Home Blog Page 86

Loe Gue End!

0

ZARA Zettira, siapa yang tak kenal. Saya sendiri memang penasaran, bukan hanya karena dia penulis kondang, tapi jauh sebelum itu, mungkin di era 1990-an sedikitnya saya mewawancarinya dua kali ketika saya bertugas sebagai reporter Majalah EDITOR. Belakangan, wanita kelahiran kelahiran Jakarta 5 Agustus 1969 ini juga sering berkeliaran di lini masa Twitter saya dengan akun @ZaraZettiraZr. 

Di BlackBerry saya sebetulnya sempat berkomunikasi, tapi tanpa pernah bertatap muka. So, ketika Yaya, demikian panggilan akrabnya, mem-broadcast undangan peluncuran buku terbarunya ke ke BB saya, saya tidak menyia-nyiakannya. 

I cordially invite you to celebrate my new novel Loe Gue End! At Liquid Exchange, Epicentrum Walk, Taman Rasuna Kuningan, Jakarta, Monday, 28 November 2011, 3-6pm. Sincerely awaiting, Zara.

Terus terang, saya ingin melihat lebih dekat penulis selebriti ini, sambil ingin membandingkan di usia yang ke 42 tahun dengan dua anak dengan ketika masih remaja belia dulu. Meski bukan pembaca setia novel-novel Yaya, saya mengagumi keseriusan wanita ini dalam bidang tulis-menulis, yang bukan hanya sudah menjadi passion-nya, tapi mungkin sudah mendarah daging dalam hidupnya.

Biodata Yaya cukup menarik. Ayahnya berdarah Minang–Jawa dan Ibu berdarah Tionghoa–Belanda. Ia dibesarkan di Menteng Jakarta, menimba ilmu sejak TK hingga SMA di Sekolah St. Theresia Haji Agus Salim serta menamatkan SMA di Ora Et Labora Pondok Indah kemudian meneruskan kuliah di Fakultas Psikologi, UI.

Menulis awalnya adalah otodidak. Pada masa yang masih belia, ia sudah rajin menulis cerpen di beberapa majalah remaja. Ia juga menulis Catatan Si Boy yang marak di era 1980-an radio Prambors Rasisonia sampai ke layar perak. Di era yang sama ia melahirkan banyak novel remaja, antara lain di diterbitkan Gramedia, seperti Mimi Elektrik, Jodoh Kelana, Jejak Jejaka, dan Rasta Bella yang ditulis bersama Hilman “Lupus” Hariwijaya.

Sempat mengikuti mengikuti short course produksi film dan penulisan skenario di Los Angeles selama delapan bulan. Sekembalinya ke Indonesia ia menulis sinetron pertamanya dengan judul Janjiku yang masuk dalam jajaran sinetron Indonesia ber-rating tertinggi pada masa itu. Selanjutnya menulis ratusan judul sinetron mengalir dari tangannya, seperti sinetron Ramadhan (di antaranya Hikmah, Ikhlas, dan Zahra) dan Legenda Malin Kundang, bahkan Dia bertahan selama tiga tahun masa penayangan atau lebih dari 150 episode.

Tahun 2008 adalah tahun kembalinya Zara ke dunia penulisan buku. Terus terang saya kurang intens mengikuti sinetronnya, juga novel-novelnya yang lahir di era 2008, setelah Yaya kembali ke dunia penulisan buku, setelah sibuk mengurus keluarganya di Toronto-Kanada. Sebutlah Every Silence Has A Story, Samsara, Kebaya Wungu, Prahara Asmara 1 dan 2, Cinta Maya, dan Menentukan Hati. Tapi tentulah, cara penulisannya pasti berbeda dengan zaman remaja, juga dengan pengalaman batin yang berbeda pula sebagai ibu dua anak, Alaya dan Zsolti Zsemba. 

Lalu, mengapa ia tiba-tiba menulis novel remaja lagi, dengan judul yang sangat alay: Loe Gue End!? “Itu adalah pengalaman fans saya, yang dikirim bertubi-tubi seperti catatan harian, satu setengah tahun yang lalu,” ujar Yaya pada saat peluncuran bukunya di Liquid Exchange, Epicentrum Walk, Taman Rasuna Kuningan, Jakarta, 28 November 2011.

