Home Blog Page 75

Return Ticket to Flavour and Back: A Tasteful Education

0

Seniman Coffee Studio is at the forefront of transforming the perception of coffee shop culture within Indonesia. Building from the conversation and buzz found at their Coffee Studio in Bali, the team have designed a unique opportunity for residents and tourists to further their interest in coffee.   Always innovating and trialing new creative ideas, Seniman Coffee Studio are unveiling their keenly anticipated ‘Workshop’.  

More in common with a cultural cooking class or an evening fine wine tasting, Seniman’s ‘Coffee Journey’ Workshop sets out the argument for a new appreciation in coffee. Demonstrating years of knowledge and global experience, the team has constructed an accessible yet comprehensive journey through the incredible breadth and potential of coffee.  

Hosted at Seniman Coffee Studio’s Ubud location, these 2-hour workshops begin with an introduction of coffee through the ages up to the present ‘Third Wave’ specialist coffee shop trend. The Master Roaster, Rodney Glick, will demonstrate his creative vision for roasting to optimize the beans for different styles of brews. Throughout the workshop the teams head Baristas will skillfully craft a range of coffees made on multiple different apparatus including the much coveted yet hard to master Syphon. The workshop is fully interactive with numerous tastings, practical hands-on and opportunity for discussions.  

Professionals from within the coffee industry from across Indonesia, Japan, Taiwan, UK and Australia were invited to participate in developing the content led by the Seniman team.   Class sizes are restricted to a maximum of 10 people for high level of engagement with everyone. Bookings are available for individuals or groups.  

Seniman offer complimentary events and training that can be built around the core ‘Coffee Journey’ Workshop with the specific aim to develop knowledge and train practical skills.  

  • Coffee Journey: Coffee Tasting, Home Barista, Cupping
  • Roasting Experience
  • Pour-over Barista
  • Aeropress Barista
  • Training Courses; Espresso Barista, Manual Barista, Latte Art, Roaster
  • Plantation visits; Harvest season only August/September

Being a barista in Australia’s burgeoning coffee industry, I love overseas travel and new cultural experiences. The combination of coffee and a workshop format for visitors is a great idea. The Seniman crews are incredibly knowledgeable but unpretentious which makes for a great combination of education and fun. I’m sure Seniman will have a great success with this initiative. –  Mike, Professional Barista, Australia.    

Seniman are at the forefront of inventive coffee roasting. There are pushing the boundaries of roasting and initiating new conversations around coffee in all its forms. Indonesia needs Seniman.–  Robert, Coffee Roaster, Jakarta  

Visitors to Bali always love to see where coffee is grown! Many people have never seen a coffee tree and really enjoy meeting the local farmers. When they see the process of growing and harvesting coffee their appreciation of drinking coffee expands. I love seeing the smile on peoples’ faces when they see the ripe coffee fruit and connect this to the drink they have in the café. My job is very rewarding. –  Kadek, coffee farmers co-op representative from Kintamani, Bali.  

Seniman Coffee Studio

Tim Ho Wan Jakarta Hadirkan 5 Menu Spesial Baru

0

Special Menu

Restoran Dim Sum berbintang Michelin, Tim Ho Wan di bulan Juli 2015  menghadirkan 5 menu spesial baru khusus untuk para pecinta Dim Sum di Jakarta dan sekitarnya. Gerai Tim Ho Wan yang berlokasi di Pantai Indah Kapuk, Jakarta ini  meluncurkan hidangan istimewa baru berupa Shrimp Wonton with Spicy Sauce (Pangsit Udang Saus Pedas), Kway Teow Siram Seafood, Fried Seafood Balls with Apricots (Baso Seafood Goreng dengan Aprikot), Steamed Chicken with Fish Maw (Tim Ayam dengan Perut Ikan) dan Lemon Grass Jelly with Strawberry (Jelly Sereh dengan Strawberry).

Direktur Tim Ho Wan Indonesia, Michael Goh menyampaikan, “Tim Ho Wan merasa bangga dan senang untuk dapat selalu menghadirkan kreasi-kreasi baru yang istimewa bagi pelanggan setia kami. Bulan Juli ini, kami mempersembahkan 5 menu baru sekaligus yang bukan saja disiapkan dengan bahan-bahan segar dan bekualitas, namun juga menawarkan cita rasa yang spesial. Silahkan datang ke gerai kami dan rasakan kenikmatannya!”
Fried Seafood Ball with Apricots
Shrimp Wonton with Spicy Sauce
Lemon Grass Jelly with Strawberry
Gerai Tim Ho Wan pertama di Hong Kong adalah sebuah restoran kecil dengan peralatan makan sederhana. Meski tampil apa adanya, kelezatan hidangan terbaik yang mereka suguhkan membuat restoran ini dibanjiri pengunjung yang rela antri karena kecilnya ukuran restoran.
Meski tampil tidak bergelimang kemewahan, restoran ini berhasil memperoleh bintang Michelin karena hidangannya yang tak kalah mewah dengan yang disuguhkan di hotel berbintang. Harganya yang amat terjangkau membuat pemrakarsa restoran ini menyebut Tim Ho Wan sebagai “restoran berbintang Michelin paling terjangkau di dunia”.

