Home Blog Page 76

Unleash The Chef in You

0

MANDARIN Oriental, Jakarta’s acclaimed chefs welcome guests to their kitchen to discover the art of cooking in various styles and techniques. The class will be led by Mandarin Oriental, Jakarta’s head chefs specialising in French, Cantonese and Szechuan cuisines, and Pastry. Each chef will skilfully demonstrate and guide the methods and steps to prepare dishes of the highest quality and flavour, from ingredients preparation to cooking.    

French Specialties with Executive Chef Thierry Le Queau

With more than 20 years of culinary experience and an illustrious record in Mandarin Oriental, Jakarta, Chef Thierry is a native of Brittany who has earned prestigious posts in France, the Caribbean, the United States and the Middle East. Known for his work ethic and passion for food, Thierry aims to deliver good, honest food using various cooking techniques and the best produce available in order to create a memorable dining experience.  

Cantonese and Szechuan Specialties with Executive Chinese Chef Jeff Lee

Chef Lee is the man behind the success of Mandarin Oriental, Jakarta’s famous Chinese restaurant, Xin Hwa. Chef Lee was born in Malaysia, before he embarked on his career working in top Chinese restaurants across China and Singapore. Participants can expect to learn how to create traditional Chinese recipe with a modern twist.  

Pastry with Chef Wita Girawati

Chef Wita’s exciting 10-year career has taken her from the Maldives to Jakarta, with experiences in some five star hotels. Chef Wita’s recent culinary training in LeNôtre in Paris includes working alongside some of the world’s most talented pastry mastermind such as Christophe Rhedon and Gaetan Paris, both of whom had won the Meilleur Ouvrier de France or Best Craftsmen of France. Chef Wita and team concoct an array of delicious treats offered at the famous Mandarin Oriental Cake Shop.   

Selfie

0

Dalam acara penganugerahan Piala Oscar 2014, Ellen DeGeneres bersama Meryl Streep, Julia Roberts, Kevin Spacey, Bradley Cooper, Angelina Jolie, dan sejumlah bintang tenar Hollywood lainnya berfoto ria. Bukan hal yang aneh sebenarnya, tapi foto tersebut pakai ponsel, dan diunggah ke Twitter, seluruh dunia langsung tahu. Dalam waktu 30 menit, gambar tersebut di-retweet sebanyak 779.295 kali. Bahkan angka retweet pun tersebut, kalau ditotal, menembus 2.070.132!

Di era digital dan maraknya media sosial, selfie seperti virus yang menjangkiti semua orang. Tidak hanya bintang-bintang Hollywood tersebut, tapi orang-orang kebanyakan keranjingan selfie. Pada akhir 2012, majalah Time memasukkan kata ini dalam Top 10 Buzzwords. Oleh kamus bahasa Inggris, Oxford, pada November 2013, selfie dinobatkan sebagai word of the year.

Selfie alias mengabadikan diri sendiri, sebenarnya sudah dikenal sejak dulu. Hanya saja, sejak kamera ponsel semakin bagus dan medium untuk menaruh foto tersebut di “album” dunia maya berkembang, kegiatan ini menjadi keseharian hampir semua orang.

Memang, kebanyakan aktivitas ini dilakukan oleh mereka yang berusia muda, dan begitu happening. Kendati demikian, umur tidak membatasi kegiatan itu. Belum lama ini Jimmy Kimmel melakukan selfie bersama keluarga Bill Clinton. Contoh lain, Barack Obama bersama Perdana Menteri David Cameron dan Perdana Menteri Denmark Helle Thorning-Schmidt pun pernah heboh dengan foto selfie yang mereka lakukan (MALE 76).

Yes, everybody is into selfie.