Rasa penasaran saya terjawab sudah. Yaya tidak berubah, masih cantik dan sangat humble. Dan yang penting, wanita yang kini bekerja di sebuah stasiun televisi Jakarta, dan menikah dengan David Henderson seorang dosen bisnis dan marketing berkebangsaan Inggris itu masih tetap produktif. Bahkan ia sekarang tidak hanya penulis profesional, tapi juga writerpreneur, novel Loe Gue End! adalah novel pertama yang diterbitkannya secara self publishing.

Adventure and Fun in the Lion State

0

SINGAPORE is only a stone’s throw away from Indonesia, being a mere two hours from Jakarta. This explains why many Indonesians visit the city-state which has an area of only 710.3 square kilometers.

Singapore is a lively cosmopolitan city full of skyscrapers and large parks, where the quality of life rivals any other city in the developed world. Known as “the little red dot” its presence now looms much larger than its name. One interesting aspect about Singapore is its diverse culture, various ethnicities and religions that coexist in peaceful harmony.

Many people are amazed with Singapore’s beauty and dynamic progress. Not too long ago it was just a simple fishermen’s kampong, while today Singapore has transformed into a modern cosmopolitan city. Currently Singapore has a population of about five million with English as the main language while the other three languages are the mother tongue of the three major ethnicities. Singapore takes pride in its ethnic harmony between the Chinese, who are the majority, the Malay and Indian communities.

As a multiracial nation Singapore is a reflection of diversity and unity. There are so many things to see and to do here, so it is better if you get to know the local people. You can also explore its historical places or take historical tour. Explore the ethnic enclaves like Chinatown, Little India and Kampong Glam.

If you prefer the bright lights and the city crowds there are so many malls, museums, restaurants and entertainment centers. Just visit Orchard Road which is famous for its malls or party all night long at Clarke Quay or Boat Quay.

Yes, when the sun sets Singapore takes on a different face with its dynamic nightlife and entertainment. Indeed Orchard Road and Clarke Quay draw the largest number of visitors, while Orchard Road is one of the world’s most popular shopping destinations.

However, Marina Bay Sands (MBS) has also become one of the hottest destinations here. MBS is one of the two integrated resorts officially opened at the end of April 2010. MBS is in Marina Bay, close to other famous Singapore icons like the Merlion statue, Esplanade and Singapore Flyer.  

MBS is truly an integrated resort with a mall, hotel, a grand convention and exhibition hall, art and science museum as well as a theater. club, and restaurants plus a casino that draws many local and international visitors. This casino complements the existing one on Sentosa Island.

Photo by Joshua Ang on Unsplash

The MBS casino is owned and managed by Las Vegas Sands Corp, a company specializing in casino business and also the owner of Sands Macau Casino in Macau, China. MBS also has shopping centers or malls, so you can shop till you drop and enjoy yourself by sampling delicious fare at its many restaurants. Or treat yourself to a relaxing spa here.

Museum of Modern Pop Art in Pullman Jakarta

0

SEBUAH lukisan kontemporer tergantung di sebuah dinding, menggambarkan sepeda motor dengan roda depan memanjang ke depan yang dekonstruktif sekaligus futuritik. Di sudut yang lain adalah lukisan seorang bocah berkaus Superman, dilukis secara surealistik.

Lukisan-lukisan bergaya pop art itu hampir memenuhi setiap dinding. Patung-patung dan hiasan layaknya seni instalasi juga bertebaran di sana-sini. Ditambah dengan interior ruang yang berani, bahkan meja dan kursi yang tidak sekadar fungsional tapi juga artistik, menjadi pemandangan yang menawan mata. Museumkah? 

Bukan. Ini adalah sebuah hotel baru, yang berlokasi Podomoro City Super Block, Jakarta. Pullman, nama hotel berbintang lima ini, tidak hanya artistik, tapi hampir menyerupai museum seni modern. Lukisan dan instalasiala Andy Warhol mewarnai hampir semua sudut. Di lounge-nya, yang dinamai BUNK, misalnya, kita menemui gaya tersebut, termasuk cover buku menu bergambar Marilyn Monroe.

Menurut Fabrice Mini, General Manager Pullman Jakarta, gaya unik Pullman itu memang dari sono-nya. Artinya, prinsipal mempunyai grand design soal artistik, yang kemudian diterjemahkan di masing-masing negara. “Desain Pullman Jakarta adalah ultra contemporary, tapi pengerjaannya oleh seniman lokal yang debutnya memang tidak kalah di tingkat global, sekitar 15 seniman,” ungkapnya.