Digital Era

0

PETA bisnis transportasi di Jakarta dan beberapa kota besar di  Indonesia, agaknya memerlukan definisi baru setelah muncul jasa pelayanan transportasi model GrabTaxi, GrabBike, Go-Jek, Uber, yang memanfaatkan aplikasi di ponsel. Itu hanya salah satu contoh, bahwa meningkatnya tren digital dan perangkat mobile telah mengubah perilaku konsumen.  

Gadget, termasuk ponsel, sudah menjadi bagian yang tak tak terpisahkan dalam keseharian masyarakat saat ini. Menurut laporan IDC “Always Connected” dua tahun yang lalu, sebanyak 79 persen pengguna smartphone selalu membawa ponsel mereka dalam berbagai situasi. Selain  sebagai kebutuhan untuk berkomunikasi, orang mulai memanfaatkan platform digital untuk yang melakukan berbagai kegiatan – termasuk transaksi bisnis.  

Sebuah penelitian menunjukkan sebagian besar pengguna digital lebih suka mengakses internet melalui  smartphone, bahkan melebihi yang melalui desktop (laptop termasuk di dalamnya).  

Selain itu, penggunaan aplikasi oleh konsumen juga terus meningkat. Masyarakat memilih platform digital berdasarkan pencarian mereka di browser ponsel. Oleh karena itu, produsen (atau publisher untuk media) harus melakukan lebih dari sekadar membangun sebuah aplikasi dan berharap konsumen (atau pembaca) akan menggunakannya.  

Itu sebabnya, setelah muncul di iPad dan Android Tablet – juga di laptop dalam bentuk PDF, MALE pun hadir pula di smartphone (iPhone dan Androidphone). Ini tak lain, karena kami ingin hadir di semua platform agar bisa menjangkau pembaca yang labih luas.    

Kemampuan majalah digital memang tidak bisa dibandingkan dengan majalah konvensional. Perkembangan majalah digital tentunya berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi yang menjadi device atau alat untuk mengakses majalah tersebut. Majalah digital isinya tidak sekadar teks dan foto, tapi bisa memperkayanya dengan video, suara, fitur interaktif, serta tautan web, yang memungkinkan pembaca surfing ke tempatlain. Welcome to digital era!

Sumber: MALE Zone, MALE Magazine

1st Anniversary AWkitchen Pasta House di Indonesia

0
Satu tahun sudah AWkitchen Pasta House memperkaya kosa restoran di Indonesia, tepatnya di Jakarta. Restoran ini pertama kali hadir di Jepang dengan pendirinya Akira Watanabe yang mengangkat menu pasta sebagai unggulannya. Setahun di Jakarta, AWkitchen Pasta House tak pernah sepi pengunjung. Hal ini tentu tak lepas dari peran serta media dan blogger yang turut serta meliput di awal kiprah restoran ini di Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut maka pada 3 Juli 2015 ini, AWkitchen Pasta House berbagi kebahagiaan dengan mengadakan dinner yang dikhususkan bagi food blogger dan pada yang selama ini telah membantu sepak terjang AWkitchen Pasta House.  Sehari sebelumnya, 2 Juli 2015, acara yang yang sama juga diadakan untuk media.
“Kami mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada rekan-rekan media yang selama ini telah membantu kesuksesan AWkitchen Pasta House, sejak pembukaan hingga perayaannya yang pertama ini,” kata Lowrenz Tanuwidjaja, Director of Operation. “Kesuksesan AWkitchen tidak mungkin terjadi tanpa support dari teman-teman media dan blogger dan tentu saja dari our loyal customers.”
 