Pangsa Pasar Iklan Digital Mulai Bergairah

0

The aim of marketing is to know and understand the customer so well the product or service fits him and sells itself. – Peter Drucker

Keberadaan media digital ternyata membuat dunia iklan bergeser perlahan tapi pasti ke dunia digital. Dengan adanya platform media digital yang banyak bertebaran, media cetak yang dulu menjadi andalan pengiklan perlahan mulai ditinggalkan. Di Amerika Serikat pun, media cetak telah mengalami kesulitan menghadirkan iklan sejak 2004. Dampak pertumbuhan media sosial tidak lain juga salah satu yang memberi pukulan berat bagi media cetak.  

Ken Doctor, penulis Newsonomics: Twelve New Trends that Will Shape the News You Get, mengatakan media cetak dulu merupakan tempat yang tepat untuk meraih perhatian publik. Namun, dengan ketersediaan target digital yang luas saat ini, para pengiklan sudah tidak membutuhkan brand dari media cetak untuk melakukan hal itu. Saat ini media cetak merupakan salah satu dari sekian banyak pilihan yang bisa digunakan untuk mencapai target yang sesuai dengan sasaran.  

Perjalanan MALE di tahun kedua ini cukup menggembirakan. Bukan saja karena secara kreatif kami semakin matang, seiring dengan perkembangan teknologi di media digital interaktif, tapi perusahaan-perusahaan besar, terutama perusahaan multinasional, sudah mulai memandang medium ini sebagai platform masa depan.  

Banyak yang meramalkan, belanja iklan digital secara global berkecenderungan semakin membesar jumlahnya. Ini, tak lain, karena didorong oleh banyaknya permintaan untuk melakukan pemasaran produk atau jasa di perangkat mobile, seperti ponsel pintar dan tablet.

ZenithOptimedia, misalnya, mencatat belanja iklan global pada tahun 2013 meningkat sebesar 3,6 persen. Perusahaan periklanan terbesar ketiga di dunia ini memprediksi belanja iklan akan meningkat 5,3 persen sampai dua tahun mendatang, lalu terus meningkat jadi 5,8 persen pada 2016. Prediksi belanja iklan tersebut berdasarkan data dari pemilik media dan biro iklan di 80 negara.  

Smartphone (dan tablet) agaknya telah merevolusi cara kita berinteraksi dengan web. Di AS setidaknya, eMarketer memperkirakan waktu yang dihabiskan masyarakat untuk kegiatan seluler non voice (data) telah melampaui waktu yang dihabiskan online di komputer: desktop dan laptop.  

Tetap Bersinergi dan Up To Date

Fenomena di atas menjadi tantangan tersendiri bagi segenap team MALE dalam rangka merebut kue iklan digital demi pencapaian sales yang agresif. Hal ini tentu dibutuhkan effort yang besar dan sinergi dengan semua divisi, terutama dengan Divisi Marketing dan Sales. Team produksi MALE selalu berusaha mengakomodir keinginan dari calon pengiklan untuk menyampaikan pesan kampanye iklannya tepat sasaran.  

Beberapa Sampel Iklan Interaktif

Memang dalam perjalanannya tidak selalu mudah. Selain keterbatasan sumber daya manusia dan ketatnya deadline, output iklan digital kreatif juga dituntut level kesempurnaan yang tinggi. Namun demikian, seiring perjalanan waktu, berbagai brand-brand besar sudah mulai melirik kampanye berbasis digital interaktif di MALE. Sebut saja AXE, Marlboro, A Mild, dan lainnya yang kini mulai intensif berkampanye digital di MALE.  

Dari sisi produk, MALE juga selalu didukung oleh segenap team Product Management Detikcom yang secara komperehensif melakukan berbagai riset untuk ke depannya. Sebagai catatan, sejak awal Maret lalu, aplikasi MALE telah di-update ke versi terbaru. Untuk versi iOS (iPad), aplikasi MALE sudah dioptimisasi untuk iOS 7, dengan layout dan tampilan library yang baru.  