Pullman Jakarta mengadopsi desain bergaya urban kontemporer sebagai ciri khasnya di kamar-kamar hotel untuk menciptakan suasana yang tenang. Satu-satunya upscale hotel di Jakarta Barat ini menawarkan konsep keramahtamahan yang unik melalui pusat perbelanjaan, perkantoran dan wisata hiburan yang terintegrasi.

Yup, Accor, operator hotel terbesar di Asia Pasifik, mengukir sejarah baru dengan membuka Pullman kedua di Indonenesia, tepatnya di Jakarta Central Park, setelah sebelumnya di Bali, Februari 2011. Hotel ini menargetkan pelancong bisnis, serta lokasi Jakarta sebagai ibu kota negara dan pusat bisnis Indonesia sejalan dengan visi brand Pullman untuk berkembang di kota-kota besar.

Menurut Accor Asia Pacific Business Traveller Research 2011 yang melakukan survei terhadap lebih dari 10.000 responden yang melakukan perjalanan bisnis di semester pertama 2011, Jakarta dan Bali adalah dua tujuan di Indonesia yang paling sering dikunjungi para pelancong bisnis dari Asia Pasifik dengan 73% dan 32% responden. Untuk perjalanan bisnis domestik, hampir tiga perempat dari perjalanan bisnis di dalam negeri bertujuan ke Jakarta.

“Pembukaan Pullman Jakarta Central Park sangat penting bagi kami karena brand Pullman adalah inti dari portofolio brand upscale Accor sekaligus brandyang tumbuh paling cepat di Asia Pasifik,” ujar Gerard Guillouet, Vice President Accor Malaysia, Indonesia, Singapore, pada pembukaan Pullman Jakarta, 16 November 2011.

Terletak di lokasi strategis, hanya 25 menit dari Bandara Soekarno-Hatta, hotel ini terintegrasi dengan pusat perbelanjaan Central Park (Pemenang Highly Commended Award untuk kategori Best Retail Development dalam Asia Pacific Property Awards 2011, yang merupakan The International Property Awards 2011 tingkat regional, salah satu ajang penghargaan properti paling bergengsi di dunia) dan dengan akses yang mudah dari Sudirman Central Business District, hotel ini ideal bagi para pelancong bisnis internasional dan domestik serta wisatawan.

Pullman Jakarta juga memiliki fasilitas lengkap dan cocok bagi para pelancong wisata maupun pelancong bisnis. Untuk memanjakan selera para tamu hotel, restoran Collage menyediakan beragam hidangan internasional yang komprehensif, baik hidangan prasmanan ataupun hidangan a la carte. Dengan konsep dapur terbuka dan suasana yang didesain dengan baik, tim kuliner Pullman yang handal akan menyajikan berbagai hidangan Timur dan Barat yang menggugah selera.

Ephicure, A Person with Great Taste

0

Dear Mas Abe,

You are cordially invited  to attend the soft opening of Ephicure Wine Lounge (at fX lifestyle X-nter F2 #2, Jl. Jendral Sudirman, Pintu Satu Senayan, Jakarta) on Thursday, November 10th, 2011 and enjoy our free flow wines from 7 to 9pm.

Regards,

Adriantomo

Marketing Coordinator, Ephicure Wine Lounge

UNDANGAN tersebut  tentu tidak saya sia-siakan. Pertama, karena saya kenal secara pribadi dengan pengundangnya, yang memang sudah lama bergerak di bidang hospitality. Kedua, nama “Ephicure” mengundang keingintahuan saya, yang dalam ejaan aslinya “epicurean”, berarti “the enjoyment of good food and drink”.

Menurut pengundangnya sendiri, “ephicure” berasal dari kata “epicurus” yang artinya “a person with great taste, especially in food and wine”. Ya, sebelas dua belas, ungkapan yang menunjuk kepada gaya hidup seseorang yang mempunyai selera tinggi dan kemewahan hidup.

Wine saat ini memang diposisikan sebagai minuman untuk kalangan atas – paling tidak di Jakarta harganya masih tinggi, bahkan digolongkan sebagai barang mewah, sehingga untuk mengimpornya pun terkena PPn BM.