Pada perayaan anniversary ini, AWkitchen mengadakan Promo Anniversary berupa lucky draw discount up to 50% off di sepanjang bulan Juni dengan Grand Prize Trip ke Bali selama 3 hari 2 malam untuk dua orang. Untuk memeriahkan anniversary ini juga diadakan Photo Challenge Moment di mana pelanggan bisa meng-capture makanan/momen mereka di AWkitchen, upload ke social media dengan hashtag #awkanniversary untuk mendapatkan kesempatan memenangkan iPhone 5s.
Trenette Pasta
Berita lain yang tak kalah menggembirakan adalah AWkitchen akan membuka gerai ke dua di Plaza Indonesia pada Desember 2015 dengan konsep yang tidak kalah menarik dari AWkitchen yang pertama.
Capellini Genovese
Calzone
Berbagai promo lainnya yang menarik seperti:
  1. Happy Hour Promo: Get 50% Off 2nd Cocktail, Daily from 3-6pm
  2. La Festa Frutti di Mare Promo: A trio of specially created Seafood dish to delight your senses. (Salmon Pink Radish Carpaccio with Sake Dressing, Spaghettini Ikasumi with Tarabagani, and Acqua
  3. Pazza)
  4. Afternoon Delight Hi-Tea Promo: Delicious array of sweet and
  5. savory petit-fours for 2 persons at only IDR 125++, daily from 3-6pm.
  6. Monthly Special Menu: our upcoming Cold Pasta Festival yaitu pasta dingin dengan saus dan seafood yang segar. Menu Cold Pasta ini adalah salah satu andalan AWkitchen di Jepang, dan membuat AWkitchen menjadi salah satu restoran ternama di sana.
  7. Lunch Set Menu: Set Menu yang khusus dibuat untuk santapan siang hari, di mana hanya dengan IDR 150,000++ pengunjung dapat mencoba Chef’s Salad, berbagai macam Homemade Pasta, dan minuman Iced/Hot Tea.

Superhero Indonesia

0

BOLEH dikatakan setiap orang memiliki tokoh komik favorit dan superhero tersendiri. Cerita itu bisa diperoleh dari mana pun, salah satu sumber yang paling populer: komik.  

Komik meliputi jenis manga, Marvel, atau DC. Tapi tahukah Anda tokoh superhero asal Indonesia? Ada sejumlah komik yang terkenal pada masa lalu, seperti Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Pangeran Mlaar, Aquinos, Godam, dan Gundala Putra Petir.  

Sayangnya, ketika komik Jepang dan Amerika masuk ke Indonesia, pamor komik lokal langsung menurun. Padahal sejarah mencatat Indonesia memiliki banyak komikus andal dan cerdas yang melahirkan banyak tokoh superhero lokal yang tak kalah dibanding komikus luar negeri.  

Cerita panjang komik superhero Indonesia dimulai dengan munculnya tokoh heroik Sri Asih dan Siti Gahara karya R.A. Kosasih, serta tokoh Putri Bintang dan Garuda Putih karya John Lo, pada era 1950-an. Kemudian pada 1970 hingga 1980-an, komikus lokal menikmati masa kejayaan komik Indonesia. Saat itu yang naik daun adalah Godam, Si Buta dari Goa hantu, Walet Merah, Panji Tengkorak, Jaka Sembung, Bajing Ireng, dan Gundala Putra Petir.  

Dari segi cerita, komik lokal tak kalah dibanding komik impor. Bahkan karakternya memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing. Panji Tengkorak, yang lahir dari tangan Hans Jaladara, misalnya, digambarkan dengan pakaian compang-camping, bertopeng tengkorak, dan selalu membawa peti mati. Berbeda halnya superhero saat ini, yang menunjukkan adanya kesan wah dengan warna yang mencolok.

Begitu juga dengan superhero besutan Hasmi, Gundala Putra Petir. Jagoan yang satu ini tak kalah tenar pada era 1970 hingga 1980-an. Kostum Gundala mengingatkan kita pada superhero asal Amerika, The Flash, yang memiliki kecepatan super.  

Hanya saja, dari segi penceritaan, Hasmi memasukkan unsur legenda Ki Ageng Selo, yang memiliki kekuatan menangkap petir, sebagai sumber kemampuan karakter Gundala.  

Kemampuan Komikus Lokal

Meskipun sempat kalah pamor oleh komik asing pada 1990-an, kini bermunculan bakat baru di dunia komik yang lebih matang, variatif, dan kreatif. Terinspirasi oleh kesuksesan heroik luar, para komikus itu mencoba mengikut tren superhero yang sedang digemari dan diaplikasikan dalam karya mereka, baik dari segi kostum, cerita, maupun strategi promosinya. Bukan hanya itu, sudah mulai banyak rumah produksi komik yang berfokus mengembangkan dan membangkitkan komikus underground.  

Beberapa karakter sudah dikenal dan menarik penggemar komik, salah satunya Nusantaranger. Penciptanya adalah tim bertalenta, yang terdiri atas Shani Budi Pandita, Tamalia Arundhina, Keinesasih Hapsari Puteri, Sweta Kartika, Indra Arista, M. Bisri Mustova, dan Hendranto Pratama Putra. Nusantaranger merujuk pada serial Jepang, dengan jagoan yang beranggotakan lima orang yang memiliki kekuatan super.  

