Home Blog Page 75

Think Digitally

0

Digitalisasi bukan sekadar mantra, tapi memang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kita semakin tergantung kepada berbagai teknologi yang memudahkan hidup, sebutlah komputer, notebook, smartphone, tablet, phablet dan seterusnya. Perangkat tersebut memudahkan kita untuk melakukan apa saja, mulai dari berkomunikasi, bersosialiasi, hingga bekerja.  

Salah satu produk digital adalah MALE. Digitalisasi media adalah sebuah keniscayaan, upaya memanfaatkan laju teknologi agar tidak ketinggalan zaman. Format digital juga lebih fleksibel, kapasitas distribusinya jauh melebihi media kertas yang terbatas. Majalah digital mempunyai konten yang lebih menarik, karena bisa diperkaya dengan video, suara, dan tautan web. Unik dan interaktif.  

Memang, ada pendapat minor bahwa animo pembaca majalah digital interaktif mulai menurun. Dibandingkan dengan majalah konvensional, khususnya di Indenesia, jumlah pen-download majalah digital masih tergolong kecil. “Tidak banyak yang tahu, kami mem-published versi digital di iPad,” ujar seorang pemimpin redaksi sebuah majalah gaya hidup.

Keluhan tersebut ternyata tidak hanya berlaku di Indonesia. Beberapa penerbitan majalah digital di AS juga pernah mengeluhkan hal yang sama, bahkan lebih ekstrem mengatakan bahwa “The app is dead”. Benarkah?

Banyak yang tidak setuju. Salah satunya adalah Josh Klenert, Direktur Eksekutif di Digital Customer Experience untuk JPMorgan Chase. Mengapa majalah digital tidak menarik perhatian? Menurut kreator majalah Huffington dan HuffPost untuk iOS7 dan Android ini, tak lain karena penerbitnya belum berpikir secara digital. Majalah-majalah digital yang ada saat ini kebanyakan perpanjangan dari majalah cetak. Isinya hanya memindahkan dari cetak ke digital saja. 

Sudah begitu, periode terbitnya rata-rata sebulan sekali, yang bagi pembaca online dan komunitas digital, terlalu lama. David Jacobs,  CEO 29th Street Publishing, menambahkan bahwa replika tidak akan pernah berhasil.

Makanya, jangan heran kalau ada majalah digital yang pelanggannya hanya 3% dari pembaca secara keseluruhan. “There is a challenge (and an opportunity) since the mainstream conception of a magazine app is what amounts to a photo gallery of pages of a magazine, with the occasional widget or animation. But that’s not a transformation that is going to happen overnight,” tambahnya.

Tentu, majalah digital tidak mati, tetapi membutuhkan pembenahan di berbagai lini, mulai dari kreativitas, desain, termasuk pembenahan di luar konten – sebutlah periodisasi terbit (Esquire, misalnya, sudah meluncurkan edisi mingguannya di iPad),  sosialisasi produk dan strategi pemasaran. Apalagi, faktanya, tidak ada yang bisa menghentikan proliferasi tablet. Pasar tablet semakin besar, banyak aplikasi yang dibuat dan dikembangkan untuk perangkat ini.  

Jadi, kalau ada penerbit yang mengeluh kekurangan pembaca, jangan salahkan teknologinya – apalagi menyalahkan masyarakat yang kurang aware terhadap produk digital. Buktinya, MALE, sampai edisi yang ke 80, masih mendapat animo yang luar biasa, dengan downloader sekitar 300-350 ribu per edisi di tiga platform (PDF, IOS, dan Android). Secara keseluruhan, sampai April 2014, MALE sudah diunduh dalam bentuk PDF 25.230.846 dan Folio 843.188 (iPad dan Android Gadget), sementara Aplikasi iPadnya sudah mencapai 49.057, dan  aplikasi Android 84.824. (Burhan Abe)

Satanic Secrets of Hollywood

0

Tema hantu-hantuan ternyata bukan monopoli film Indonesia, Hollywood pun keranjingan hal yang sama — yang bahkan menjadi kiblat sineas perfilman dunia. Berbagai genre mengacu ke sana, khususnya horor dan thriller. Beragam cara dilakukan untuk meracik konsep cerita yang tidak hanya membuat penontonnya berteriak ketakutan, tapi juga mencekam. Termasuk pula memberi pemahaman tentang kejadian di luar batas pemikiran manusia pada umumnya.