Sementara itu, update aplikasi MALE terasa sangat signifikan pada pengguna Android. Pasalnya, MALE sudah tidak lagi menggunakan versi AIR dari aplikasi Android (codename: Android Legacy), kini MALE pindah full ke versi Native Android (codename: Android Genesis). Perbedaannnya cukup signifikan dari sisi performa, karena sudah tidak lagi menggunakan AIR, aplikasi jadi jauh lebih ringan, lebih powerful dan tidak boros baterai.  

Selain itu, kelebihan dari Android Genesis antara lain; sudah support Android Smartphone dan Phablet, bisa progressive download & resume (background download), dan sederet kelebihan lainnya. Dan, yang terpenting adalah Android Genesis mampu men-support 3.691 tipe device, sementara versi sebelumnya (baca: Android Legacy) “hanya” mampu men-support sebanyak 1.182 tipe device.  

Dengan dilakukannya aktualisasi aplikasi MALE ini, diharapkan mampu menumbuhkan jumlah downloader (pembaca) setia MALE. Selain itu, diharapkan aplikasi yang terbaru ini mampu menjawab semua kekurangan dan keluhan pembaca terkait tidak support-nya device yang digunakan. (Iwan Suci Jatmiko)

Sumber: Surat Sahabat – Media Internal Trans Corp

Mobile Advertising

0

Perjalanan majalah digital interaktif di tablet cukup mengejutkan. Bukan saja karena secara kreatif media ini semakin matang, seiring dengan perkembangan teknologi, tapi perusahaan-perusahaan besar, terutama perusahaan multinasional, sudah mulai memandang medium ini sebagai platformmasa depan.  

Memang, peralihan dari media cetak ke digital, tidak bergerak secara serentak, tapi dimulai dari negara maju lalu menyebar ke seluruh penjuru dunia, dipicu oleh para trendsetter lalu diikuti para follower.  

Animo mobile advertising di Indonesia dengan 120 juta penduduk yang telah menggunakan ponsel, masih memang belum tergarap dengan baik. Para advertiser masih ragu-ragu untuk menginvestasikan iklannya di media ini dibandingkan dengan di media iklan konvensional, seperti media cetak, juga televisi yang belanja iklannya paling besar.  

Padahal, banyak yang meramalkan, belanja iklan digital secara global berkecenderungan semakin membesar jumlahnya. Ini, tak lain, karena didorong oleh banyaknya permintaan untuk melakukan pemasaran produk atau jasa di perangkat mobile, seperti ponsel pintar dan tablet.  

ZenithOptimedia, misalnya, mencatat belanja iklan global pada tahun 2013 meningkat sebesar 3,6 persen. Perusahaan periklanan terbesar ketiga di dunia ini memprediksi belanja iklan akan meningkat 5,3 persen sampai dua tahun mendatang, lalu terus meningkat jadi 5,8 persen pada 2016. Prediksi belanja iklan tersebut berdasarkan data dari pemilik media dan biro iklan di 80 negara.  

Peningkatan belanja iklan tidak lain didorong oleh semakin maraknya pemakaian penggunaan mobile. Asal tahun saja, pengguna smartphone dan tablet di seluruh dunia mencapai 4,6 miliar. Bandingkan dengan pengguna internet yang jumlahnya baru mencapai 1,9 miliar. “Teknologi mobilemenciptakan peluang baru bagi pengiklan untuk berhubungan dengan konsumen,” kata Steve King, CEO ZenithOptimedia.  

Smartphone (dan tablet) agaknya telah merevolusi cara kita berinteraksi dengan web. Di AS setidaknya, eMarketer memperkirakan waktu yang dihabiskan masyarakat untuk kegiatan seluler non voice (data) telah melampaui waktu yang dihabiskan online di komputer: desktop dan laptop.   Mobile tidak lagi tantangan di masa depan, melainkan di sini dan saat ini. Memang, setelah era flash dan GIF pengiklan dituntut untuk berkreasi di platform dengan teknologi baru. Format iklan mau tidak mau perlu penyesuaian, baik secara kreatif konten maupun teknologi, agar terlihat atraktif, dan menarik pembaca.  

