Home Blog Page 76

Adventure to Lombok & Gili Trawangan (1)

0

PEMBERIAN tiket Garuda Indonesia, via Mbak Ainun Chomsun, untuk bepergian ke mana pun, boleh memilih salah satu destinasi dari Sabang sampai Merauke, jelas sangat menarik. Ini salah satu dari program Garuda SocialMiles, yaitu sebuah platform yang komprehensif tentang Indonesia di online dengan tujuan untuk lebih mengenalkan Indonesia kepada dunia.  

Kerajinan Tenun Tradisional, Desa Sukarara

Tadinya saya pengen terbang ke Raja Ampat, yang kata orang, pemandangannya sangat menakjubkan. Tidak heran, banyak resor-resor mewah dibangun di sana. Tapi segera terpikir, hanya dengan selembar tiket pesawat p.p., tentu akan banyak PR yang harus dikerjakan untuk berpetuang ke suatu tempat, mulai dari mencari hotel atau resor, transportasi lokal, makan selama di sana, dan seterusnya, yang tentunya membutuhkan biaya tak kecil.  

Well, maka teringatlah saya dengan seorang teman yang baik hati (dan tidak sombong), Dewi Shintawati, orang perhotelan yang kini menjabat sebagai Regional Public Relations Manager – Bali & Lombok, Archipelago International, mungkin tidak keberatan untuk menjadi sponsor penginapannya, yang propertinya antara lain ada di Lombok (favehotel, Langko Mataram) dan Gili Trawangan (Aston). Raja Ampat sementara lupakan sejenak!  

Gayung bersambut, Shinta – demikian ia biasa dipanggil, tidak hanya menyediakan kamar hotel, tapi juga menyiapkan acara yang lebih heboh, “Adventure to Lombok & Gili Trawangan”, 29 – 31 Mei 2015.  

Blogger Jakarta

Saya boleh mengajak para blogger yang lain dari Jakarta, dan via Mbak Ainun, terkumpullah saya, Mbak Ainun sendiri (bersama Kika, anaknya semata wayang), Ndoro Kakung (bersama istri dan anak), Alle, Dimas Novriandi, Muhamad Imam, dan Ivan Loviano. Shinta sendiri akan mengerahkan sekitar 10 orang media dari Bali. Kunjungan ke Bali memang tidak terhitung, tapi ke Lombok, yang hanya “selemparan batu” justru baru sekarang ini. Memang, beberapa tahun yang lalu, saya pernah menginjakkan kaki ke pulau ini, tapi hanya sejenak sebagai bagian dari perjalanan wisata kapal pesiar “Spice Island Cruise” yang sekarang sudah tidak ada lagi.  

Wisata Kuliner

Pesawat Garuda GA 0434 mendarat di Bandar Udara Internasional Praya-Lombok, jam 09.00 waktu setempat, dan saya langsung bergabung dengan rombongan blogger dari Jakarta, serta awak media dari Bali, ditambah dua kru Trans TV, yang baru tahu belakangan, dari Jakarta. Sarapan di pesawat memang cukup, tapi kurang afdhol kalau belum merasakan kuliner Lombok. Rumah Makan Cahaya yang tak jauh dari bandara adalah sasarannya.  

Belajar Menenun di Sukarara

Rumah Makan Cahaya punya menu andalan Nasi Balap Puyung. Masakan ini memang berasal dari Kampung Puyung, Lombok Tengah, NTB, tapi kelezatannya membuat makanan ini merambah ke kota-kota, seperti Mataram, Lombok Barat. Pedas menjadi ciri khasnya. Selain itu di rumah makan ini pula  tentu ada ayam Taliwang, Lombok yang tak kalah menggodanya, dan jelas maknyus!  

Sukarara, Desa Kerajinan

Hari masih pagi, tapi di Lombok seperti ada dua matahari. Panas! Perjalanan berikutnya adalah Desa Sukarara, yang dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan tenun tradisional.  

Desa ini, secara administratif, masuk dalam Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat. Lokasi Desa Sukarara ini sekitar 25 Km dari kota Mataram atau sekitar 30 menit naik kendaraan, dan sekitar 5 Km dari kota Praya atau 5 menit dengan menggunakan kendaraan pribadi atau taksi.  

Berbagai Motif Tenun

Sebagian besar mata pencaharian penduduk Desa Sukarara adalah menenun. Semua perempuan di desa ini diwajibkan bisa menenun, bahkan belum boleh menikah jika belum menguasai ilmu menenun. Dengan alat tenun kayu (tentu, bukan mesin), mereka menghasilkan bermacam jenis kerajinan tangan khas Pulau Lombok. Seperti pakaian tradisional, taplak meja, selimut, selendang, dan lain-lain, dengan motif-motif yang indah. Karena hasil karya yang berkualitas tersebut, desa ini kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung domestik maupun mancanegara. Harga hasil tenunan juga bervariasi, mulai dari selendang seharga Rp 75.000,- (selendang) hinggga Rp 3 juta rupiah (satu set pakaian). Anda juga bisa menemukan baju batik di desa ini, baik batik tulis maupun cap, dengan karakter Sasambo dan Lombok.  

Desa Adat Sade

Desa Adat Sade

Desa Adat Sade, yang kami singgahi berikutnya, mempunyai keunikan tersendiri. Sasak adalah penduduk asli Pulau Lombok, yang saat ini populasinya sekitar 85%. Desa Sasak paling kuno adalah Desa Bayan, tetapi yang paling sering dikunjungi wisatawan adalah Desa Sade, salah satu dusun di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah.  

Rumah di Sade dibangun berbaris di mana yang paling menonjol dan khas Lombok adalah lumbung padi dengan atap berbentuk topi terbuat dari alang-alang. Padi dimasukkan melalui jendela terbuka. Beruga atau ruang upacara berdiri di atas enam pilar dan atapnya juga terbuat dari rumput gajah, memberikan suasana sejuk ketika cuaca terik dan hangat pada malam hari yang dingin.  