Begitulah, tapi orang-orang Jakarta kini sudah tidak asing dengan wine. Kendati bukan tradisi asli Indonesia, nyatanya kini wine sudah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup warganya. Yup, kalangan elite di perkotaan makin banyak yang mengonsumsi wine, baik diminum tersendiri maupun melengkapi hidangan makan. Mulai dari pengusaha, profesional, politikus partai, bahkan pasangan anak muda.

Lounge-lounge yang khusus menyediakan wine juga makin banyak. Di luar lounge khusus wine, banyak kafe, restoran, maupun hotel yang menyediakan wine, dan tempat-tempat itu tak pernah sepi pengunjung. Ini indikasi bahwa wine adalah bagian dari gaya hidup pergaulan kelas menengah ke atas kota-kota besar, yang apa boleh buat, diadopsi dari budaya Barat, terutama Amerika dan Eropa.

Berbeda dengan minuman berlkohol lainnya, wine memang lebih ditekankan sebagai pendamping makan, yang katanya akan menambah kelezatan rasa saus dari makanan-makanan tersebut. Tidak heran kalau sejumlah hotel, bar, dan restoran pun kini kerap menyajikan wine. Bahkan mereka mempunyai agenda khusus menggelar wine dinner untuk pelanggan mereka.

Itu memang aturan utamanya yang tidak tertulis. Tapi belakangan, menjadi aturan yang tak tertulis juga, wine pun tidak harus dipandang sakral, yang semata-mata untuk menemani makan malam yang romantis saja. Tapi wine bisa juga dinikmati di lounge atau bar dengan ditemani dengan canape, bahkan hanya sepiring kentang goreng atau tortila chips. Setidaknya, itulah pengalaman kami di Ephicure Wine Lounge @ fX, Senayan pada saat soft opening lalu.

Wine adalah minuman beralkohol yang dibuat dari sari anggur jenis Vitis vinifera yang biasanya tumbuh di area 30 hingga 50 derajat lintang utara dan selatan. Berdasarkan penelitian, manusia telah membuat minuman anggur sejak sekitar 5.000 tahun yang lalu.

Leila Lopes and National Asset

0

WHEN Leila Lopes, Miss Universe 2011, visited Indonesia she acknowledged that she was impressed with Indonesian culture. She expressed her admiration when she visited Living World Alam Sutera in North Serpong district, South Tangerang some time ago. Here the beautiful lady from Angola learned to make batik. “Indonesian batik is very beautiful,” she said.

Leila also tried her hand at making the ancient batik design called Ceplok Gondo Madu originating from Central Java. Accompanied by Putri Indonesia 2011 (Indonesia Lady 2011), Maria Selena, Leila visibly enjoyed making batik although it was the first time she had tried her hand at it.

After trying out her artistic skills, Maria and Leila were shown batik from various regions, such as Cirebon, Garut, Yogyakarta, Surakarta, Lase, Sidoarjo, Madura, Surabaya, Pemalang, Medan, Pekalongan and Bali. Each of them received a batik bolero from Surakarta.

Batik has traveled a long way in Indonesia, starting from ornamental motifs on the walls of ancient temples up to modern designs that have put batik on a par with foreign made haute couture. Batik is a method of making cloth for garments. First, it is a coloring technique that uses wax to prevent the color from spreading on the entire piece of cloth and this technique is called wax-resist dyeing. Second, batik can also be described as a piece of cloth or a dress that is made using the technique mentioned earlier, including the use of specific motifs.

Indonesian batik, embracing its techniques, technology, motifs and the culture of the art, was designated as a Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity by UNESCO on Oct. 2, 2009.

But of course Indonesia has more to offer than just batik. Indonesia is the largest archipelagic country in the world with 17,508 islands. And, with 1,128 ethnic groups indeed Indonesia is a nation rich in varied cultures, art and crafts.

Each region has its own craft industry, while some regions, such as Yogyakarta and Bali, are virtual handicraft hubs. Here you can easily explore thousands of handicraft and furniture collections.

Indonesian handicrafts are generally made from natural materials, such as wood, rattan, batik, leather and metal that are made into souvenirs or home decorations.

In Indonesia you can find handicrafts throughout the entire archipelago from east to west. In East Nusa Tenggara, for example, besides watching the giant Komodo lizards you can find a rich heritage of traditional woven cloth.

