk menjaga hasil detoks jangka panjang.
Setiap destinasi menyuguhkan pengalaman yang berbeda, namun dengan benang merah yang sama: transformasi total tubuh dan pikiran.
Dikenal sebagai salah satu atlet paling disciplined di dunia, Novak Djokovic punya ritual kesehatan yang konsisten — dan nyaris suci. Berikut beberapa tools andalan yang jadi bagian dari kesehariannya:
1. Alat Detoks Usus (Colon Cleanse Kit) 📍 Digunakan rutin saat jeda turnamen. Membantu pencernaan optimal, meningkatkan energi, dan menjaga daya tahan tubuh.
2. Red Light Therapy Panel 🔥 Pemulihan otot dan kualitas tidur. Cahaya LED khusus yang merangsang regenerasi sel dan mengurangi inflamasi.
3. Alat Pemantau HRV (Heart Rate Variability) 🫀 Bukan sekadar detak jantung. HRV memberi data soal stres tubuh & kesiapan fisik secara real-time.
4. Travel Water Filter Bottle 💧 Hydration is sacred. Djokovic hanya minum air yang sudah melalui filtrasi molekuler. Yes, he’s that precise.
5. Yoga Mat + Travel Roller Set 🧘♂️ Pagi hari? Gerakan peregangan, meditasi, dan pernapasan adalah wajib. Matras portabel dan foam roller jadi bawaan wajib ke mana pun ia pergi.
“Kesehatan itu bukan tren. Itu gaya hidup. Dan saya menjaga detail kecil setiap hari.” — Novak Djokovic
Pinda Sweda adalah teknik terapi panas khas Ayurveda — warisan pengobatan kuno India — yang menggunakan bolus herbal hangat (kantong kain kecil berisi ramuan alami).
Cara Kerja:
Bolus ini dipanaskan dan kemudian ditekan atau dipijatkan ke tubuh dalam gerakan ritmis, terutama di area otot dan sendi.
Fungsinya?
Melancarkan sirkulasi darah
Mengurangi stres dan ketegangan otot
Detoksifikasi lewat pori-pori
Meningkatkan metabolisme alami tubuh
Bahan Umumnya:
🌿 Jahe, kunyit, daun neem, garam laut, minyak herbal — disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan iklim lokal.
Fun Fact: Teknik ini digunakan oleh petarung India kuno sebelum dan sesudah bertarung untuk menjaga ketahanan tubuh mereka tetap prima.
Otten Coffee membuka 1.000 kelas barista gratis untuk korban PHK — sebuah langkah kecil dengan dampak yang tak kecil.
Ada banyak hal yang bisa meruntuhkan rasa aman dalam hidup, tapi sedikit yang sebrutal kehilangan pekerjaan. Beberapa bulan terakhir, Indonesia memasuki babak baru dalam dinamika ketenagakerjaan: gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) datang silih berganti, dari industri padat karya hingga sektor digital. Perang dagang global, tekanan ekonomi makro, hingga efisiensi korporasi — semuanya bermuara pada satu kenyataan: ribuan orang mendadak tanpa penghasilan.
Dan seperti biasa, ketika statistik naik, manusia turun. Mereka yang terkena PHK harus menghadapi lebih dari sekadar kehilangan gaji bulanan. Mereka kehilangan identitas, ritme harian, dan kepercayaan diri. Mereka berhadapan dengan kebutuhan dapur, biaya sekolah anak, cicilan yang menunggu tanggal jatuh tempo. Tidak semua orang bisa langsung bangkit — tetapi setiap orang pantas mendapat kesempatan kedua.
Di titik ini, masuklah Otten Coffee. Tidak dengan jargon muluk atau janji bombastis, melainkan dengan tawaran konkret: 1.000 kelas barista gratis, diperuntukkan bagi siapa pun yang terdampak PHK dan ingin membangun ulang hidupnya, dari secangkir kopi.
Bukan Sekadar Kursus, Tapi Investasi Ulang pada Martabat
Pelatihan barista dari Otten Coffee bukanlah pelarian sesaat. Ini adalah platform pembelajaran praktis, langsung dari para juri kopi nasional, dirancang untuk memberi keterampilan yang relevan dan bisa langsung digunakan. Kurikulum yang diberikan bukan hanya soal meracik espresso atau menuangkan latte art.
Lebih dari itu, ini tentang memahami kualitas, konsistensi, etika kerja, dan mentalitas hospitality — fondasi dari setiap barista andal dan wirausaha kopi sejati.
Para peserta tidak hanya disiapkan untuk menjadi tenaga kerja di coffee shop, tapi juga diberikan dasar-dasar untuk membangun bisnis kopi mereka sendiri. Otten menyebutnya sebagai semangat #MengopikanIndonesia — menjadikan kopi bukan sekadar minuman, tapi jalan hidup baru.