Komikus lain, Galang Tirtakusuma, menghadirkan kisah superhero Go! Garudaboi, yang dikemas dengan karakter serta cerita yang ringan dan lucu. Seperti pada zaman keemasan komik Indonesia, unsur komedi tak pernah lupa dimasukkan.  

Tak ketinggalan duo partner Aswin M.C. Siregar dan Marcelino Lefrandt menghadirkan karakter Volt pada 2012, di bawah bendera Skylar Comics. Volt adalah superhero yang memiliki kekuatan listrik. Latar cerita diambil dari beberapa tempat di Indonesia, seperti Kota Jakarta, Kepulauan Seribu, dan Gunung Krakatau.  

Tak hanya ingin menarik hati penggemar lokal, go international menjadi mimpi terbesar keduanya. Kini saatnya Indonesia menunjukkan potensi dan karya yang belum sepenuhnya dikenal. Yang terpenting adalah kebangkitan komik Indonesia yang mendorong komikus muda berani berkarya.

Sumber: MALE Zone, MALE 141

The Power of Social Media (2)

0

YouTube bukan sekadar media sosial saat ini. Jutaan orang di dunia telah menikmati berbagai layanan videonya. Awalnya mungkin terlihat remeh, tapi berikutnya adalah sebuah kekuatan. Justin Bieber dan Adele adalah salah dua contoh orang yang berhasil meroket berkat video yang diunggah ke platform ini. Media online yang dibuat 10 tahun yang lalu ini bukan sekadar ajang penunjang komunikasi belaka. Lewat YouTube, justru ada bakat yang mencuat dan menjadikan seseorang selebritas. Mungkin Steve Chen, Chad Hurley, dan Jawed Karim tidak pernah mengira situs buatan mereka, YouTube, menjadi panggung bakat bagi penggunanya.  

Mengapa begitu banyak yang mengunggah video ke YouTube, tapi hanya segelintir yang populer? Ternyata bukan sekadar faktor keberuntungan tak bermain di sini!  

YouTuber yang berbakat biasanya mengerti bagaimana menghubungkan diri dengan budaya pop yang berkembang di tengah masyarakat. Bahkan ia piawai menempatkan diri dengan merespons topik yang sedang diperbincangkan oleh masyarakat. Salah satunya pembuatan video parodi bisa menjadi jalan cepat meraih popularitas. Video parodi seperti yang dibuat Norman Kamaru semasa menjadi anggota Brigade Mobil, misalnya, berhasil mengangkatnya ke dunia gemerlap, meski ia tak berniat menjadi selebritas.  

Bagi Wisnu Adji, yang terlibat dalam produksi film Toba Dreams, YouTube merupakan wadah buat orang yang memiliki bakat. “Dengan adanya YouTube, orang bisa menyalurkan bakat terpendamnya. Kreativitas pun tidak sebatas akting atau bernyanyi, tapi banyak bakat yang bisa diperlihatkan,” ujar laki-laki yang kerap mengadakan kasting untuk artis film itu.  

 Web 2.0 Di era Web 2.0, media sosial bukan lagi ajang penunjang komunikasi belaka. Pada zaman kejayaan digital ini, informasi apapun bisa menyebar cepat bak virus melalui dunia maya (viral). Melalui  media sosial, seperti cerita di atas, seseorang yang tadinya tidak dikenal masyarakat jadi populer – dari nobody menjadi somebody.  

Lebih jauh, media sosial saat ini ikut menentukan apa yang diperbincangkan masyarakat. Bahkan media mainstream pun memperhitungkan apa yang diperbincangkan di media sosial. Menurut penelitian, 70 persen wartawan juga memiliki media sosial dan mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan, karena mereka harus mencari isu apa yang sedang ramai di masyarakat.  

Pendeknya, kekuatan Internet yang mengubungkan seluruh penduduk dunia, membuat peristiwa sekecil apapun di kota kecil sekali pun, bisa dengan cepat terkoneksi ke seantero jagat. Apalagi bila informasi itu bergulir secara massif  melalui media sosial.  

 Sumber: MALE Zone, MALE 140

Ngenteni Buka Ning Pasar Klewer

0

Ngabuburit serasa berada di Pasar Klewer, Solo

Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1436 Hijriah, 19 Juni s/d 5 Juli 2015, La Piazza Summarecon Kelapa Gading mempersembahkan sebuah kegiatan yang menarik bagi para pecinta kuliner, juga para pecinta kain Nusantara. “Ngenteni Buka Ning Pasar Klewer” merupakan tema yang diangkat dalam festival kuliner yang diadakan sembari menunggu saat berbuka puasa, dibalut dengan nuansa dekorasi Jawa Tengah dengan menghadirkan replika gerbang Pasar Klewer yang ada di Solo.  