Hantu, monster, pembunuh berantai, dan psikopat menjadi menu pilihan konsep cerita dalam industri film. Tapi, di antara berbagai macam sosok yang menakutkan, iblis atau setan menjadi tokoh langganan.   

Iblis atau setan adalah simbol dan karakter antagonis yang kental mewarnai film horor serta thriller. Sama sekali tidak ada kesan positif ketika menyebut kata ’iblis’, selain sifat menghancurkan, merusak, dan menjauhkan manusia dari kebaikan. Bagai dua sisi mata uang, sosok iblis, yang identik dengan keburukan, selalu menjadi ide menarik untuk diangkat ke layar film. Pertarungan kebaikan dan kejahatan selalu mengedepankan sosok iblis, yang menjadi pihak yang bertanggung jawab atas kemalangan yang menimpa tokoh utama.   

Seperti disebut dalam artikel Satanic Secrets of Hollywood di situs Hollywoodilluminati, kehadiran iblis tidak pernah terduga. Tokoh ini bahkan tampak pada simbol-simbol yang sering keluar dalam frame film yang konon dipakai oleh penganut agama setan memperlihatkan komunitasnya. (Burhan Abe)  

Source: MALE 79

Konvergensi

0
Digitalisasi memang tak terelakkan lagi. Generasi kiwari cenderung menaruh apa saja ke dalam perangkat mobile dalam bentuk digital – mulai dari catatan, gambar, musik, hingga video.   

Di ranah industri penerbitan, platform majalah digital mulai menjadi tren, dan para publisher yang sadar dengan perkembangan zaman, berlomba-lomba untuk menangkap peluang ini. Apalagi smartphone dan tablet sudah mulai menjadi populer dewasa ini.  

Salah satu fenomena yang paling menonjol dari dinamika komunitas digital di dunia – dan di Indonesia tentu saja – saat ini adalah mulai tumbuhnya kecenderungan positif pada penggunaan tablet. Berdasarkan data yang dirangkum oleh Philip Elmer DeWitt selaku pengelola blog Apple 2.0 Fortune dari 34 analis, angka penjualan iPad untuk kuartal kedua tahun 2014 diperkirakan akan mencapai 19,3 juta unit.

Memang, angka penjualan tersebut turun 0,7% dibanding tahun lalu, apalagi dibanding periode 2012 – 2013 yang pertumbuhannya sempat mencapai 55%, tapi 19,3 juta masih tergolong besar. Penurunan kecil ini konon berkaitan dengan akan hadirnya dua varian iPad Air dan iPad Mini Retina Display versi terbaru. Pasar memang belum kondusif, wait and see, yang sebenarnya wajar saja untuk produk yang perkembangan teknologinya selalu dinamis.  

Rumornya, Apple tengah menyiapkan sebuah versi iPad terbaru berlayar jumbo dengan layar 12,9 inci, yang diberi nama iPad Air Pro, tapi kemudian belum terdengar kabar lanjutannya. Tapi yang jelas, bentuk tablet di masa depan, akan terus berubah sesuai dengan tuntutan zaman. Ada yang meramalkan, kelak ada tablet yang transparan, atau bahkan yang bisa digulung seperti kertas toilet.  

Meski perjalanannya tidak selalu mulus, tablet adalah pilihan masa kini dan masa depan – dan tidak bakalan set back ke era cetak, misalnya. Tablet tidak hanya menggantikan semua yang ada di cetak, tapi aplikasinya memberikan pengalaman baru di era digital.

MALE, misalnya, tidak hanya memberikan artikel yang informatif, tapi juga konten khas multimedia – meliputi foto-foto yang artistik, video yang keren dan menghibur untuk beberapa rubrik andalan, video behind the scene yang ekskulif untuk cover dan Lights On. Halaman demi halaman juga, tidak tampil monoton, termasuk bisa dilihat dalam format landskap dan potret, sesuai selera. Ada pun daftar isinya sangat interaktif, yang jika di-tap bisa langsung masuk ke halaman yang dimaksud.  