Hal yang sama juga menjadi tantangan penerbit, yang harus selalu berkreasi dan melakukan inovasi dengan teknologi terkini. (Burhan Abe)

E-Commerce

0

Pemanfaatan teknologi mampu memacu pertumbuhan usaha kecil menengah (UKM). Asal tahu saja, Indonesia memiliki potensi yang baik dalam menumbuhkan UKM mengingat pangsa pasar usaha kecil menengah di Tanah Air yang terbilang besar. Dari total pangsa pasar UKM di ASEAN yang mencapai US$ 2,5 miliar, Indonesia berkontribusi sekitar US$ 663 juta atau Rp 7,7 triliun pada 2013.  

Adapun total pelaku UKM di Indonesia mencapai 55 juta. “Namun yang sudah menggunakan teknologi, khususnya internet baru 75.000,” ujar Managing Director ASEAN Enterprise and SMB Cisco Budi Santoso di Jakarta.  

Penggunaan internet memang seharusnya sejalan dengan adopsi internet oleh konsumen di Indonesia. Data lembaga Internet Data Corporation (IDC) menyebutkan adopsi internet terhadap jual-beli online alias e-commerce di Indonesia mencapai 4,6 juta, adopsi tersebut diprediksi naik dua kali lipat pada 2016.E-commerce masih tergolong baru di Indonesia. Namun empat pria ini mengerti betul masa depan adalah online. Mereka adalah Natali Ardianto (Co-Founder & CTO Tiket.com), Hendrik Tio (CEO Bhinneka.com), William Tanuwijaya (CEO Tokopedia.com), dan Ferry Tenka (CEO Bilna.com), yang menyejajarkan brandmereka dengan keberadaan brandinternasional yang sudah masuk ke Indonesia.  

Mereka melihat peluang mengembangkan bisnis e-commerce di Indonesia masih terbuka lebar. Tak mengherankan bila kemudian sejumlah brand asing masuk ke Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Ferry Tenka, kondisi di Jakarta yang tidak ramah memungkinkan berkembangnya bisnis ini. “Waktu kuliah di Amerika, saya terbiasa belanja online, dan begitu pulang ke Indonesia pada 2010, saya lihat di sini belum seperti itu. Padahal, seperti di Jakarta terutama, sudah semakin macet. Bepergian pun sudah tidak nyaman, terutama kalau pergi ke mal, harus parkir, cari parkir susah. Jadi saya pikir, ada big opportunity untuk e-commerce di sini,” ujarnya.  

Adapun William membandingkannya dengan Cina. “Pada 2013, market size C2C (consumer to consumer) di Cina sudah US$ 88 miliar. Indonesia dengan penduduk seperlima Cina hanya tinggal masalah waktu, hingga suatu hari nanti perkembangan infrastruktur, tren gaya hidup, berubah ke online. Yang pasti, market size kita akan terus berkembang.”  

Keberadaan e-commercelokal tentunya lebih dapat memahami kebutuhan pasar. “Indonesia itu unik, dan keuntungan kita sebagai orang Indonesia adalah kita lebih memahami kultur perilaku orang Indonesia. Kami tahu pasarnya seperti apa. Misal, kompetitor asing memakai metode pembayaran hanya dengan kartu kredit. Kami menggunakan 14 metode pembayaran karena tidak semua orang Indonesia menggunakan kartu kredit,” Natali, lulusan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia ini memaparkan.  

“Walaupun saat ini e-commercedi Indonesia masih early, baru berkembang pada 2009-2010, kita invest for the future! Jadi goal-nya, 3-5 tahun ke depan e-commerce bakal benar-benar bertumbuh cepat. Bisa dilihat dari trennya, sekarang banyak investor luar negeri yang sudah melihat besarnya potensi di Indonesia,” Ferry menimpali. Sungguh potensi yang luar biasa.  