Tema tersebut diangkat sebagai salah satu bentuk kepedulian Summarecon kepada para pedagang batik di Pasar Klewer yang tertimpa musibah kebakaran beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan ini, selain bisa mendapatkan beragam kuliner lezat, pengunjung juga bisa melihat dan mendapatkan beragam kain batik khas Solo di area Multi Purpose Hall La Piazza dari 36 peserta Bazar Batik Pasar Klewer yang didatangkan langsung dari Solo.  

Liliawati Rahardjo, Direktur Summarecon mengatakan, “Kami tergerak memilih tema Pasar Klewer adalah berawal dari terjadinya insiden kebakaran di Pasar Klewer pada bulan Desember lalu. Kebetulan, Summarecon juga mempunyai event tahunan yaitu Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF), yang diselenggarakan setiap bulan Mei, yang secara konsisten bertujuan menjadi sarana memelihara kekayaan budaya Indonesia, serta mendorong industri berbasis budaya untuk maju. Oleh sebab itu, adanya momentum bulan Ramadhan yang relatif cukup dekat dengan periode penyelenggaraan JFFF, serta kami harapkan akan memberikan keuntungan yang baik bagi usaha mereka, maka kami kolaborasikan pula event Pasar Klewer ini dengan program kuliner ala Solo sebagai alternatif masyarakat berbuka puasa, serta dilengkapi dengan hiburan khas Jawa.”  

Banyak masyarakat umum yang kurang memahami bahwa batik adalah sebuah proses dan bukan hanya sekedar motif, dan betapa sulitnya proses pembuatan batik tersebut. Proses pembuatan batik itu sendiri sebenarnya adalah sebuah kekayaan budaya yang harus dijaga agar tidak punah. Meskipun Batik Indonesia telah ditetapkan UNESCO sebagai “World Heritage”, namun masih membutuhkan berbagai program untuk menjaga kelestariannya. Hal ini pula sekaligus yang membuat Summarecon tergerak untuk turut mensosialisasikannya ke masyarakat serta mendorong kepedulian mereka.  

Bertujuan untuk memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai berbagai kualitas batik, maka terdapat dua area pemaparan batik. Pertama yaitu di Multi Purpose Hall, pengunjung dapat mengeksplorasi batik umum dengan kualitas rata-rata dan harga yang lebih terjangkau. Kedua adalah Galeri Batik Eksklusif di La Prisma, yang menyediakan batik-batik terbaik berkualitas tinggi dengan tingkat pembuatan cukup rumit dari Danar Hadi, Djawa, Puro Mangkunegaran, dan Buana Alit Gallery.  

Tak hanya pedagang batik, untuk melengkapi suasana khas Solo, 10 peserta kuliner Pasar Klewer juga khusus didatangkan dari Solo, yaitu Markobar, Srabi Solo Notosuman Ny. Handayani, Jamu Arum Sari, Pukis Telur Kampung Asli & Lekker Solo Sumber Rejeki, Oleh-Oleh Khas Solo Ny. Handayani, Nasi Liwet & Ayam Goreng Kampung Solo Asli Ny. Lany, Selat Segar Galantin & Nasi Langgi Solo, Bakso Pak Min Penumping Solo, Dawet Bu Dermi Pasar Gede Solo, dan Soto Ayam Lek Sri Asli Solo.  

Salah satu yang cukup spesial adalah Markobar, singkatan dari Martabak Kottabarat, menyajikan martabak manis dengan berbagai topping seperti coklat kitkat dan ovomaltine yang saat ini sedang menjadi tren di kalangan anak muda. Di Solo, Markobar berangkat dari usaha kaki lima yang kemudian berkembang menjadi kafe tempat anak muda berkumpul. Usaha ini dirintis oleh salah satu putra Presiden Jokowi.  

Suasana berbuka puasa di event “Ngenteni Buka Ning Pasar Klewer” semakin seru dengan hadirnya berbagai hiburan khas Jawa, antara lain Gamelan, Tari Bedoyo Kirono Ratih yang langsung dibawakan oleh penari dari Keraton Surakarta Hadiningrat pada 19 Juni 2015 pukul 18.30 WIB, juga yang cukup menarik yaitu musik Keroncong yang dibawakan oleh Sundari Soekotjo dan putrinya Intan Soekotjo pada 19 Juni 2015 pukul 19.00 WIB.