Majalah cetak adalah masa lalu, meski platform digital memang bukan jawaban tunggal atas kebutuhan saat ini. Bicara soal konsistensi jangka panjang, sebenarnya tidak ada faktor yang membatasi secara kaku antara majalah cetak dan majalah digital untuk mengembangkan bisnisnya. Tapi yang jelas, dunia teknologi saat ini tidak bisa menafikan lagi realitas konvergensi.  

Jika dihubungkan dengan sisi komersial, menurut Janoe Arijanto dari Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia, pemasaran dengan medium digital yang kini digandrungi pengiklan adalah media baru yang mengandung unsur interaktivitas produsen, intermediari pasar, dan konsumen sebagai hasil penggabungan faktor psikologis, humanis, antropologi, dan teknologi multimedia. “Periklanan Indonesia makin kaya dengan media-media non-konvensional dan sangat cepat mengadopsi pola komunikasi kontemporer, khususnya di digital dan mobile,” ujarnya. (Burhan Abe)

Source: MALE 78

125 Tahun Glenfiddich

0

The World’s Most Awarded Single Malt Scotch

“Come Join Us for An Exclusive Tasting of The World’s Most Awarded Single Malt Scotch.”

Undangan dari Glenfiddich itu cukup menggoda, apalagi acara dengan beberapa media secara terbatas itu dipandu langsung oleh Matthew Fergusson-Stewart, Brand Ambassador untuk William Grant & Sons di Asia Tenggara dan veteran di industri wiski. Suatu kehormatan, bersama beberapa teman media, saya bisa mencicipi minuman mahal itu di Artoz Bar, Energy Building 2nd Floor, Jakarta, 23 April 2014. Apa sih Glenfiddich itu?

Tidak lain adalah wiski Scotch single malt yang paling banyak memperoleh penghargaan di dunia dan tahun ini merayakan 125 tahun sebagai penggagas pembuatan wiski, menampilkan berbagai pilihan wiski mulai dari malt yang paling favorit – Glenfiddich 12 Year Old – sampai dengan yang paling langka Glenfiddich 50 Year Old. Glenfiddich bangga untuk terus melanjutkan inovasi dari penemunya, William Grant, untuk menciptakan minuman terbaik.

Glenfiddich 12 Year Old

Glenfiddich 12 Year Old merupakan pionir dari kategori single malt Scotch wiski yang terkenal dan paling banyak disukai dibandingkan dengan single malt Scotch wiski lainnya. Didiamkan selama 12 tahun di dalam drum kayu ek dari Amerika dan Spanyol, peraih berbagai penghargaan dan pengakuan global, wiski ini merayakan sensasi petualangan dari Glenfiddich.  

Glenfiddich 12 Year Old memiliki aroma yang lembut dengan khas kesegaran buah dan sedikit aroma buah pir. Rasanya manis dengan aroma buah, yang kemudian berkembang menjadi butterscotch, cream, malt dan rasa ek halus. Di bagian akhirnya terasa lebih lama dan lembut.  

Glenfiddich 15 Year Old

Dibuat dengan menggunakan proses distilasi yang unik, Glenfiddich 15 Year Old merupakan ekspresi sejati dari sebuah merek yang penuh petulangan dan berpikir maju ke depan dalam pembuatan wiski. Setelah tersimpan cukup lama di dalam tiga tipe drum kayu ek; sherry, bourbon dan new oak, wiski dibiarkan menyatu dengan Solera Vat hingga menciptakan aroma berbeda yang kaya akan rasa buah, rempah-rempah dan madu bersatu hingga menjadikannya wiski yang original.  

Glenfiddich 15 Year Old cukup kompleks dengan rasa manisnya madu dan vanilla dikombinasikan dengan buah-buahan berwarna gelap. Rasanya yang lembut, dengan paduan aroma ek sherry, marzipan, kayu manis dan jahe – mengingatkan pada kue natal. Glenfiddich 15 Year Old memiliki cita rasa yang sangat kaya dengan rasa manis yang tahan lama.  