Nenek Pemintal Benang, Desa Sade
Batu Akik di Desa Sade

Sebagian besar suku sasak bekerja sebagai petani, sementara kaum perempuan lebih mahir menenun, memproduksi kain ikat Lombok yang indah. Buah tangan mereka bisa dilihat (dan dibeli, tentu) oleh para turis yang berdatangan ke situ. Tidak hanya kain tenun, merchandise yang lain juga mereka jual, bahkan barang yang lagi in, batu akik.

Media dari Bali
Tanjung Aan

Pantai Kuta dan Tanjung Aan

Setelah wisata budaya, kini saatnya menikmati keindahan alam. Pantai Kuta dan Tanjung Aan, adalah dua kawasan wisata pantai di Lombok yang wajib dikunjungi.  

Berbeda dengan dengan Pantai Kuta di Bali,  Pantai Kuta Lombok lebih sepi, jauh dari hituk-pikuk pengunjung. Pantai ini menyuguhkan pemandangan yang lebih alami, pasirnya putih seperti kertas yang membentang luas. Airnya sangat jernih, terlihat gradasi warna biru laut yang menakjubkan.  

Tanjung Aan juga tak kalah ajaibnya. Tak seperti pantai Lombok lainnya, pasir Pantai Tanjung Aan berbentuk bulat seperti merica. Pantai ini langsung berhadapan dengan Samudera Hindia, dan memiliki garis pantai sepanjang dua kilometer.  Pantai Tanjung Aan sangat tepat bagi Anda yang gemar ber-snorkling dan berenang. Menjelang sore permukaan air laut akan mulai naik, menjadikan pantai ini tempat yang tepat untuk berselancar.  

Favehotel, Langko

Smart Hotel

Perjalanan wisata hari pertama diakhiri wisata kuliner lagi, kali ini dengan menu spesial ayam bakar taliwang, yang disajikan bersama makanan khas Lombok lainnya, plecing kangkung. Menjelang petang, kami pun menuju favehotel Langko Mataram. Terletak di lokasi strategis di pusat Ibu Kota Lombok, hotel ini hanya berjarak 45 menit dari Bandara Internasional Lombok, serta berdekatan dengan kantor Walikota, kantor Gubernur, dan kantor pemerintahan lainnya yang dapat ditempuh dengan jalan kaki.  

Inilah jenis smart hotel yang nyaman untuk beristirahat. Dengan serangkaian fasilitas lengkap, serta desain yang khas, menjadikan hotel ini sebagai standarisasi untuk akomodasi budget di Mataram. (Burhan Abe)

Adventure to Lombok & Gili Trawangan (2)

Gili Trawangan, inilah destinasi kami berikutnya. Perjalanan dari favehotel Langko menuju ke Teluk Nare memakan waktu sekitar 45 menit, dan hanya 10 menit dengan speed boat untuk sampai ke Gili Trawangan. Gili (pulau) ini adalah satu dari tiga gili di Kabupaten Lombok Barat yang memiliki pesona tersendiri. Pantainya masih bersih, dan alam bawah lautnya konon salah satu yang terindah di dunia.  

Gili Trawangan
On Speed Boat

Gili Trawangan termasuk yang paling ramai dibandingkan dengan gili yang yang lain (Gili Air dan Gili Meno), dan sudah dipenuhi oleh resor berbagai kelas, yang bisa disesuaikan dengan anggaran para pelancong. Kebetulan, kami menginap di Aston Sunset Beach Resort, yang lokasinya berada di sisi lain dari pelabuhan Central Gili Trawangan.  

Kendaraan bermotor dilarang keras beroperasi di sana. Sebagai ganti, alat transportasi yang digunakan adalah sepeda dan cidomo, sejenis kereta kuda khas Lombok. Kami memilih naik sepeda, sedang tas dan kopor diangkut cidomo. Meski berpanas-panas ria, tapi sangat menyenangkan, hitung-hitung berolah raga bisa sambil menghirup udara bebas tanpa polusi.  

Welcome Drink

Tidak lebih dari 30 menit kami sampai ke Aston Sunset Beach Resort Gili Trawangan, di lobi kami mendapat welcome drink berupa es kelapa muda. Wow! Bak penawar haus di padang tandus!

Pintu Utama, Aston
One Bed Room Pool Villa

Hotel ini mempunyai 114 kamar yang luas yang kesemuanya memiliki teras pribadi, dan 10 kamar tidur pool villa dan 1 royal suite. Dilengkapi juga dengan kolam renang terluas ditambah pesona indah pulau itu. Dengan keseluruhan fasilitas dan layanan terbaik, resor ini tentu sangat cocok untuk beristirahat, berlibur, dan tentu berpetualang.

Night Market

Tinggal di pulau dengan luas sekitar 340 hektar dengan keliling pulau 7,5 km tentu sebuah ketenangan. Tapi bukan berarti tidak keriaan, justru pada malam hari tidak boleh Anda lewatkan saat berada di sini, menikmati kehidupan malam di Central. Jejeran bar dengan hingar bingar musik membuat malam di Gili Trawangan menjadi meriah.  

Cidomo

Kebetulan, menjelang sunset, Aston juga meggelar acara night market yang menyediakan banyak makanan, baik tradisional Indonesia, western, seafood grill, hingga cocktail. Sambil menikmati Matahari terbenam, para tamu juga diiringi live band yang memainkan musik dalam irama reggae.

Live Music
DJ Echa from Bali

Ketika langit mulai gelap, suasana pun berganti. Party by The Beach, sebuah tema yang pas, apalagi ditambah permainan musik dari DJ yag khusus didatangkan dari Bali. Pecah!

Snorkeling

Saya termasuk jarang berolah raga, juga tak terlalu sering berenang. Tapi snorkeling (selam permukaan) atau skin diving (selam dangkal) katanya wajib kalau berada di pulau ini. Hari ketiga, saya bersama rombongan blogger dari Jakarta dan awak Trans 7 menuju Gili Meno, yang airnya katanya paling tenang dan pemandangan bawah lautnya menakjubkan,  untuk berselam ria (maunya).