MALE Zone, MALE 72

Why You Should Publish for Android and iOS

0

Yesterday we spoke about how the Apple App Store had its best year yet in terms of apps sold, with over $10 billion in sales for 2013 and a record $1 billion of those sales taking place in December in the run up to the holiday season. Let’s not beat around the bush here, apps are absolutely huge business. In May of the same year the App Store recorded their 50th billion download, those figures are gargantuan, so vast that you have to take a moment to actually digest the enormity of the zero’s involved! Apps are such big business because smartphone usage has risen at such an exponential rate that it has become an absolute necessity for businesses to have, and maintain, an online presence through an app.  

Research carried out by Business Insider has shed light on some very interesting and informative facts and figures which correlates with the ever expanding and extremely lucrative app world. 6% of the world now own a tablet and over 22% of the world’s population now own a smartphone, the research also points out that it was mid 2012 that personal computers fell by the wayside to the new kids on the block, the smartphone and the tablet. It was during this period that the global per-capita rate of smartphones outperformed personal computers for the first time. The same report highlights the following:  

  • In 2009 global smartphone penetration was 5%; in 2014 it is around 22%, an increase of nearly 1.3 billion smartphones in four years.
  • Tablets are showing even quicker adoption rates than smartphones, whereas smartphones took nearly four years to reach 6% penetration from when the devices first started to register on a global scale, it took tablets just two years to achieve the same results.

These figures reinforce the undoubted fact that smartphones and tablet adoption has been both widespread and expeditious, and this growth is not isolated to the devices themselves. With such a dramatic and unheralded rise in usage of these connected devices, apps for use in conjunction with them have risen in a similarly impressive trajectory.

But why do I need an app?

In a nutshell; convenience, convenience for the consumer. You are placing yourself in the handbags and pockets of consumers worldwide through their smartphone with your app. You only have to glance at some of the figures above to realize the numbers this approach can entail. They will be able to access your information and content where and when they want, mobile apps make your content more accessible, engaging and crucially houses it all in one place rather than expecting the consumer to surf all over the web locating it. Many apps include the option for reading offline which is especially beneficial for magazines and newspapers, apps really can reach that far.  

Much the same as having a website was once the essential part of your business plan, the app has now risen to the fore, the world has gone mobile and for your business grow and prosper with it, you need an app. Over 50% of your web traffic is now mobile, can you afford to miss out on this volume of traffic?  

Transformation form Within

0

The market is disorganizing, iGen is replacing the gen C, new regulations are launched all the time. It’s the formula of life, the only constant is change. And as corporate leaders, we understand that it’s not the big that eat the small, it’s the fast that eat the slow! Corporations need to transform quickly to adapt to changes. They need to lead the change and inspire others and win the competition.  

In order to make transformation happen, leaders need to build the support from the organization and ensure that all employees support the transformation before they announce to the world that they have changed into something better. There’s no point campaigning about “rebranding” or “corporate transformation” when the employees are still stuck with the old attitude and values.  

One very interesting example of transformation is the transformation that a multinational fresh drink company did. When this company had a decline in sales and earnings growth for several years in a row, they held a “Manifesto for Growth” which spawned the transformation campaign “Blog Blast 2006.” It’s really interesting to see how the transformation was done from the bottom to the top of the organization. Let’s learn from this campaign and see how we can.  