Glenfiddich 18 Year Old

Glenfiddich 18 Year Old merupakan bukti keterampilan, rasa petualangan dan semangat kepeloporan pengrajin penyulingan. Diproduksi dalam jumlah sedikit, dengan nomor batch individual, Glenfiddich 18 Year Old mengombinasikan sentuhan manis buah dari kayu Oloroso Spanyol dan aroma ek dari drum tradisional Amerika. Setelah kurang lebih 3 bulan tersimpan, Glenfiddich 18 Year Old menjadi kaya akan kelezatan rasa yang menciptakan single malt Scoth wiski dengan tekstur yang sangat halus dan mendalam. Tiap batch adalah unik dengan kualitas yang terbaik.  

Glenfiddich 18 Year Old sangat kaya dengan kematangan orchard fruit, yang ditambahkan dengan rasa buah apel dan aroma ek. Rasanya kaya akan kemewahan aroma buah kering, permen dan kurma yang dilapisi oleh aroma kayu ek yang elegan. Dengan rasa hangat pada bagian akhir, Glenfiddich 18 Year Old merupakan wiski yang berharga dan berbeda untuk dinikmati.  

Are Magazine Apps Dead?

0

A State of the Art Roundtable

Just a little under four years ago I headed down to St. Petersburg, Florida for an iPad conference at the Poynter Institute hosted and organized by Mario Garcia. A small but very engaged group of newspaper, magazine, and digital designers gathered to see and hear reports on the very first wave of app creations.

My iPad had just arrived from Apple the day before and was still fresh in its box, and I spent a lot of the conference busily downloading apps from a wide array of publications (remember how long those downloads used to take?). It was a heady and exciting moment, and almost everyone at that conference left to go home and launch new, groundbreaking app projects across a wide variety of styles and platforms.  

I used the experience of Mario’s conference to talk my way into a job at Reader’s Digest, helping to launch their magazine app, and later another for Best Health, a related magazine published in Toronto. There were iPad conferences, workshops, case studies that were published in design magazines and websites, and it seemed like everybody was working on an app project.  

Not anymore. We’ve come a long way since a top creative director breathlessly told me that “the iPad is the biggest thing to happen to magazines since the printing press.” And while some magazines continue to publish exciting, engaging iPad editions — National Geographic, Esquire, Popular Mechanics, and Bon Appetit are doing top-notch work — for many the rich, textural digital versions filled with original content and experiences have devolved into what are essentially flat replicas.  

Readers and especially magazine makers have failed to embrace the new magazine apps in large (or even medium) numbers. I was recently with a roomful of top magazine editors and creative directors at the National Magazine Awards and it was apparent that none of them had a passion or sense of engagement with apps; iPad magazines simply were not an essential part of their world.  

What went wrong? Are iPad apps dead, or do they still have a bright future? I reached out for answers to some of the smartest magazine makers I know, folks who have been active in creating dynamic editorial products on multiple platforms, from print magazines to daily newspapers to websites. And of course, they’ve all been integral in the development of some memorable magazine app projects. I asked them about the lack of enthusiasm for apps, how the production system has affected app creation, and whether there’s a future for digital magazines on the tablet platform.  

Monkey Shoulder, Brings Scotch to Younger Generation

0

Lupakan semua yang dikatakan orang tentang Scotch – sekarang semua aturan dan tradisi yang membatasi orang menikmati whisky sudah tidak berlaku dengan hadirnya Monkey Shoulder, pendobrak tradisi dari Skotlandia.

Monkey Shoulder, sebuah nama yang didapatkan dari legenda mengenai pekerja penyulingan, adalah Scotch yang otentik sebagaimana mustinya yang mampu mengubah segala macam pandangan, pendapat dan persepsi orang mengenai Scotch.

Monkey Shoulder adalah minuman bagi mereka yang berjiwa bebas, pecinta whisky triple malt yang lembut, kaya dan penuh dengan kelezatan rasa vanilla menjadikannya dapat dinikmati langsung, dengan es batu, dicampur dengan yang lain, ataupun dibuat sebagai cocktail. Para penggemar lama yang sangat mengenal Scotch akan mengatakan bahwa tidak seharusnya minum whisky dengan es atau dicampur dengan cocktail, namun aturan kuno tersebut tidak berlaku ketika Anda menikmati Monkey Shoulder.  

Itulah mengapa para bartender mencintai Monkey Shoulder – minuman Scotch yang mudah beradaptasi dan tidak akan ditinggalkan di atas rak minuman hingga berdebu layaknya minuman malt tradisional yang hanya dapat disajikan dalam porsi kecil.