Snorkeling di Gili Meno

Semua orang pada akhirnya memang menikmati snorkeling saat itu, kecuali Ndoro Kakung. Siapa yang tidak tergoda. Saya pun ikut nyebur ke laut. Ups, segar! Tapi ternyata saya hanya bertahan beberapa menit saja, dan langsung menepi ke kapal lagi. Tidak hanya ngos-ngosan, tapi juga pusing pala barbie! Maklum, karena faktor “u”. Gagal sudah menemukan ikan nemo dan aneka terumbu karang yang indah. Tapi apa pun, perjalanan kali ini sungguh mengesankan. Keindahan alamnya, kita  bisa menikmati sunset dan sunrise di satu pulau, mengundang untuk datang lagi kelak. (Burhan Abe)

Industri Film Thailand

0

Thailand merupakan negara yang tidak hanya maju dalam bidang pertanian dan pariwisata, tapi industri perfilmannya juga menarik untuk disimak. Kekuatan budaya dan eksotisme tempat wisata yang ditawarkan menyedot wisatawan datang ke negara itu. Hal ini pulalah yang membuat sineas Barat kepincut membuat film berlatar keindahan, bahkan bertema, Negeri Gajah Putih.  

Setidaknya ada dua faktor lain, yang menjadikan negeri tersebut istimewa. Biaya produksi relatif rendah, dan banyak sumber daya manusia (SDM) yang berpengalaman. SDM yang memiliki kreativitas dan keahlian yang mumpuni membuat sineas  dari berbagai dunia, entah itu Hollywood, Bollywood, dan negara lainnya mendatangi Thailand.  

Dengan segala yang dimiliki, negara yang tergabung dalam ASEAN itu turut pula membuktikan tidak hanya menjadi tempat syuting film, tapi dapat pula menghadirkan karya besar yang layak diperhitungkan dunia.  

Selain pariwisata yang terangkat, dampak yang lebih luas adalah terbukanya lapangan pekerjaan bagi warga Thailand. Salah satu contoh destinasi wisata yang saat ini banyak dikunjungi adalah James Bond Island. Wilayah yang terpilih sebagai lokasi syuting James Bond itu adalah The Island of Ko Khao Tapoo, yang berdekatan dengan Phuket. Sejak digunakan dalam produksi film The Man with the Golden Gun, pulau itu masuk destinasi wisatawan dunia.  

The Scariest Movie

Kualitas film yang dibuat oleh Thailand tidak hanya sangat baik, tapi juga beragam. Diversifikasi genre yang dibuat menjadi daya tarik bagi penikmat film. Bahkan beberapa di antaranya mendapat kesempatan tampil di pentas internasional.  

Film The Iron Ladies, contohnya, berhasil menggebrak berbagai festival film dunia. Prestasi itu diraih berkat cerita yang diangkat, yakni mengenai sekelompok transeksual yang membentuk tim voli, yang memenangi kejuaraan tingkat nasional. Kisah itu berhasil memikat penonton hingga hadir kembali sekuelnya pada 2003.  

Thailand tidak main-main memproduksi filmnya. Pada 2003, ketika membuat film The Legend of Suriyothai, dilakukan riset mendalam. Biaya produksi yang dipersiapkan pun besar. Bahkan pembuat film ini melibatkan keluarga kerajaan dan pemerintah hingga diklaim sebagai a true national film.   Namun, di antara kesuksesan yang diraih perfilman Thailand, nama Apichatpong Weerasethakul, sutradara film Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives, menjadi perbincangan yang mengejutkan dunia. Ia banyak dibicarakan dalam perhelatan bergengsi Festival Film Cannes ke-63 pada 2010.  

Sutradara ternama Tim Burton, ketua juri Festival Cannes 2010, menyatakan film karya Weerasethakul tersebut sebagai a beautiful strange dream. Ia menambahkan, film itu dipilih sebagai pemenang karena seakan membuka perspektif yang berbeda, dan tentunya jauh dari bau serta rasa Barat.  

Kehadiran film Thailand dalam Festival Film Cannes bukanlah yang pertama. Dikutip dari CNN, setidaknya ada sekitar 12 film yang berhasil memukau Eropa, termasuk Tears of the Black Tiger (2001), yang menjadi film perdana Thailand yang secara resmi masuk nominasi festival tersebut. Industri perfilman Thailand kemudian dikenal dan memiliki karakteristik tersendiri dalam jenis horor.  

Genre yang ditujukan untuk menakuti penonton ini belakangan selalu dikaitkan dengan Thailand. Film-film horor buatan Thailand memang berhasil menebar ketakutan. Ceritanya sangat menggigit dan suasananya luar biasa mencekam. Sementara Jepang berhasil memberi ciri khas perpaduan modern dengan tema hantu, Thailand menciptakan rasa takut yang berlebih.  

Thailand tergolong produktif merilis film horor. Seperti dilansir oleh IMDb, Alone, 4bia, Coming Soon, dan 13: Game of Death merupakan film horor yang sukses meraih rating dan popularitas. Sementara Shutter, film horor yang dirilis pada 2004, memiliki rating 7,1 persen di IMDb dan rating 81 persen dari penonton dalam Flixster.  

Kuantitas dan kualitas yang saling mengisi dalam film Thailand itu membuat dunia perfilman Barat kini lebih terbuka terhadap kehadiran film Asia. Fenomena film remake dan adaptasi pun berasal dari negara tersebut. Thailand termasuk negara Asia yang memberi kontribusi kepada Hollywood atas kehadiran kembali karya populernya dalam versi baru.  