Insights 

“Global Insight Survey” revealed that various external changes caused many challenges within the company. The company decided several transformation priorities based on the analysis of the survey. Blog was then chosen because it’s very democratic. Everyone, from office boy to CEO, could create their own blog. The objective of Blog Blast 2006 was:  

  • To accelerate the transformation of the business by improving inspiration, commitment and passion of the employees
  • To involve employees in business strategy development and build understanding of the importance of each employee’s role in establishing the corporate success
  • To organize collaboration with all employees to establish the values that make the company unique and competitive

Campaign preparation 

To build support and participation from the whole organization, the global campaign committee conducted:  

  • Intensive education about the problems faced by the company and how each employee can contribute to become “agent of change” in facing these problems.
  • Education about blogging and the personal benefits for employees and company
  • Intensive promotional campaign conducted by a global campaign team whose members are spread throughout the coverage area of the company to localize the language and build support from local employees.

Execution

By the time Blog Blast began, all employees received an email indicating the opening of the blog blast, and inviting all employees to write about business values and behaviors needed to win and grow rapidly. The Blog Blast was moderated by two executives who commented on every blog created and sent questions every day to initiate conversation. Polling was held every day to dig in employees’ perception on various discussion topics regarding the business culture that had been prepared beforehand.  

Result 

The result was very satisfactory. The Blog Blast successfully triggered 29 discussion themes of 41 types of unique behavior associated with the business values. The input was internalized in the SOP (Standard Operating Procedures) and performance management processes. 2,409 employees in 45 countries participated, producing 136,862 web pages.  

The post- campaign research showed that the company successfully worked on the priority transformation areas previously taken as challenges with higher scores. It has successfully made the top management understand the employees’ needs and views on sustainable business growth. Value stocks also rose higher than what Wall Street prediction for 8 consecutive quarters at the time.  

Well, are you ready to do transformation from within? Market and industry changes occur very rapidly nowadays. In today’s era of “People Power”, there is no other way but to empower all parties in our efforts to contribute to the progress of the company.

In case of franchise companies, it is becoming more important because the internal parties involve not only the employees but also independent business owners who need to jointly uphold the vision, mission, business culture and values as the major factors of the employees’ uniqueness and excellence. There is no other way but to empower all of them to be “change agents” who are well aware of the importance of their involvement in the transformation process to achieve a collective victory. (Fortune PR)

Mata Uang Virtual

0

Setelah mata uang virtual bitcoin yang kontroversial, demam mata uang digital atau cryptocurrency agaknya terus berlanjut. Setidaknya, kini ada sekitar 80-an mata uang serupa, sebutlah peercoin, namecoin, worldcoin, hobonickels, gridcoin, fireflycoin, zeuscoin, bbqcoin, atau litecoin.

Dengan mata berbagai mata uang digital tersebut, para investor berharap memetik keuntungan dengan cepat. Bitcoin, yang dirilis pada 2009, nilainya terus naik.

Bitcoin dicetuskan oleh Satoshi Nakamoto. Orang dapat “menambang” bitcoin dengan memakai komputer dengan formula matematika tertentu. Bitcoin kemudian dapat diperdagangkan secara digital. Investor juga bisa membeli dan menjualnya melalui bursa online. 

Koin-koin baru biasanya memakai prinsip dasar yang sama dengan bitcoin namun dengan algoritme yang sedikit berbeda. Namun, menurut Greg Schvey, kepala riset Genesis Block, periset dan perusahaan data pelacak mata uang digital asal New York, tidak semua mata uang digital itu sukses di pasaran. “Koin-koin ini hanya akan bernilai besar di tangan yang tepat,” jelasnya. (Burhan Abe)

Sumber: MALE 67

Aha, Haute Couture!

0

Amerika Serikat dan Jepang sudah puluhan tahun masuk dalam datar Top 3 kekuatan ekonomi dunia. Bisnis busana di kedua negara tersebut juga tergolong paling mocer di dunia. Bagi yang kasmaran pada dunia busana, tentu paham betul betapa dahsyatnya pengaruh jaringan peritel dari Jepang dan Amerika – Uniqlo dan Kohl’s – terhadap gaya busana masyarakat.  