The woven cloth of each tribe in East Nusa Tenggara is passed on from generation to generation to preserve the art. The motif denotes the tribe or the originating island and everyone is proud to wear the woven cloth indicating his or her tribe.

Some tribes, like the East Sumbanese, use animal or human motifs, such as horses, deer, shrimp, dragons, lions, scarecrows, trees and so on while in Central South Timor you will find motifs such as birds, lizards, crocodiles and kaif (hooked diamond). Other areas have flowers and leaves for their motifs while animals are additional.

Unique to Aceh is the nepa, a kind of earthenware vessels or pottery, which are popular among foreign tourists. The word nepa in Gayo language means flattening the clay. You can find most of this type of pottery in Central Aceh regency. The nepa is used by the Gayo people for daily utensils, such as a rice and vegetable cooking pot plus its lid, dishes, cups, jars and so forth.

Malaka, Gumilang, Asmila, Burgundy

0

MAKIN banyak saja hotel-hotel bermunculan di Bandung, baik yang sama sekali baru atau pun hotel lama yang direnovasi kembali. Maklum, Kota Kembang itu kini menjadi salah satu destinasi favorit, tidak hanya bagi turis domestik tapi juga turis manca negara. Asal tahu saja, Air Asia berani melakukan penerbangan Kuala Lumpur – Bandung tiga kali sehari.

Undangan para pengelola hotel di Bandung untuk awak media pun, yang entah untuk memberikan materi liputan atau pun sekadar ajakan beranjangsana, datang bertubi-tubi. Itu sebabnya, HAM (Himpunan Anak Media) yang menyatukan awak media Jakarta berinisiatif mengadakan Media Gathering di Bandung, 23-26 September 2011.

Selama empat hari itu, kami mengunjungi tiga hotel, Malaka, Gumilang, dan Asmila, serta sebagian ke Burgundy Wine & Dine. Acara yang dimotori oleh Hadi Suwarno (Majalah Eksekutif) dan Michael Petit (Majalah Hang Out) ini cukup seru, tidak hanya beramah tamah dalam suasana kekeluargaan, tapi juga party yang gilan-gilaan ala media.  Hadiah pun bertaburan, dengan grand prize dua tiket Garuda Jakarta – Singapura pp yang dipersembahkan oleh Asmila.

When Budget Meet Comfort

Hotel pertama yang kami singgahi adalah Malaka. Ini adalah hotel bujet di bawah pengelolaan Kagum Hotels, manajemen perhotelan berpusat di Bandung, yang saat ini telah mengelola enam hotel di Bandung. Hotel bintang dua ini resmi beroperasi 15 September 2011.

Terletak di Jl. Halimun No 36, Palasari, Malaka cukup strategis, berjarak 15 menit dari Bandara Udara Husein Sastranegara, 5 menit dari Bandung Super Mal dan Trans Studi Bandung, 5 menit dari wisata kuliner Jl. Burangrang dan 10 menit dari Jalan Riau, wisata kuliner dan factory outlet.

Hotel dengan 46 kamar superior berukuran 15,5 m2 dan dua kamar suite berukuran 31 m2 ini, berkonsep “Bed and Breakfast” yang dilengkapi fasilitas restoran dan ruang pertemuan dengan kapasitas maksimal 40 orang. Selain berukuran dua kali lebih besar dibandingkan kamar superior, kamar suite juga dilengkapi ruang tamu dan bathtub di setiap kamar mandinya. Harga yang ditawarkan; Rp 350.000 nett (superior) dan Rp 650.000 nett (suite), tentu saja termasuk breakfast.

“Hotel bujet saat ini sudah memiliki pangsa pasar tersendiri. Banyak tamu yang menginap untuk tujuan belanja, rekreasi, dan bisnis dalam waktu singkat, sehingga hotel bujet dengan lokasi strategis dan harga terjangkau bisa menjadi salah satu pilihan,” jelas Evaldo selaku Corporate PR Manager Kagum Hotels.

Meski harganya murah, para tamu tetap dapat menikmati berbagai kenyamanan dan fasilitas. Setiap kamar sudah pasti dilengkapi dengan AC, tempat tidur dan bantal seperti layaknya hotel berbintang, telepon di tiap kamar, TV kabel, dan Free WiFi.  Tempat parkirnya cukup luas, serta  keamanan yang terjamin. Seperti tagline yang diusung Hotel Malaka, “When Budget Meet Comforts”.