Sumber: Features by Dedy Sofan – MALE 137

Macau, Pertunjukan yang tak Pernah Berakhir

0

Siapa yang tak kenal Macau. Kota heritage peninggalan Portugis ini memiliki berbagai macam peninggalan sejarah. Di balik tenarnya sebagai kota sejarah, Macau juga memiliki tempat-tempat ‘surga’ belanja yang patut dikunjungi dan pertunjukan-pertunjukan yang dapat memukau para penonton. Kota yang tidak pernah tidur ini selalu menghadirkan hiburan-hiburan yang dapat menarik wisatawan untuk datang ke kota ini, seperti pertunjukan House of Dancing Water, The Dragon Treasure, Bungee Jumping di Macau Tower, festival budaya, Grand Prix hingga kemeriahan lampu-lampu gedung pada malam hari.  

Macau merupakan daerah pemerintahan istimewa Negara Republik Rakyat Cina (SAR-Special Administrative Region) sejak 20 Desember 1999 yang menganut satu negara dengan dua sistem sama halnya seperti Hongkong, dan kota/negara ini memiliki luas 29,2 km2. Macau terdiri atas Semenanjung Macau seluas 9,3 km2, Pulau Taipa seluas 6,7 km2, dan Coloane seluas 7,6 km2 serta perluasan daerah Cotai sebesar 5,6 km2.

Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Cina dan Portugis, namun umumnya mereka lebih sering menggunakan bahasa Cina Canton karena bahasa tersebut dipakai di kalangan pemerintahan untuk semua dokumen resmi dan komunikasi. Sedangkan bahasa Inggris dipakai hanya untuk perdagangan, pariwisata, dan perniagaan.

Mata uang yang digunakan di Macau adalah Pataca, namun mata uang dolar Hongkong juga diterima di kota ini.   Macau mempunyai Museum of Macau yang memamerkan awal terjadinya kehidupan masyarakat Macau selama lebih dari empat abad. Di museum tersebut, juga menggambarkan gabungan dua kebudayaan yang berbeda yaitu Portugis dan Cina yang menekankan karakteristik dua kultur dari kota itu dengan masing-masing kepercayaan dan upacara keagamaan yang berbeda, kehidupan sosial, arsitektur, olahraga, seni, dan makanan.

Dulunya, museum ini bernama Mount Fortress yang dibangun oleh kaum Jesuit sebagai markas besarnya pada 1617-1626 yang merupakan bagian terpenting dari pusat pertahanan kota karena dilengkapi meriam-meriam, barak-barak tentara, sumur-sumur dan gudang senjata untuk persediaan amunisi dan perbekalan selama dua tahun jika terjadi pengepungan. Mount Fortress merupakan pertahanan yang efektif dari serangan Belanda pada 1624, kemudian dijadikan sebagai kediaman gubernur.  

Mount Fortress atau Museum of Macau yang memiliki area seluas 10.000 m2 dibangun bersamaan dengan pembangunan gereja St. Paul yang merupakan icon atau altar dari kota Macau. Reruntuhan St. Paul merupakan tampak depan asli dari gereja Mater Dei yang dibangun pada 1602-1640, bangunan ini hancur karena kebakaran yang terjadi pada 1835, bangunan ini juga bersebelahan dengan sekolah tinggi St. Paul yang juga habis terbakar. Secara garis besar Gereja Mater Dei,  Sekolah Tinggi St. Paul dan Mount Fortress merupakan bangunan Jesuit dan dapat diartikan sebagai Akropolis Macau.  

Tempat Bersejarah

Macau mempunyai 25 tempat bersejarah yang patut dikunjungi, seperti A-Ma Temple yang telah berdiri sebelum kota Macau dibangun. Moorish Barracks dibangun pada 1874, digunakan untuk menampung tentara pemerintahan India yang ditugaskan untuk memperkuat kepolisian Macau. Selain itu, ada pula Lilau Square atau air tanah lilau yang merupakan sumber mata air utama di Macau. Jika meminum air ini, maka kita tidak bisa melupakan kota Macau.  

Tempat lainnya, Mandarin’s House atau rumah bergaya Cina yang merupakan tempat pemukiman tradisional dari tokoh sastrawan Cina yang terkenal yakni Zheng Guanying. Ada juga, St. Lawrence’s Church merupakan salah satu dari tiga gereja tertua di Macau karena didirikan pada abad ke 16. Kemudian, St. Joseph’s Seminary and Church berdiri pada 1728 yang merupakan seminari tua beserta St. Paul’s College yang merupakan implementasi basis utama pekerjaan misionaris di Cina, Jepang dan sekitarnya. Juga ada, St. Augustine’s Square yang menyatukan beberapa gedung seperti Gereja St. Augustine, Teater Dom Pedro V, Seminari St. Joseph dan perpustakaan Sir Robert Ho Tung.  

Conrad Bali Showcases Wayang Shadow Puppet Masters

0

Second installment of Living Lobby Art Exhibition Series pays tribute to Indonesia’s ancient artistry

Award-winning luxury beachfront resort, Conrad Bali, has launched the second edition of its Living Lobby Art Exhibition Masters Series 2015 that showcases the ancient shadow puppet art of wayang with an exhibition and workshop by two master puppeteers.  

Lighting the way: Conrad Bali launches the second in its Masters Series of exhibitions and workshops, introducing the ancient art of Wayang to guests.   The wayang series marks the second of four quarterly exhibitions and workshops this year at Conrad Bali highlighting masterful works that represent the cornerstones of Indonesia art and culture.  

Conrad Bali general manager Jean-Sébastien Kling said: “It is a privilege to provide an outlet for this deeply traditional art form to be seen by a wider audience. Wayang originated in Indonesia and we are delighted to connect our guests to an important part of the history, heritage and everyday life of the country. With this series we are able to provide visitors with greater understanding of unique customs and beliefs through the eyes of true masters of their craft.”                          

Wayang Exhibition

From now until June 30, I Ketut Sudiana, also known as Sudiana, one of Indonesia’s most respected shadow puppet masters and performers, will display his artworks in the resort’s East Lobby Lounge. The exhibition which is open to the public, features some of Sudiana’s best puppet masterpieces.  

Born into a family of puppet makers, Sudiana studied puppet art under the guidance of his legendary father, I Wayan Nartha, since he was 13 and is credited for creating a new wayang art form called the ‘Golek Gede’, a three-dimensional puppet.  