Para perancang busana dari kedua adidaya ekonomi itu juga kerap jadi perbincangan media busana di seluruh dunia. Dari Jepang, nama-nama seperti Issei Miyake, Kenzo Takada, Hanae Mori sudah lama akrab dengan berbagai media tersebut. Demikian pula dengan Donna Karan, Ralph Lauren, Jason Wu, Oscar de la Renta dari AS.  

Ketika melawat ke beberapa kota di Eropa pada musim dingin ini, dan Jepang pada musim semi tahun lalu, saya melihat hal yang sama dengan kota-kota besar dunia lainnya. Di kawasan belanja supermahal seperti Goethe street di Frankfurt, yang kerap dijuliki ‘fifth avenue of Germany’, nama-nama besar Eopa tampak jauh lebih dominan ketimbang para pesaingnya dari Amerika dan Jepang. Kawasan Ginza di Tokyo pun sama saja meski orang Jepang sangat nasionalis.     

Dominasi Ferragamo, Prada, Versace, Tifany, Gucci, Jill Sander, Hermes tampak mencolok di kedua kawasan super wah itu. Kaum fanatik busana berkocek tebal dari berbagai penjuru dunia kerap tampak keluar-masuk di toko-toko tersebut. Mobil-mobil wah mereka seperti Lamborghini, Ferari, Bentley, Porsche, Aston Martin, dan Rolls Royce pun menjadi pemandangan biasa di tempat parkir.  

Namun semua itu tidak dicapai dengan mudah. Kisah sukses Eropa dalam  industri busana papan atas tak lepas dari sejarah panjang, dan gairah besar terhadap keindahan serta kreativitas di bidang fesyen. Salah satu buktinya adalah penetapan hukum di Perancis pada 1945 tentang rumah mode. Hukum yang berlaku sampai sekarang dan sangat dihormati di seluruh dunia itu menetapkan, hanya komisi chambre syndicale de la haute couture berhak menentukan rumah mode mana yang boleh memakai label haute couture.  

Sampai kini lisensi dari komisi yang didirikan pada 1868 itu ibarat kunci pintu surgawi. Maklum, label haute couture bagi pemiliknya ibarat jalan tol menuju keasyhuran dan kekayaan berlimpah. Mereka akan senantiasa dikelilingi oleh para selebriti top dunia dari segala bidang, dan disambut dengan ‘karpet merah’ ketika berkunjung ke mana saja. Nama mereka juga akan diabadikan oleh media masa ternama dunia, seolah membenarkan apa yang pernah dikatakan oleh filsuf Yunani kuno Hippocrates, yang hidup beberapa abad sebelum masehi: “Hidup itu pendek, sedangkan seni berumur panjang.”  

Nah, yang membuat para pecinta haute couture rela mengeluarkan uang demikian banyak adalah lantaran produknya tak cuma indah, tapi juga eksklusif dan elitis. Semua ini bias membuat pemakainya tampil lebih percaya diri, tanpa khawatir dicela sebagai manusia outdated yang gampang terlupakan. Jadi jangan heran bila di panggung-pangung selebriti dunia, termasuk di kancah bisnis dan politik, bertebaran busana haute couture.  

Semua itu sejalan dengan pikiran Coco Chanel, perancang busana yang merajai di Paris selama 6 dekade sampai 1971. “Agar tak tergantikan, seseorang harus selalu tampil beda,” tuturnya. Chanel juga melihat “seorang perempuan seharusnya terdiri dari dua hal: berkelas dan menakjubkan.”

Tentu tak berlebihan bila apa yang dikatakan Chanel sesungguhnya juga berlaku bagi kaum pria. Agar bisa tampil seperti apa yang dikatakan Chanel, banyak orang yang tak peduli pada asli atau palsu. Sebuah kenyataan yang ternyata didukung oleh sebagian perancang busana. Mereka tak marah bahwa perputaran bisnis busana bajakan bisa mencapai multi-miliar dolar per tahun. Saking besarnya perputaran uang, tak sedikit pekerja yang diperbudak habis-habisan oleh para pembajak dunia busana.  