Most Memorable Stay

Hotel kedua yang kami singgahi adalah Hotel Gumilang Regency, yang sudah beroperasi sejak 1990. Pada awalnya hotel hanya memiliki 56 kamar tamu dengan fasilitas ruang meeting, coffee shop dan restoran. Melihat tingkat persaingan hotel yang semakin meningkat dan ditambah meningkatnya kunjungan wisata ke Bandung yang membaik, maka mulai tahun 2007 dilakukan renovasi. Perubahannya cukup signifikan; yakni perbaikan dan penambahan kamar, penambahan fasilitas dan renovasi main building sehingga memberikan wajah baru.

Yup, hotel yang memiliki tagline “Most Memorable Stay” ini memiliki target merenovasi kembali properti dan mengubah segmen menjadi menengah ke atas. Gumilang Regency memiliki 104 kamar yang ditawarkan mulai Rp699.000 nett per malam. Terdapat lima kategori kamar, yakni 12 standard, 16 superior, 65 deluxe, 10 executive, dan 1 suite.

Hotel Gumilang Regency terletak di daerah Bandung Utara yang berbatasan dengan Kota Lembang, Kelurahan Isola, Kecamatan Sukasari, Kotamadya Bandung. Berada di ketinggian sekitar 2.700 kaki di atas permukaan laut dengan suhu udara yang sejuk antara 18’ C – 25’ C, menjadikan hotel ini mempunyai atmosfer yang berbeda dibandingkan dengan Jakarta, misalnya. 

Shop Till You Drop in Singapore

0

SINGAPORE has always been and continues to be a shopper’s paradise. Although other major cities in the world have also built shopping malls the city-state remains an attractive choice for branded goods. The following are the experiences of people who frequent Singapore for shopping. (Burhan Abe, The Jakarta Post, September 30, 2011)

Farah Quinn, Celebrity Chef

While I seldom go to Singapore for shopping alone, during my frequent visits I am always tempted to do some shopping, because the moment I step out of my hotel there are lines of malls and shops. So the vibe is instantly shopping and nothing else.

Although shopping is not always on the top of my to-do list, when I return to Indonesia I find that I am carrying lots of things, including fashion items, apparel as well as the cooking utensils that I need for my profession.

I also often purchase food items, because although Singapore is lacking in natural resources and most of its food items are imported, shopping for such things in Singapore is enjoyable due to the available variety – more complete than here in Indonesia – and the guaranteed quality.

Payment is quite convenient with cash or credit card. What is unique is that we can get a refund for sales tax at the airport.

Photo by Harry Cunningham on Unsplash

Anastasia F. Sadikun, Businesswoman/Socialite

Why Singapore? Because of its proximity to Indonesia. While shopping in Jakarta is equally attractive nowadays, going to Singapore for shopping has an element of travelling abroad as well. I used to fly to Singapore four to five times a month, but now being tied up at the office I rarely visit the city-state.

I love to shop for fashion items, especially handbags, and also wine, which is cheaper in Singapore than in Indonesia, because here there is luxury goods tax levied on wine.

Apart from being close geographically Singapore guarantees the products sold there including the service. Once I bought a branded handbag costing Rp 40 million and when it was damaged, just a little, mind you, they repaired it for free! This kind of service brings me back to Singapore again and again. My shopping destination is usually Orchard Road and I also like to go to Marina Bay Sands for shopping because it is new, huge and very complete. For payment I can use a number of credit cards, such as Master card, Visa or even Amex which has a more flexible limit.

I go to Singapore not only for shopping, for also for spa treatments and eating out, and for all this Singapore is still heaven!

Ayi Tjakrawadena, Businesswoman

Singapore is a shopper’s heaven. I can’t remember exactly how many times I have been there, but every time I want a branded item Singapore is the right place. I think the main reason is that it is simply so practical. I often I don’t have enough time to stay overnight so I go in the morning and fly back at night. That way it is just like going to a mall in Jakarta, but with a different ambience. In Singapore the goods are up to date and during the sale season it is a perfect for women to shop there.

The Race of Luxury City Cars

0

A city car is, generally speaking, a simple car that is suitable for driving in major cities with heavy traffic congestion. But simple does not mean modest as we can see from the appearance of Smart Fortwo, a cute looking car produced by Daimler AG.