Wayang Workshop

On Friday May 22, I Wayan Wija, a Balinese master puppeteer and puppet maker, will conduct a workshop at his home near Ubud, Bali. Combining different materials from calfskin to glass, Wija will provide guests with behind-the-scenes insights into the ancient art.  

Wija, studied wayang under his father at a young age of 11, performing and making shadow puppets for 50 years.  

The workshop costs for US$50++ per person including refreshment and a day trip to Ubud.     

About Conrad Bali

Conrad Bali is a luxury beachfront resort located on the southern coast of Bali, an island in the Indonesian archipelago with an alluring blend of natural beauty and timeless traditions. Contemporary in design, the resort boasts panoramic views to the ocean, pools and gardens and features 353 guest rooms and suites, inspired dining options, extensive meeting, event, and leisure facilities including the Jiwa Spa. The resort is also home to a beachfront wedding venue, Infinity. The exclusive Conrad Suites is located on a private wing and offers enhanced privacy with personalized service.  

Coffee Break

0

COFFEE isn’t just warm and energizing, it may also be extremely good for you. In recent years and decades, scientists have studied the effects of coffee on various aspects of health and their results have been nothing short of amazing.

Kopi di Indonesia sudah menjadi minuman sehari-hari, bahkan di kota-kota besar di seluruh dunia menjadi bagian dari gaya hidup kaum urban. Beruntunglah jika Anda termasuk coffee addict. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pria yang mengkonsumsi kafein setiap hari, 42 persen lebih kecil berkemungkinan menderita impotensi. 
Khasiat kafein bahkan disinyalir dapat menjadi Viagra alami. Kafein juga ditengarai dapat membantu orang yang mengalami kelebihan berat badan atau memiliki tekanan darah tinggi. Selain itu, kafein membantu mengendurkan pembuluh darah di penis sehingga meningkatkan aliran darah. Pria yang meminum satu atau dua cangkir kopi per hari memiliki kemungkinan lebih kecil menderita disfungsi ereksi. 
Berdasarkan data National Health Service di London, Inggris, secangkir kopi instan mengandung sekitar 100 mg kafein, sedangkan secangkir kopi tubruk mengandung sekitar 140 mg kafein. Adapun secangkir teh mengandung 75 mg dan sekaleng kola mengandung 40 mg kafein. 
Para peneliti menemukan pria yang sehari-hari meminum 85-170 mg kafein, 42 persen lebih kecil berkemungkinan menderita impotensi dibanding yang tidak meminumnya. Yang meminum 171-303 mg kafein memiliki kemungkinan 39 persen lebih kecil. 
Dulu kafein banyak disalahkan karena dipercaya sebagai penyebab obesitas, kelebihan berat badan, dan peningkatan tekanan darah. Ketiga kondisi ini diketahui merupakan faktor pemicu terjadinya disfungsi ereksi. 
Kini para ilmuwan dari University of Texas menemukan kafein dapat memicu serangkaian efek yang membantu mengendurkan pembuluh darah di penis sehingga meningkatkan aliran darah. Mereka mempelajari data dari hampir 4.000 orang, dan menggunakan catatan diet 24 jam serta menilai jumlah kopi, teh, minuman bersoda, dan minuman pembangkit tenaga yang rata-rata dikonsumsi per hari.
Dr David Lopez, penulis utama dalam studi tersebut, mengatakan, “Meskipun kami melihat penurunan prevalensi disfungsi ereksi pada orang yang mengalami obesitas, kelebihan berat badan, dan hipertensi, tidak demikian yang terjadi pada penderita diabetes.” Hal itu dianggap tidak mengejutkan karena diabetes merupakan faktor terkuat penyebab terjadinya disfungsi ereksi.
Kopi telah lama dikaitkan dengan penurunan risiko serangan jantung dan terbukti dapat melindungi seseorang dari ancaman terkena demensia, diabetes tipe 2, dan kanker kulit. Namun efek tersebut didapat dari kopi yang diproses secara alami, bukan kopi dalam kemasan. Kopi juga mengandung sejumlah antioksidan dan bahan kimia alami yang bersifat menyehatkan tubuh. 
Sumber: MALE 135 http://male.detik.com

Mexican Food Fiesta

0

Bekerjasama dengan Kedutaan Meksiko, pada Rabu, 20 Mei 2015 Gran Melia Jakarta menyelenggarakan acara pembukaan “Mexican Food Fiesta” yang bertempat di Lobby Lounge. Acara tersebut sekaligus menjadi sarana pertunjukan kebudayaan Meksiko dengan penampilan mahasiswa S2 Institut Seni Surakarta, di mana mereka menampilkan tarian dan teatrikal seni tentang budaya Meksiko dan budaya Jawa.  

Victorhugo Hidalgo mahasiswa asal Meksiko bersama dengan penampilan mahasiswa asing dari Meksiko lainnya, yang saat ini mereka semua tengah menempuh pendidikan S2 tentang Seni di Surakarta tersebut, berhasil memukau para tamu yang terdiri dari Ambasador dari berbagai negara terutama negara-negara Amerika Latin.  

Dibuka oleh General Manager Gran Melia Jakarta, Gilberto Mayen dan Ambasador Meksiko untuk Indonesia, H.E. Federico Salas, beserta pemilik hotel Gran Melia Jakarta, Johannes Suriadjaja, diperkenalkan pula Chef asal Meksiko yaitu Julio Ortega didampingi Executive Chef Hotel Gran Melia Jakarta, Gerald Prinz.  

Acara pembukaan Mexican Food Fiesta ini diawali dengan tarian medley: Jarabe Tapatio, El Son De La Negra, El Huizache yang dilanjutkan dengan tarian dengan musik hidup yang menggambarkan perpaduan budaya Meksiko dan Jawa berjudul Yaqui Meet Java. Team Chef Hotel menyiapkan makan malam spesial berupa set menu untuk seluruh tamu kehormatan yang hadir pada malam itu, sekitar 150 orang dengan konsep fine dining a la Meksiko.