Kopi Sebagai Ekosistem, Bukan Sekadar Tren
Masyarakat urban Indonesia telah menjadikan kopi sebagai bagian dari gaya hidup. Tetapi di balik gelas yang tersaji rapi di meja-meja kayu kafe, ada ekonomi yang tumbuh: dari petani kopi di Gayo, Toraja, atau Kintamani, hingga barista dan pemilik coffee shop di kota besar.
Indonesia adalah produsen kopi terbesar ketiga di dunia, dengan produksi mendekati 800 ribu ton per tahun. Di hilir, pangsa pasarnya terus berkembang: menurut riset Snapcart 2023, 79% masyarakat Indonesia minum kopi setidaknya sekali sehari, dengan 16% Gen Z, 19% Milenial, dan 27% Gen X mengonsumsi 2–3 cangkir per hari.
Di dunia fotografi mode yang penuh kilau, Colin Dodgson adalah pembangkang yang datang dengan kamera analog dan kantong berisi ketidakteraturan.
Ia bukan fotografer yang memoles. Ia pengintai. Penguntit cahaya natural yang tak bisa diprediksi dan momen yang nyaris luput. Dan dari semua itu, ia menyusun dunia yang ganjil, intim, dan nyaris surealis.
Lahir dan besar di California, Colin Dodgson tumbuh di tengah lanskap absurd: langit yang terlalu biru, jalan raya yang terlalu lebar, dan impian yang terlalu Amerika. Tapi dari semua itu, ia memilih realitas yang lebih pelik—yang kasar, tidak simetris, dan lebih jujur.
Saat dunia tergila-gila pada megapiksel, Dodgson kembali ke kamar gelap. Ia menolak sensor, memilih butiran film. Hasilnya? Foto-foto yang tampak seperti lukisan mimpi: kabur sedikit, gelap sedikit, dan justru karena itu terasa lebih hidup.
Fotonya telah menghiasi Vogue, i-D, WSJ Magazine, The New York Times Style Magazine, hingga AnOther. Tapi jangan kira ia menjilat industri. Ia tetap jadi dirinya sendiri: sinis, spontan, dan tidak tertarik pada estetika yang terlalu halus.
GUCCI, KENTANG, DAN PATAGONIA
Ia pernah memotret untuk Gucci. Pernah juga mengangkat kentang sebagai objek utama. Dodgson memang tidak punya filter visual yang konvensional. Segalanya bisa jadi sakral dalam frame-nya—termasuk sampah plastik dan wajah-wajah lelah di kereta tidur menuju pegunungan Andes.
Dalam pameran Safety, Service and Security (2018), ia bicara tentang ketakutan dan absurditas hidup modern lewat foto-foto lingkungan rumahnya sendiri. Di Ciento por Ciento (2022), ia pindah ke Patagonia, membidik sisi manusiawi dari upaya konservasi alam.
Hasilnya bukan kampanye. Bukan propaganda. Hanya keheningan yang penuh makna.
Luangkan satu malam buat hal yang enggak biasa: makan malam bareng Grange, sang legenda dunia wine.
Kalau kamu termasuk tipe pria yang percaya bahwa hidup perlu dinikmati dengan rasa (dan rasa itu bukan dari mi instan tengah malam), maka kamu wajib tahu acara yang satu ini.
PRU, restoran bintang Michelin pertama dan satu-satunya di Phuket, ngajak kamu buat bergabung dalam perhelatan yang enggak main-main: “3 Decades of Grange Wine Dinner.” Satu malam, enam hidangan racikan chef jenius, dan pairing wine dari tiga dekade Penfolds Grange — anggur ikonik asal Australia yang udah jadi dewa-nya Shiraz sejak 1950-an.
Catat tanggalnya: 20 Mei 2025. Lokasinya? PRU, yang ada di samping Trisara Resort — tempat orang-orang datang bukan cuma buat liburan, tapi buat nyicipin hidup yang seutuhnya.
Di balik dapur, ada Chef Jimmy Ophorst. Namanya mungkin belum sefamiliar Gordon Ramsay, tapi soal skill dan passion, enggak kalah panas. Chef Jimmy dikenal dengan filosofi “community-to-fork” alias semua bahan berasal dari kebun sendiri (Pru Jampa) dan tangan-tangan lokal yang dia percaya. Hasilnya? Makanan bintang lima yang tetap punya jiwa.
“Ini momen langka buat PRU. Kami keluar dari zona nyaman, menyajikan menu yang dirancang khusus untuk bersanding dengan Grange dari tiga dekade berbeda,” kata Chef Jimmy. Respect.