Monkey Shoulder diluncurkan oleh William Grant & Sons, keluarga pemilik penyulingan independen yang terkenal. Monkey Shoulder dibuat dengan kombinasi dari tiga single malt Scotch whisky (yang disebut dengan triple malt) yang semuanya sudah tersimpan lama di dalam drum kayu ek yang sebelumnya dipakai untuk menyimpan Bourbon (dari sinilah rasa vanila yang halus di dalam minuman ini berasal).

Pemberian nama Monkey Shoulder ditujukan untuk menghormati para pekerja penyulingan yang telah menyekop berton-ton malting barley dengan tangan mereka selama berjam-jam beberapa tahun yang lalu. Pekerjaan ini mengakibatkan rasa sakit di bagian bahu para pekerja yang membuat mereka harus menggantungkan tangan di bawah layaknya simpanse.  

Bacaan Wajib 007: Shaken, Not Stirred: The Martini Manifesto

Monkey Shoulder triple malt Scotch whisky disuling, dimatangkan dan dikemas dalam botol di Dufftown, Speyside, pusat pembuatan Scotch whisky. Produksi diawasi oleh guru rasa kami (atau lebih dikenal dengan istilah “Malt Master”) Brian Kinsman mengatakan, “Monkey Shoulder merupakan Scotch yang otentik dengan semua kualitas yang luar biasa yang bisa Anda harapkan dari whisky malt tanpa ada stereotip apapun.”

“Dengan menggunakan drum yang sebelumnya dipakai untuk menyimpan Bourbon ini menjadikan Monkey Shoulder memiliki tekstur halus dan kaya akan rasa vanilla yang lembut yang disukai semua orang, terlepas seberapa banyak pengetahuan mereka tentang Scotch malt whisky. Kami ingin mendobrak batasan dan memberikan kesempatan bagi tiap orang untuk menemukan cara baru dalam menikmati malt whisky tanpa khawatir dengan sejarah dan tradisi.”  

Inilah waktunya untuk keluar dari tradisi lama whisky dan memperkenalkan Scotch kepada generasi muda – dan Monkey Shoulder adalah pemimpinnya.  

Shah Dillon

0

William Grant & Sons Regional Brand Champion, Southeast Asia & Third Party Markets

Shah Dillon joined William Grant & Sons (WGS) as its Regional Brand Champion in 2013. Founder and owner of Elite Bar Solutions, a Singapore-based company that provides cocktail and bar solutions for events, Shah oversees and leads his team in bartending and cocktail curation for William Grant & Sons’ brand activations across the region.  

Only 17 then, Shah discovered his love for bartending while working part-time at bars and decided to pursue this passion by making it a full-time career.  

With over 8 years of experience at some of the best bars in Singapore, Shanghai and Sydney, as well as the title of The Singapore National Cocktail Competition Champion in flair bartending under his belt, Shah is definitely no novice to the industry. The real buzz he gets from bartending however is not from these accolades but the interaction with the guests and the sense of satisfaction as he observes them savouring his cocktail creations.

Rum is this cocktail mixing enthusiast’s spirit of choice, and some of his favourites are Sailor Jerry and Santa Teresa. He also favours Scotch such as Monkey Shoulder, Lagavulin and Talisker when mixing cocktails.

Shah likes to keep his cocktails real without the fluff and pretense, something that also translates to his personality when he is not behind the bar. Coupled with the same genuine personality and insatiable thirst for living life to its fullest, Shah is often seen at the beaches mastering the complex techniques of surfing when he is not working his magic behind the bar.

Tren Iklan Digital

0

Tren digitalisasi membuat media digital makin hits – kata anak gaul sekarang. Mudahnya pengukuran serta penggunanya yang massif, beriklan di media digital, tentu saja, semakin menarik.  

Memang, berpindahnya iklan-iklan di media tradisional ke media digital memerlukan proses yang panjang. Sepanjang apa? Masing-masing pengamat mempunyai pandangan yang beragam. Di negara-negara maju proses digitalisasi pada umumnya lebih cepat ketimbang di negara-negara berkembang, ini berkaitan dengan tingkat kesadaran serta infrastruktur yang ada.  