PT Mercedes Benz Indonesia launched the smart car last year, the latest model or facelift of the second generation smart. “The launching of Smart in Indonesia is the start of a long term investment by Daimler AG in Indonesia and fulfills the requirements of modern mobility as well as high efficiency and safety. And it is fun to drive,” explained President Director and CEO of PT. Mercedes-Benz Indonesia, Rudi Borgenheimer.

City cars clearly give great benefits for driving mobility in Indonesia’s major cities which are now congested with traffic while Smart itself before being introduced to Indonesia has enjoyed marketing success for the past 10 years in a number of important markets in the world, including Europe and the United States.

Smart fortwo is only 2,695 mm long, 1,559 mm wide and has a height of 1,542 mm and has space for two adults plus space for baggage at the back. Its simple yet modern design allows for better maneuvering and saves parking space in today’s limited space in the cities. The specifications of Smart available in Indonesia match consumer requirements so that the city car can withstand all types of weather here amid the extremely congested traffic of Jakarta. 

Mercedes Benz, the car manufacturer that used to concentrate only on cars with a large machine capacity, is not the only manufacturer focusing on the cute looking smart city cars. General Motors (GM) from the United States is also seriously developing a number of city cars. 

Its premium dry car concept has a modern, dynamic and lively design. At present GM is in the midst of production procession of two designs and to lower its production cost GM has opted to manufacture them at GM DAT (GM Daewoo Auto and Technology Company) in South Korea.

There are two designs being developed at GM DAT, namely the premium model and the low cost one; both still in the initial stage. The premium city car is targeted for sales in the European market while the low cost variant for a more global market, including Southeast Asia. 

Not intending to lose out to GM, another major car manufacturer, Volkswagen, is poised to enter the city car market this year. VW is going to release a variant of Up which is positioned as the reincarnation of Beetle, a low cost VW for the 21st century. This four passenger car will have a three cylinder engine.

Photo by Roland Denes on Unsplash

Another car maker that is serious about the city car segment is Aston Martin. In November last year Aston Martin exhibited its luxury city car, Cygnet, at the elitist mall Harrods in Knightsbridge, London.

This is the first debut of Cygnet in the world and it will be manufactured by Aston Martin at its factory in Gay-don, England. Albeit a city car Aston Martin promises that Cygnet will have the same luxurious features as other Aston Martin models. That is why Aston Martin positions Cygnet as the solution for rich people who need a city car.

Ndalem Ngabean, Yogyakarta

0

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu

Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu

Nikmati bersama suasana Yogya

LAGU Kla Project tersebut pasti mempunyai kesan tersendiri bagi orang-orang Yogya atau yang pernah tinggal di Yogya. Setidaknya itu pula yang saya rasakan ketika menginjakkan kaki di Kota Pelajar tersebut, libur Lebaran lalu. Saya memang tidak hanya mengenang masa kuliah di Universitas Gajah Mada, tapi bersama keluarga ingin menikmati suasana Yogyakarta, yang pastinya berbeda dengan di Jakarta.

Memang di kendaraan menuju kota kenangan tersebut, sejumlah rencana telah saya tetapkan, misalnya berwisata kuliner ke daerah Wijilan, yang terkenal dengan gudegnya, makanan khas yang menjadi ikon Yogyakarta. Malioboro tentu menjadi salah satu sasaran, juga alun-alun yang bersebelahan dengan Kraton.

Beruntung saya dan keluarga bisa menginap di heritage hotel, namanya Ndalem Ngabean, yang beralamat di Jl. Ngadisuryan No. 6. Hotel baru memang, baru beroperasi tiga bulan, dan kamarnya siap disewakan cuma tujuh buah. Menilik alamatnya, hotel ini masih di kawasan Kraton Yogyakarta.

Kraton Yogyakarta yang juga dikenal sebagai Kasultanan Ngayogyakarta berdiri tahun 1755. Bangunan Kraton ini dipagari beteng yang luas yang di dalamnya ada bangunan kecil dan disebut sebagai pojok beteng. Di dalam bangunan beteng selain ada bangunan Kraton, tempat tinggal raja, di sekitarnya ada sejumlah kampung sebagai tempat bermukim penduduk, yang pada zaman dulu merupakan abdi dalem Kraton.

Namun pada perkembangan berikutnya, orang yang tinggal di dalam beteng Kraton tidak harus sebagai abdi dalem, tetapi bisa orang biasa yang bertempat tinggal di sana lantaran telah membeli tanah berikut bangunan rumah dari pemilik sebelumnya, Kraton di lingkungan, dalam istilah lokalnya, “njeron beteng”.