Club Med Bali Resort: The Ultimate Destination

0

Fun for kids, relaxing for mum and dad: renovated Club Med Bali Resort, a ‘Heaven on Earth’ for families.

Club Med is delighted to unveil its renovated resort in Bali, with the new dedicated Children’s Clubs for kids of all ages and upgraded deluxe rooms, following the successful launch of a new Zen Pool and gourmet lounge restaurant in 2014. “For anyone looking for the ultimate destination to spend a family holiday on one of the world’s most truly magical islands, then the Club Med Bali Resort really has it all,” says Bruno Courbet, Country Director, Club Med Indonesia.

The new family space gives kids of all ages the opportunity to enjoy activities with other children under the careful supervision of Club Med’s famously friendly staff – known as G.Os from the French term Gentils Organisateurs.  

The facilities cater for children of all ages from four months to 17 years and give kids the opportunity to discover Bali’s enchanting culture – as well as a sense of freedom – while having fun with other youngsters from around the world. Designed by renowned French architect Marc Hertrich, who has designed high-end boutiques, restaurants and resorts around the world as well as Club Med Bali, the family space is spread over two levels and features wooden structures adorned with traditional Balinese carpentry.  

The Baby Club Med, on the ground floor, offers facilities for little ones aged between four months and 23 months. Decorated in such a way as to whisk babies into a magical world, way up in the sky surrounded by clouds and kites, Baby Club Med is run by specially trained G.Os. They pay close attention to the tots’ biological rhythms, adapting their nutritional, sleep and play schedules and balancing their activities to ensure the kids always leave in good spirits.  

The Petit and Mini Club Med, between them offering educational and entertaining activities for kids aged two to 10, are brightly and freshly decorated with graphics and drawings depicting Bali’s rich wildlife and its traditional puppets, creating an energizing and vibrant space for fun and learning.  

The wide range of activities on offer includes flying trapeze, bungee bouncing, arts & crafts, dance lessons and much more. The Children’s Clubs allows kids to discover new things about themselves, other people and the world. It is a stimulating and natural environment that provides them with a window onto the rest of the world. While mixing with other nationalities and forming new friendships, they also get to discover the natural diversity and local culture of Bali. The family space also includes a Splash Park area where parents and children can have fun in a water play area together.  

“We put a lot of thought into creating a family-friendly environment to ensure that everyone has the dream holiday. Mum and dad can enjoy peace and quiet by the Zen Pool while the kids are having the time of their lives in our new dedicated family space,” added Courbet.  

The breathtaking design of the adults-only Zen space is based around a grand staircase entrance that gives way to the pool area featuring loungers on the water, four-poster beds on the lawn and the welcome shade of overhead canopies suspended from imposing stone columns; all in a perfectly landscaped setting with spectacular views over the ocean. It provides the quintessential atmosphere to soak up the ambience and enjoy a truly zen experience in absolute harmony with the surroundings.  

Pop Music

0

Pop music bisa mewarnai berbagai jenis musik lain yang digemari oleh publik penikmatnya. Ini merupakan genre musik yang lahir di Barat pada 1950-an dan 1960-an, yang berawal dari kehadiran rock ‘n’ roll. Namun, jangan salah, pop music tidak sama dengan popular music.   

Memang, hingga kini belum ada kesamaan tentang definisi pop music. David Hatch dari BBC dan Stephen Millward, penulis buku From Blues to Rock, misalnya, menyatakan music pop merupakan kesatuan yang berasal dari musik populer, jazz, dan folk. Adapun Peter Seeger menyebut pop music berasal dari musik folk dan fine arts.  

Yang jelas, pop music sering dikaitkan dengan penggambaran tangga lagu single, dengan sumber musik bergenre klasik, jazz, rock, dan sebagainya. Istilah pop, yang dikenal dengan pop song, pertama kali muncul pada 1926, yang menggambarkan lagu yang memiliki popularitas luas. Hatch dan Millward mengungkapkan, rekaman kala itu menjadi penanda kelahiran industri musik modern, seperti country dan blues.  

Istilah pop music, menurut Grove Music Online, berasal dari Inggris sekitar pertengahan 1950-an, yang menunjukkan adanya pengaruh rock ‘n’ roll dan jenis musik lainnya yang digemari anak-anak muda. Sementara itu, menurut The Oxford Dictionary of Music, istilah tersebut pada awalnya dipakai untuk menggambarkan pertunjukan musik yang memiliki jumlah penonton yang banyak.   

Pada 1960-an, di Inggris, penggunaan istilah pop music dan beat music tumpang-tindih, seperti halnya di Amerika Serikat dengan rock ‘n’ roll. Namun perubahan terjadi pada 1967. Istilah pop music digunakan untuk membedakannya dengan rock music.   

Pembedaan tersebut tidak berhubungan dengan kreativitas bermusik, tapi menyangkut karakteristiknya. Rock dinilai memiliki karakter yang otentik dan jauh lebih populer, sedangkan pop lebih komersial, mudah diakses, serta cepat berlalu.

Simon Frith, sociomusicologist asal Inggris, yang mengatakan bahwa pop music dibuat sebagai hasil produksi industri, didesain untuk semua orang, dan tak berasal dari tempat atau selera tertentu. Jenis musiknya termasuk konservatif, tapi dibuat di kalangan atas, bukan berasal dari bawah. Pop music pun dianggap tidak memiliki karakter do it yourself, tapi dibuat dan dikemas secara profesional.   

Pemanfaatan Teknologi Baru

Pada 1980-an, MTV, yang sedang naik daun, dimanfaatkan sebagai jaringan televisi yang mengalami perkembangan cukup pesat. Saat ini, dengan teknologi digital, pop music berkembang jauh semakin luas.  

Pemanfaatan televisi sudah dilakukan sejak 1950-an, yang membuat bintang pop music tak hanya dikenal suaranya, tapi harus menunjukkan sosoknya. Sebelumnya, pada 1940-an, mikrofon berkembang lebih baik sehingga menghasilkan suara yang lebih sempurna.   