Tapi khusus di Indonesia perkembangannya sering tak terduga. Tahun 2012, misalnya, iklan di internet mencapai pertumbuhan nomor dua di dunia, terlepas dari nilainya. Hal ini juga diperkuat dengan hasil survei Nielsen juga mengatakan bahwa 62% orang pengguna internet Indonesia mengklaim bahwa mereka melihat iklan di ranah digital atau ulasan di media sosial sebelum memutuskan membeli. Asal tahu saja, menurut data Weber Shandwick, Indonesia mempunyai sekitar 65 juta pengguna Facebook.  

Fenomena tersebut berdampak pada perkembangan media tradisional – cetak, TV, dan radio – yang mengalami penurunan. Memang, surat kabar dan majalah cetak mempunyai pembaca setia, sedangkan televisi adalah media tradisional yang masih memiliki audiens yang sangat besar, apalagi di Indonesia. Tapi yang tidak boleh dilupakan, semua publisher harus mempunyai persiapan untuk menuju ke era digital, kalau tidak ingin hanya menjadi kenangan kelak.  

Di masa transisi ini, demikian Hando Sinisalu, Pendiri dan Managing Partner Best-Marketing – perusahaan agensi periklanan asal Estonia, seperti dikutip marketing.co.id, perlu adanya integrasi antara media tradisional dan media digital.

Perkembangan yang menarik adalah akses internet melalui mobile semakin membesar, entah itu smartphone atau pun tablet, ketimbang via desktop. Penetrasi internet di Indonesia mencapai 12,5%, dan 22% penggunanya mengakses dari mobile.  

Menurut Hando, 85% pengguna yang mengakses internet dari perangkat mobile lebih menyukai aplikasi daripada mobile browser. Aplikasi memberikan kemudahan, kenyamanan, dan kecepatan lebih daripada mobile browser – seperti yang sudah Anda buktikan dengan MALE yang kalau Anda rajin mengikuti (http://male.detik.com).  

Tahun 2014 adalah tahun keemasan bagi bisnis iklan digital yang memanfaatkan sarana internet. Bahkan menurut Harris Thajeb, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), kenaikan belanja iklan digital yang tertinggi.  

Harris memperkirakan, belanja iklan nasional tahun ini bisa mencapai Rp 144 triliun, atau naik  16 persen ketimbang tahun 2013 yang sebesar Rp 124 triliun. Belanja iklan televisi mengambil porsi terbesar hingga 67 persen, sedang 30 persen iklan untuk media cetak, dan sisanya media lain seperti media digital dan outdoor. “Namun, belakangan kenaikan belanja iklan digital cukup signifikan, selalu di atas 100 persen, sedang iklan televisi hanya 25 persen,” ujarnya. (Burhan Abe)

MALE 77

Jakarta Kota Mahal

0

Sebagai ibukota negara Indonesia, Jakarta merupakan kota metropolitan yang menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat perekenomian. Dengan populasi lebih dari 10 juta penduduk, Jakarta dipenuhi oleh berbagai lapisan golongan masyarakat. Kita dengan mudah menemukan gedung pencakar langit bersandar diantara pemukiman kumuh dan kompleks perumahan elite berdampingan dengan kampung-kampung padat penduduk. Sebagai kota metropolitan yang dinamis, apakah Jakarta tergolong kota dengan standar hidup yang mahal dibandingkan dengan kota-kota lain?  

Domy Halim selaku Country Manager Ipsos Business Consulting Indonesia menyampaikan, survei yang diadakan Ipsos Business Consulting (BC) di minggu terakhir bulan Februari 2014 menyimpulkan bahwa secara umum Jakarta tergolong kota dengan standar hidup yang mahal, bahkan cenderung lebih mahal dari Bangkok, Hong Kong dan New York, berbanding relatif dengan gaji rata-rata masyarakat Indonesia.

Survei Ipsos BC mendapati bahwa harga secangkir Hot Cappucino Grande Starbucks di Jakarta adalah USD 2,88 (Rp 34.000), lebih murah hampir separuhnya dari harga di HongKong (USD 4,38). Akan tetapi, secangkir kopi di Jakarta menghabiskan 1,12% gaji rata-rata penduduk Indonesia sedangkan di Hong Kong hanya menghabiskan 0,28% dari gaji rata-rata mereka (gaji rata-rata masyarakat Indonesia: USD 258 sedangkan gaji rata-rata masyarakat Hong Kong: USD 1.545).