Ndalem Ngabean, yang asal tahu saja dulunya merupakan kediaman pengusaha Probosutedjo, termasuk yang berada di lingkungan “njeron beteng”. Jadi, tidak ada salahnya, meski hanya semalam, bergaya sejenak seperti keluarga Sultan. Juga tidak salah kalau hotel dan juga restoran (yang sudah terlebih dahulu ada) menyebut diri sebagai “The Most Elegant Prince House for Lunch & Dinner”.

Arsitektur Ndalem Ngabean sangat Jawa, lengkap dengan pendoponya. Tidak hanya itu bangunan dan lingkungannya boleh dibilang sebagai duplikatnya Keraton, bahkan hingga ke bagian detilnya, mulai ukiran bahkan warnanya yang dominan hijau. Meski bergaya klasik, bukan berarti fasilitasnya juga kuno, karena Ndalem Ngabean dilengkapi dengan fasilitas modern – lengkap dengan kolam renangnya yang terkesan masa kini.

Ndalem Ngaben, selain berada di dalam kompleks Istana Kraton Yogyakarta, juga berdekatan dengan Tamansari, Museum Sonobudaya, Museum Gamelan, dan Museum Kereta. Tentu saja dekat dengan Pasar Ngasem, pasar tradisional Yogyakarta yang tidak dijumpai di kota-kota lain. Di sini tidak hanya ada makanan bakpia saja – yang sudah populer secara nasional, tapi juga yang lebih tradisional, seperti clorot, apem, semar mendem, hawuk-hawuk, lemper, gebleg dari Kulonprogo, yangko dari Kotagede.

Sebagai kota wisata, Yogyakarta yang kini makin modern – sudah mempunyai mal mewah lengkap dengan Starbuksnya, sebenarnya masih banyak menyimpan berbagai pesona yang belum seluruhnya tergali. (Burhan Abe)

Wine for Asia 2011: Lucrative & Palatable

0

WORLD’S wine industry is counting Asia with the phenomenal increase in wine consumption that has built lucrative markets in the region.

With the world supply of premium wine outstripping demand, and the custom of wine drinking is rapidly gaining ground in Asian countries, many wine exporters are eyeing to establish new markets in Asia. In Indonesia, the trend has the tendency to increase with more and more people discovering the pleasure of drinking wine.

To give the world a better understanding of Asian markets, Wine For Asia (WFA) returns for its ninth annual event featuring 370 exhibitors from 23 countries and 10 country pavilions.

Scheduled to take place on 27-28 October 2011 at Suntec Singapore, the esteemed WFA 2011 will present as many as 3,000 trade professionals from Singapore, Malaysia, Indonesia, Vietnam, Thailand, the Philippines, Laos, India, China, Hong Kong and more. 

WFA 2011 is organised by MP International and Wine Resources and will house over 5,000 sqm exhibition showcasing a broad array of wines from Australia, Chile, France, Georgia, Germany, Italy, Japan, Portugal, Singapore and Spain. The event is expected to attract more than 4,000 visitors worldwide.

“The two-day event truly provides opportunities to meet reputable distributors from Asia while building network with high wine society members,” Malcolm Tham, programme director of WFA, says. “It’s one way to facilitate the drive to boost the wine business for wine trade.”

In addition to showcasing myriad collections of variety wines from across the world, the event will hold programs such as Bordeaux and Italian wine master classes by wine experts such as Antonio Borco and Louis Radman. The wine master classes will feature wines from France, Australia, Chile, Spain, Portugal, New Zealand, South Africa, Greece and Germany.

There will also be product launch of Italian wines and F&B industry forum by FBMA Singapore. The forum presents eminent industry players to share their experience while taking participants into an insight of F&B industry outlook.

Among the interesting highlights at WFA 2011 is Wine Style Asia Award (WSAA). First launched in 2004, WSAA has gained much recognition. “And this year event will present 500 entries from overseas wineries and local importers and distributors. WSAA will confer the awards at a high-profile gala dinner,” Tham adds.

An elite panel of distinguished international and regional wine experts will be the judge to select award-winning wines in The Wine Style Asia Award (WSAA), the wine competition held in conjunction with WFA 2011.