Dari “Sungguh-sungguh Terjadi” Menjadi Wartawan Sungguh-sungguh

0

KALAU melihat ke belakang, mengapa saya bisa menjadi wartawan, pengalaman membaca koran sejak dari SD mungkin menjadi faktor paling besar. Membaca harian Kompas terutama halaman olahraga, dengan nama-nama seperti Valens Doy, Ign Sunito, TD Asmadi, Th A Budi Susilo setiap hari menanamkan secara tidak sadar bagaimana mengetahui berita apa yang menarik dan ingin diketahui pembaca.  

Saya baru serius menekuni bidang tulis menulis ketika menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi di UGM Yogyakarta, ketika ada kursus jurnalistik yang diadakan oleh Jurusan Komunikasi UGM, dengan salah satu mentornya ternyata adalah Antyo Rencoko (yang kemudian jadi teman kursus bersama di LP3Y beberapa tahun kemudian).  

Sejak mendapatkan teknik dasar menulis seperti kemudian membuka pintu bagi saya untuk melihat apa yang bisa ditulis dan media mana yang mau memuatnya. Selain Kompas di kemudian hari, harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta merupakan kawah candradimuka yang secara tidak langsung “mematangkan” kemampuan jurnalistik saya.

Sebagai harian di kota pelajar seperti Yogyakarta, KR – nama populernya- memiliki banyak rubrik yang bisa diisi oleh orang luar dan mendapatkan bayaran yang “lumayan”. Rubrik dari yang serius seperti Teknologi, sampai yang ringan, seperti rubrik Sunguh-sungguh Terjadi (SST).  

Rubrik SST  ini terbit seminggu sekali di KR Minggu memuat cerita yang dikirim pembaca mengenai hal yang konyol dan lucu dan saya menjadi salah satu konntributor tetapnya selama beberapa tahun.   Pada awalnya saya juga mengisi rubrik Teknologi (kolom yang diasuh Wismoko Poernomo) dengan bahan-bahan terjemahan dari minggguan berbahasa Inggris ketika itu seperti Asiaweek, Newsweek, Far Eastern Economic Review atau Times (semuanya sudah almarhum sekarang).  

Bagaimana bisa mendapatkan bahan dari majalah-majalah tersebut yang harganya beberapa kali lebih mahal dari mingguan Indonesia?  

Saya lupa persis awalnya namun kami (saya dan adik) menemukan bahwa setiap minggu setelah lewat masa edarnya, majalah ini dikembalikan ke penyalur besarnya. Nah sebelum dikembalikan ke pusat, bagian atas majalah tersebut dipotong, dan harganya menjadi turun, karena sekarang sudah berfungsi seperti “sampah”. Setiap minggu, di hari tertentu, kami akan mendatangi agen penyalur dan membeli beberapa majalah untuk diterjemahkan.  

Sekarang mengingat kembali masa itu, rasanya aneh ada harian KR yang mau memuat tulisan kami, karena pastilah terjemahan yang saya buat, isinya “amburadul” karena pengetahuan bahasa Inggris jauh lebih buruk dari sekarang. Selain menterjemahkan, saya mulai menulis artikel untuk penerbitan di Jakarta seperti majalah Hai dan mingguan Bola.  

Yang diperlukan sebenarnya adalah kejelian untuk melihat rubrik apa yang tersedia yang bisa diisi oleh orang luar. Hai ketika itu memiliki rubrik mengenai sekolah-sekolah menengah dari seluruh Indonesia, demikian juga dengan Bola. Saya menggunakan kesempatan itu untuk menulis sekolah saya terdahulu, SMA Xaverius Jambi.  

Saya juga menulis untuk Bola, daftar acara olahraga yang akan berlangsung di daerah setiap minggunya. Ternyata belakangan, teman saya Budiman Tanuredjo (sekarang Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas) juga melakukan hal yang sama.