Aussie

0

AUSTRALIA posisinya memang berada di bawah, tapi untuk urusan seni melambung tinggi di atas. Melbourne, bahkan disebut sebagai the city of art. Berkeliling Kota Melbourne seolah mengunjungi pameran seni dengan berbagai aliran. Di sepanjang jalan-jalan di kota saja dapat ditemukan beragam karya seni. Bahkan penempatannya sangat menakjubkan.  

Sejak 1850-an, Pemerintah Kota Melbourne mengeluarkan kebijakan mempercantik kota dengan menempatkan banyak karya seni. Sampai 2015, kabarnya koleksi yang ada di dalam kota sudah lebih dari 8.000 karya. Karya-karya itu sangat beragam, mulai karya dalam ruangan, artefak, patung, seni instalasi, tugu peringatan, hingga berbagai bentuk air mancur.  

Sebagai kota yang lekat dengan seni dan kebudayaan, Melbourne merupakan kota di Australia yang sarat dengan hiburan. Berbagai festival diadakan setiap tahun, hingga akhirnya pesta rakyat itulah yang menjadi alasan kuat berkunjung ke kota tersebut. Berikut ini lima besar festival dengan predikat wajib kunjung: Laneway Festival, Melbourne International Jazz Festival, Melbourne International Film Festival, Melbourne Writers Festival, dan Melbourne Fringe Festival.  

The Famous Melbournian Musician Pada 1970-an, Australia kebanjiran musikus dan penyanyi dari seberang lautan. Semua stasiun radio memutar lagu-lagu dari Inggris dan Amerika. Kemudian muncul masalah ketika stasiun radio harus membayar lagu yang diudarakan. Hal itu menimbulkan konflik terbuka antara radio dan lisensi label di Australia. Walhasil, banyak stasiun radio yang beralih ke label independen yang bermunculan di Australia.  

Kondisi tersebut malah menguntungkan musikus di Australia. Para musikus pun menciptakan karya bercirikan warna musik Australia, meskipun ada beberapa yang membawakan cover version penyanyi terkenal. Konflik yang membuahkan kreativitas ini mengangkat nama AC/DC, Sherbet, dan John Paul Young di dunia musik lokal. Di samping itu, media lokal turut mendukung keberadaan musikus lokal yang memperkaya kreativitas mereka.  

Karya orisinal hasil kreativitas mereka pun menjadikan para musikus ini sukses di luar Australia. Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, AC/DC, Rose Tattoo, dan Little River Band mereguk kesuksesan di luar tanah air mereka. Diam-diam pula beberapa penyanyi, seperti Olivia Newton-John, mencecap keberhasilan di Amerika. Single-nya Let Me Be There meraih Country Music Association Female Vocalist of the Year pada 1974.  

Keindahan suara Olivia Newton-John mengalahkan musikus asal Nashville, seperti Loretta Lynn, Dolly Parton, dan Tanya Tucker. Kemenangannya itu mengundang protes, karena Olivia Newton-John bukanlah asli Amerika. Namun ia malah dibela oleh penyanyi country lainnya, seperti Stella Parton, saudara Dolly Parton, yang kemudian merilis lagu Ode to Olivia (1976).  

Berbicara tentang Melbourne berarti berbicara mengenai Air Supply, grup yang membawakan lagu-lagu bergenre soft rock. Lirik lagunya dikenal memiliki kedalaman tema tentang cinta, yang disukai pasar, dengan harmonisasi yang sangat kuat. Dua personel grup ini, Russell Hitchcock dan Graham Russell, sangat tersohor.  

Pada 1977, mereka menjadi band pembuka dalam tur Rod Stewart di Australia, yang kemudian membawa Air Supply pada konsernya di Amerika dan Kanada. Tiga tahun kemudian, dengan Lost in Love, mereka mengangkangi Amerika dengan penjualan lebih dari 3 juta keping. Air Supply pun menjelma ibarat pohon besar dengan akar yang sangat dalam.  


Orisinalitas Nomor Satu
Sejumlah nama yang mendulang kesuksesan di luar negeri, di antaranya, Nick Cave and the Bad Seed, Little River Band, Jason Donovan, Kylie Minogue, Dannii Minogue, Tina Arena, dan Jet. Perbedaan adalah kreativitas yang mereka pertaruhkan. Meskipun sepintas memiliki kemiripan dengan musikus dan penyanyi sejenis, sebenarnya musiknya jauh berbeda.  