Bergerak pada 1960-an, radio transistor portabel tak lagi mahal. Hal itu membuat setiap orang dapat mendengarkan siaran radio, terutama musik, tak lagi hanya di rumah. Pendengar radio ini terutama kalangan remaja kala itu.  

Pemanfaatan teknologi terbaru termasuk dalam proses produksinya. Teknologi rekaman selalu berkembang, yang sejak masa analog hingga saat ini memanfaatkan kecanggihan teknologi digital. Selain itu, rekaman, yang hanya dengan dua kanal, berkembang menjadi empat kanal, dan kini menghasilkan banyak kanal, sehingga menjadikannya lebih baik.   

Pemanfaatan teknologi dengan jaringan yang lebih luas seolah menjadi keharusan bagi pop music. Jaringan Internet dengan teknologi digital yang semakin berkembang membuat pop music memasuki level berikutnya. Media sosial yang bisa menampung kebutuhan pop music seolah tak mengenal batas.   

Sebut saja YouTube, yang dapat membawa audio dan visualisasi artis sampai ke ruang pribadi penikmatnya. Bahkan tak diperlukan peralatan besar untuk melihat si artis. Hanya dengan alat yang digenggam, di mana dan kapan saja musik pop dapat dinikmati.   

Sumber: MALE 134

Prostitusi

0

TERUNGKAPNYA praktek prostitusi kelas atas, yang melibatkan artis, yang juga model panas, pemain sinetron, serta seorang disc jokey, seolah menegaskan bahwa bisnis esek-esek tidak bisa terhapus dari kehidupan manusia (kota). Cuma, kali ini melibatkan kehidupan selebriti, maka gaungnya menjadi luas dan berkepanjangan.  

Sebetulnya, transaksi esek-esek di Jakarta, misalnya, sudah ada sejak awal Batavia berdiri. Wilayah Kota Tua dan sekitarnya tak hanya menjadi saksi bisu cikal bakal berkembangnya peradaban masyarakat Ibu Kota, tapi juga telah menjadi saksi penjualan jasa seksual sejak zaman kolonial.  

Tak mengherankan bila kawasan Red Light District Jakarta ini hingga kini masih menjadi surga bagi pencari kesenangan. Sebab, sebetulnya akar budaya hedonisme itu sudah menancap sejak berabad lalu. Maka munculnya praktek prostitusi ibarat setua umur manusia di bumi. Karena kebutuhan seks, sama halnya dengan kebutuhan biologis yang lain, seperti makan dan minum, perlu dipenuhi.   “Fakta tertua yang pernah ditemukan di Batavia, yaitu sekitar tahun 1600, Belanda pernah melegalkan pelacuran. Tapi jauh lebih tua dari itu sebetulnya pelacuran diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa,” ujar Asep Kambali, pemerhati sejarah, sekaligus pendiri Komunitas Historia Indonesia.  

Dengan kalimat lain, prostitusi yang terjadi di Jakarta saat ini merupakan sisa-sisa dari masa kolonial. Pada 1600-an, orang Belanda memulai perbudakan di Batavia. Dalam prakteknya, mereka sekaligus memperlakukan budak perempuan sebagai pemuas kebutuhan seks.  

Asep Kambali, sejarawan, sekaligus pendiri Komunitas Historia Indonesia, mengatakan, “Fakta tertua yang pernah ditemukan di Batavia, yaitu sekitar tahun 1600, Belanda pernah melegalkan pelacuran.”   Mengenai pelegalan prostitusi di Batavia, Jakartapedia.net memuat, prostitusi pernah mendapat ruang hidup secara legal dalam masyarakat kolonial. Pada saat Hindia Belanda Timur berada dalam kekuasaan Prancis, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (menjabat pada 1808-1811) mengeluarkan aturan tentang prostitusi.  

Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte turut membidani lahirnya aturan itu. Dia melihat daya tempur tentara Prancis mengendur akibat penyakit kelamin. Sumber penyakit kelamin berasal dari perempuan pekerja seks. Maka Napoleon mewajibkan mereka mengikuti pemeriksaan medis secara rutin. “Ini berarti prostitusi dibolehkan,” kata Liesbeth Hesselink dalam “Prostitution: A Necessary Evil”, yang dimuat dalam Indonesian Women in Focus suntingan Elsbeth Locher Scholten dan Anke Borkent-Niehof.  

Tidak berlebihan kalau dikatakan, prostitusi yang terjadi di Jakarta saat ini merupakan sisa-sisa dari masa kolonial. Pada 1600-an, orang Belanda memulai perbudakan di Batavia. Dalam prakteknya, mereka sekaligus memperlakukan budak perempuan sebagai pemuas kebutuhan seks. “Pada saat datang ke sini, mereka belum menemukan yang namanya tempat pelacuran. Tempat lokalisasi saat itu belum ada. Mereka hanya membeli budak, yang sekaligus juga melayani urusan seks,” Asep menjelaskan.  

Red Light District Batavia

Prostitusi pada masa kolonial memiliki wilayah sendiri. Ada beberapa wilayah pada masa kolonial yang menjadi arena pemuas pria hedonis. Saat ini wilayah itu termasuk kawasan Kota Tua, Jakarta.  

Macao Po

Konsentrasi pelacuran pertama di Batavia adalah Macao Po, yang kala itu berdekatan dengan hotel-hotel di depan Stasiun Beos (Jakarta Kota). Lokalisasi ini hanya ditujukan untuk kalangan atas. Sebab, pelacurnya didatangkan dari Makau oleh jaringan germo Portugis dan Cina. Pelanggan di Macao Po adalah para petinggi VOC yang dikenal korup dan orang-orang kaya keturunan Cina.  