Dengan demikian, setelah memperhitungkan faktor gaji, harga secangkir kopi di Jakarta relatif lebih mahal 75% dari pada harga secangkir kopi di Hong Kong. Dengan pendekatan yang sama, ketika dibandingkan dengan ibukota negara tetangga yakni Bangkok, harga kopi di Jakarta lebih mahal 35% (gaji rata-rata masyarakat Thailand: USD 489).    

Begitu pula dengan harga tiket bioskop standar pada malam Minggu di Jakarta berkisar USD 4,24 (Rp 50.000) sedangkan di New York harganya bisa mencapai USD 14,50. Namun posisi ini akan berbalik ketika mempertimbangkan faktor gaji rata-rata kota yang bersangkutan di mana gaji rata-rata masyarakat AS adalah USD 3.263. Menonton bioskop di New York akan tampak 73% lebih murah daripada menonton bioskop di Jakarta.  

Lain halnya dengan fasilitas internet broadband. Harga fasilitas ini di Jakarta jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga di kota-kota lain. Paket internet broadband terbaik di Jakarta memiliki kapasitas kecepatan download 100 Mbps dengan harga USD 252,46 (Rp 2.979.000) sedangkan di Hong Kong dengan kemampuan 10 kali lipat lebih cepat (1.000 Mbps), harganya tiga kali lipat lebih murah USD 77,06.  

Standar hidup yang mahal di Jakarta bukan hanya terlihat dari produk-produk yang disebutkan di atas. Untuk mengkonsumsi produk-produk lain seperti harga 1 malam menginap di hotel Four Seasons, ayam goreng KFC, kemeja Zara Women, smart phone Samsung S4 atau harga 1 tahun gym membership, penghasilan masyarakat Jakarta relatif lebih kecil dibandingkan dengan penduduk di kota-kota besar di negara lain (Hong Kong, New York, London atau Sydney).  

“Namun perlu diingat bahwa produk-produk di atas pada umumnya dikonsumsi oleh masyarakat golongan menengah ke atas. Faktor tingkat sosial seseorang akan mempengaruhi persepsi tingkat mahal atau murahnya suatu produk,” jelas Domy Halim.  

Kunjungi: www.ipsosconsulting.com

Metodologi Survei

Survei yang diadakan Ipsos Business Consulting 21 Februari 2014 bertujuan untuk melihat standar hidup masyarakat Jakarta dibandingkan dengan kota-kota besar lain dari beragam benua seperti kota Hong Kong, New York, London, Bangkok, Shanghai, Mumbai, Tokyo, Paris, dan Sydney. Metode yang digunakan untuk perbandingan standar hidup masyarakat kota Jakarta dengan kota-kota lain tersebut adalah dengan membandingkan harga dari produk-produk konsumtif yang cenderung menjadi kebutuhan dan keinginan masyarakat masa kini.  

Fun Media Master Chef Competition @ Hotel Gran Mahakam

0

To highlight the holy month of Ramadan 1435H, Hotel Gran Mahakam will be hosting “The Casablanca” as this year’s theme of festivity. To support the event, we invite media friends to gather and share the happiness in Fun Media Master Chef Competition on Tuesday, April 8th 2014 at The Gardenia, Hotel Gran Mahakam.  

On this gathering, all participants were challenged to create a delightful Tajil (Ramadan’s fast breaking sweets) in 15 minutes and serve the dishes in front of the judges. The selected Tajil was judged according to their creativity, presentation, taste, tidiness and teamwork.  

All contestants were excited and eager to win the Media Master Chef title. After judging process, Mrs. Ditri Abdullatief, Managing Editor Bacarat Indonesia & Editorial Director Augustman Indonesia and Mrs. Mimi Hudoyo, Editor of TTG Asia was chosen as the Fun Media Master Chef Winner. As our appreciation, the winning Tajil will be served during the Ramadan celebrations at Le Gran Café and they are also entitled to experience Hotel Gran Mahakam’s Suite Room.

As seen on the picture, all participants are gathered to celebrate the coming Holy month of Ramadan 1435H.