Seperti dikatakan oleh Nick Cave, musikus dan penulis lagu dari Australia, ada faktor yang membuat mereka dapat menelurkan karya yang baik. Faktor tersebut adalah mencari, mengumpulkan, dan meramu bahan yang ada menjadi sesuatu yang belum pernah tercipta. Identitas para musikus itu sangat melekat pada karya mereka, baik lagu maupun kemampuan musikalitas yang dimiliki. Kekuatan dan bakat itulah yang membuat nama mereka melambung. Perhatikan saja Tina Arena, yang dipuji-puji media di luar Australia sebagai penyanyi yang memiliki karakter vokal yang kuat dan mulus serta pitch yang sempurna.  

Paul Dempsey adalah contoh musikus abad ke-21 asal Melbourne yang memiliki kemampuan memainkan instrumen, mulai piano, gitar, drum, hingga perkusi. Ia terbukti mampu mengolah musiknya dengan baik hingga menghasilkan karya yang dahsyat. Bersama band-nya, Something for Kate, ia mendapat berbagai penghargaan dalam acara musik bergengsi.  

Mengulik Melbourne berarti mengulas pula genre electronic dance. Genre ini sangat populer di kota tersebut sebanding dengan festival yang terselenggara sepanjang tahun. Maka hadirlah School of Synthesis, yang salah satu pemiliknya Davide Cerbone, produser musik bergenre electronic dance. Saking populernya genre itu, ada band rock yang memasukkannya dalam komposisi musiknya, seperti yang dilakukan band Regurgitator dan Rogue Traders.  


Sumber: MALE Zone, MALE 139 http://male.detik.com

Sushi Kiosk: Grab & Go!

0

Gerai Sushi Kiosk hadir dengan konsep baru Grab & Go dan lebih seru. Ini akan jadi pilihan praktis bagi penggemar makanan Jepang yang sibuk dan tidak memiliki waktu banyak untuk makan di tempat.  

Konsep baru Grab & Go dari Sushi Kiosk ini menawarkan konsep unik, di mana customer dapat langsung memilih menu pada rak display yang ada dengan cepat, praktis, simple dan tidak perlu menunggu lama serta langsung membawanya ke meja kasir. Customer dapat menikmati menu tersebut tidak hanya secara take away, namun untuk para penikmat Sushi yang punya sedikit waktu luang dan ingin langsung menikmati di tempat juga bisa. Dan tentu saja dengan jaminan kesegaran bahan makanan berkualitas!  

 Henky Pho, General Manager Shusi Kiosk menyampaikan, “Sushi Kiosk dengan konsep baru Grab & Go ini khusus kami persembahkan untuk para customer setia kami. Dengan zaman yang sudah berubah dan semua serba cepat, customer kami tetap dapat menikmati makanan Jepang kegemarannya dengan praktis dan tentunya berkualitas. Kami berkomitmen untuk tetap hadir dengan bebagai inovasi produk baru sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan saat ini.”   Lebih jauh, Henky menambahkan bahwa konsep baru dan lebih seru ini hadir dengan ragam menu makanan Jepang yang begitu kaya, mulai dari sushi, sashimi, bento dan onigiri yang dijamin mengundan selera, sesuai kebutuhan dengan harga terjangkau.  

Sushi Kiosk pertama kali hadir di bawah Manajemen PT Sushi Tei Indonesia dan menjadi penggagas konsep Sushi Grab & Go pertama di Indonesia. Selain gerai yang berlokasi di Puri Indah Mall, Sushi Kiosk juga dapat ditemui di Mall Ciputra, Carrefour Lebak Bulus, Mall Alam Sutera, WTC II Sudirman, Giant Ekstra Sentul, Giant Ekstra Bintaro dan Giant Ekstra BSD. Dengan konsep unik dan praktis ini, membuat para penggermar Sushi kini memiliki banyak pilihan karena Sushi Kiosk juga membuka gerainya di Surabaya dan pulau Bali.  

Bagi para penikmat Sushi….., let’s Grab & Go at Sushi Kiosk… and enjoy it!

Pergundikan

0

Kolonialisme tak hanya menyangkut kekuasaan ekonomi, tapi juga eksploitasi kebutuhan seksual. Begitulah, pada masa kolonialisme, pemerintah Belanda melalui kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mendatangkan banyak pria tanpa pasangan wanitanya ke bumi Nusantara. Lambat-laun pegawai VOC yang hidup tanpa pendamping itu—walaupun di tanah kelahirannya ada yang berstatus menikah, tapi istrinya tak diajak serta—merasa tertekan karena kebutuhan domestiknya terabaikan.  

Saat itu terjadi kekurangan perempuan Eropa yang sangat besar di daerah pendudukan. Kebanyakan laki-laki Eropa mengatasi masalah kebutuhan seksual mereka dengan menjadikan wanita Asia gundik. Perempuan yang dijadikan gundik adalah budak yang diambil dari India, Filipina, Sulawesi, dan Bali.  