Gang Mangga

Di wilayah Kota Tua dan sekitarnya disebut-sebut sebagai awal menyebarnya prostitusi di Batavia, di antaranya, Gang Mangga. Dilansir dari Lembagakebudayaanbetawi.com, jika kita berjalan melintasi Jassenbrug—sekarang Jembatan Batu—menuju timur, akan tiba di jalan kampung bernama Gang Mangga. Inilah lokalisasi kelas menengah ke bawah pertama di Batavia.  

Sampai abad ke-19, Gang Mangga masih ramai didatangi lelaki pencari kesenangan. Namun di antaranya ada yang terkena penyakit kelamin sifilis. Kala itu pemuda yang terkena sifilis disebut terserang sakit mangga. Karena saat itu belum ada obatnya, sering kali penderita sakit mangga meninggal dan dikubur di sebelah timur Gang Mangga, yang di kemudian hari dikenal dengan Gang Mangga Dua. Pada pertengahan abad ke-19, bekas kompleks pelacuran itu dijadikan permukiman penduduk, dan nama Gang Mangga pun lenyap.  

Selain itu, kawasan di Batavia yang sangat terkenal sebagai pusat prostitusi, madat, dan perjudian adalah Jilakeng. Saking terkenalnya, pada 1800 Jilakeng dijuluki Las Vegas Batavia. Lokasinya terletak di belakang Pasar Pagi Asemka.  

Dari Cabo hingga Peh Cun

Ada banyak istilah yang digunakan untuk menyebut pekerja seks, yang berbeda-beda dalam setiap era. Dulu dikenal sebutan cabo, peh cun, atau mondjie. Saat ini kita menyebut perempuan penghibur sebagai wanita tuna susila atau pekerja seks.  

Asep menyatakan istilah cabo terkenal pada era peralihan komoditas perdagangan pada 1890-1930-an. Dikatakan dalam Jakarta.go.id, orang Betawi menyebut pekerja seks sebagai cabo, yang diadaptasi dari bahasa Cina, caibo, atau kupu-kupu malam.

Para cabo selalu beroperasi di dekat kawasan niaga dan perhotelan. Istilah cabo masih populer pada 1970-1990-an, bukan di Batavia, melainkan di daerah-daerah Jawa Barat. Di Cianjur, misalnya, dikenal istilah cabol, dari kata cabul. Sementara itu, ada pula perempuan panggilan yang disebut mondjie. Perempuan ini tinggal di tangsi atau di sekitar tangsi khusus untuk melayani serdadu Belanda.  

Kalau Anda pernah mendengar istilah pecun, kata itu berasal dari bahasa Cina, peh cun, yang makna sesungguhnya bukanlah pekerja seks. Peh cun asal mulanya adalah pesta lempar makanan bacang dalam perayaan 100 hari setelah Imlek.  

“Sementara 15 hari setelah Imlek disebut Cap Gomeh, 100 hari setelah Imlek ada Peh Cun. Dalam pesta Peh Cun, para pemuda Tionghoa menyusuri sungai menggunakan sampan, atau perahu naga bagi kalangan berada, lalu mereka melempar bacang. Barang siapa ada perempuan yang menangkap lemparan bacang tersebut, akan menjadi pasangannya. Jadi seperti perayaan mencari jodoh. Namun belakangan pesta itu menjadi ajang mencari pasangan, yang sayangnya, belum tentu dinikahi, bisa saja hanya untuk sesaat. Lalu lama-kelamaan perayaan lempar bacang itu terjadi setiap hari untuk mendapatkan perempuan,” Asep menguraikan.  

Pascakemerdekaan

Pascakemerdekaan segalanya berubah, baik politik, ekonomi, maupun pertahanan keamanan, termasuk juga dunia prostitusi. Kompleks pelacuran pascakemerdekaan berada di Gang Hauber, di daerah Petojo, yang oleh Wali Kota Sudiro, pada pertengahan 1950-an diganti menjadi Gang Sadar. Sampai awal 1980-an, tempat itu masih beroperasi.  

Lalu di Sawah Besar pun terdapat kompleks pelacuran, yaitu Kaligot. Nama itu diambil dari judul sandiwara Prancis, Aligot, yang pada 1930-an manggung di Batavia.  

Selain itu, di daerah Senen terdapat kompleks pelacuran Planet, yang diambil dari peristiwa terjadinya persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam peluncuran Sputnik ke luar angkasa pada 1960-an. Di Planet Senen, pelacuran kelas bawah berlangsung di gerbong-gerbong kereta api antara Stasiun Senen dan Jalan Tanah Nyonya (Gunung Sahari), yang panjangnya beberapa ratus meter.  

Praktek prostitusi itu berlangsung di bilik-bilik di rumah kardus, di dekat rel kereta api. Tempat pelacuran yang setiap hari didatangi ribuan orang ini dibersihkan pada masa Gubernur Ali Sadikin (1971) dan pekerja seksnya dipindahkan ke lokalisasi Kramat Tunggak, Jakarta Utara.  

Adapun cerita mengenai bongkaran Tanah Abang, lokasinya mirip yang terdapat di Pasar Baru. Tanah Abang berdiri sejak 1735 saat dibangun sebagai pasar kelontong, lalu berubah menjadi pusat tekstil. Di bongkaran, karena ada lahan kosong, ada demand dari masyarakat kelas bawah, seperti buruh pasar, kuli angkut, sama seperti di pelabuhan atau Proyek Senen. Maka terjadilah transaksi seks yang murah meriah. Fenomena ini terjadi pada era 1970-1990an.  

Terkait dengan dihilangkannya lokalisasi, saat ini prostitusi justru dapat terjadi di mana pun, termasuk secara online via media sosial. Asep juga sepakat dengan ide adanya lokalisasi pelacuran dan perjudian di Jakarta saat ini, karena keduanya tidak bisa dipisahkan.  

Berabad sudah berlalu, terbukti hingga kini prostitusi tak pernah mati. Hanya zaman dan medianya yang menjadikannya tampak berbeda. Padahal semuanya tetap sama, kembali pada kebutuhan biologis manusia: seks.  

Sumber: Feature by R. Anandita – MALE 133