Sejarah mencatat, terjadi ikatan antara pria Eropa dan wanita pribumi Asia akibat kekurangan wanita Eropa. Sayangnya, hubungan tersebut jarang yang berlanjut ke jenjang pernikahan, tapi hanya sebatas pergundikan.  

Hanya saja, di mata Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-4, Jan Pieterszoon Coen, pola hidup bersama pria Eropa dengan budak perempuan pribumi mengarah pada berbagai perilaku liar, tidak terkendali, dan membahayakan kepentingan kolonial. Kemudian ia mengeluarkan larangan memelihara gundik di rumah atau tempat lain, yang berlaku pada 11 Desember 1620.  

Walau begitu, Coen juga mengerti lelaki di wilayah pendudukannya harus diberi alternatif, selain pergundikan. Kemudian ia menetapkan kriteria calon pengantin perempuan kulit putih haruslah gadis atau perempuan muda yang berkelakuan baik.  

Akhirnya, demi memenuhi kebutuhan biologis pegawainya, untuk pertama kali didatangkanlah perempuan Belanda yang disebut compagniesdochters. Namun kenyataannya jumlah pernikahan laki-laki VOC dengan perempuan kulit putih hanya sedikit. Yang lebih banyak justru laki-laki Eropa yang memiliki gundik perempuan Asia.  

Nyai Mengurus Tuan

Istilah nyai muncul pada masa kolonial berkaitan dengan sistem pergundikan yang dibuat oleh Belanda. “Konsep tentang nyai muncul pada saat datangnya penjajah Belanda ke Nusantara. Kita tidak pernah mendengar orang Portugis mempunyai nyai,” ujar Ruth Indiah Rahayu, peneliti feminisme dari Institut Kajian Krisis dan Studi Pembangunan Alternatif.  

Ruth menambahkan, pergundikan di Nusantara merupakan sistem, yang berarti di dalamnya ada struktur, mekanisme, dan tradisi. Istilah seperti selir, nyai, serta lady escort sebetulnya sama dengan pergundikan dalam bahasa Melayu, tapi memiliki perbedaan waktu dan konteks.  

Selir dikenal dalam konteks masa imperium atau kerajaan ketika raja pada masa itu, baik di Nusantara maupun di seluruh dunia, mempunyai perempuan lain di luar istri resminya. Selir biasanya ditempatkan di tempat khusus, sejenis keputren, dan jumlahnya bisa ratusan, bahkan tak terhitung.   Adapun fungsi nyai berbeda dengan selir, walaupun prinsipnya sama. Nyai muncul untuk menjawab kebutuhan pria kolonial, yang lajang ataupun sudah menikah, tapi tidak membawa serta istrinya. Fungsi nyai rupanya tak sebatas urusan domestik, tapi juga meliputi pelayanan seks bagi tuannya.  

Selain perempuan Jawa, Reggie Baay dalam bukunya menceritakan, ada yang mempergundik perempuan Tionghoa dan Jepang. Umumnya yang dipilih peranakan Tionghoa yang sudah satu generasi hidup di Hindia Belanda. Goey La Nio, anak pedagang beras Tionghoa, adalah gundik Eduard Kerkhoven, pengusaha perkebunan teh terkenal pada abad ke-19.  

Nyai Jepang adalah anak imigran Jepang, yang juga bekerja di bidang perdagangan seperti orang Tionghoa. Ada juga perempuan Jepang yang dibawa pemilik rumah bordil ke Hindia Belanda hingga akhirnya hidup dalam pergundikan.  

Pada saat itu nyai Jepang sangat disukai laki-laki Eropa, terutama karena sikap rendah hati dan pengabdiannya. Sifat seperti itu sebetulnya telah dimiliki nyai Jawa dan Tionghoa, tapi menurut lelaki Eropa, nyai dari Negeri Geisha adalah pemenangnya.  

Tapi apa pun, posisi nyai sangatlah lemah di bawah kekuasaan si tuan yang begitu besar. “Relasi antara tuan Belanda dan nyai bisa bermacam-macam. Ada yang tuan Belandanya memperlakukan nyai secara manusiawi, tumbuh cinta di antara keduanya, atau sebaliknya, diperlakukan seperti budak. Ada pula yang hanya butuh anak dari nyai. Ketika si tuan Belanda sudah selesai masa tugasnya di Nusantara, lalu kembali ke Belanda, biasanya anak hasil hubungan dengan nyai ditinggal begitu saja atau dibawa ke Belanda. Hampir tidak ada nyai yang dibawa ke Belanda ketika masa tugas tuannya di Nusantara berakhir,” ujar Ruth. (R. Anandita)  

 Sumber: Features, MALE 138