Home Blog Page 86

Musik dan Media Sosial

0

“Music doesn’t lie. If there’s something to be changed in this world, it can only happen through music.” —Jimi Hendrix

Musik tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan banyak yang menyatakan tidak bisa hidup tanpa musik. Lalu, bagaimana industri musik di era digital? Sejak Internet berkembang, musik memiliki lahan tersendiri di dunia maya, tak terkecuali di media sosial. Ketika Friendster berjaya, musik memiliki tempat tersendiri, seperti di MySpace dan Last.fm. Bahkan, menyadari pentingnya keberadaan musik, media sosial seperti Twitter sempat berusaha mengambil alih SoundCloud.  

Fin Leavell adalah orang pertama yang mengunggah karya musik pribadinya ke MySpace, yang kemudian menjadi tren yang cukup luas. MySpace pun berkembang semakin besar sebagai media sosial musik, setelah Rupert Murdoch, pemilik Fox News dan 20th Century Fox, membeli MySpace dan mendirikan MySpace Records pada 2005.   

MySpace Records merupakan label yang siap menerbitkan bakat terpendam yang ada di seantero MySpace. Beberapa nama yang sukses melalui MySpace adalah Lily Allen, Owl City, Hollywood Undead, Sean Kingston, dan Arctic Monkeys.  

Ketika Facebook muncul dengan berbagai fitur, yang membuat banyak pengguna MySpace beralih pada 2008. Runtuhnya MySpace pada 2011 bisa jadi merupakan penyebab pengguna akun media sosial mencari alternatif lain. SoundCloud, yang ditemukan pada 2007, tampaknya bisa mengisi kekosongan tersebut. Pada Juli 2013 media sosial ini mampu menjaring 40 juta pengguna dan 200 juta pendengar.

Selain dua platform tersebut, bermunculan media sosial yang mengedepankan musik sebagai andalannya, mulai Google+, Spotify, 8tracks, Reverbnation, OurStage, hingga Fanbridge. Bahkan beberapa media sosial besar akhirnya memasukkan fitur musik dalam platform mereka. Facebook hingga Twitter pun melakukan hal itu.   

Media sosial memang membantu pelaku seni musik lebih dekat dengan pencinta karyanya. Setiap orang di seluruh penjuru dunia selalu berusaha update informasi tentang artis idolanya, terutama yang berkaitan dengan karyanya. Jumlah view di YouTube dan downloader menjadi nilai jual sang musikus. Hal ini yang terjadi pada Psy, penyanyi asal Korea Selatan, yang kemudian mendunia berkat lagu Gangnam Style-nya. Begitu juga yang terjadi pada Justin Bieber.   

Belum lagi fenomena trending topic di Twitter, yang juga menjadi ajang jualan bagi musikus. Dulu, ketika sebuah televisi swasta di Indonesia memiliki program tayangan langsung pertunjukan band, trending topic menjadi salah satu hal yang dikejar para pengisi acara tersebut. Bukan hanya di Indonesia, hal itu juga berlaku dalam acara internasional, seperti MTV Video Music Awards, yang mampu menghasilkan 306.100 tweet per menit melalui hashtag #VMA-nya.  

Musik tidak akan pernah bisa lepas dari kehidupan sosial manusia. Dalam bentuk apa pun, musik akan selalu memiliki tempat yang signifikan. Jauh hari Eve Shepherd, dalam tulisannya yang bertajuk “How Social Media Has Redefined the Music Industry”, mengatakan musik itu sendiri merupakan media sosial.   

Sejak dulu orang primitif berkumpul dan menyaksikan tarian persembahan dengan mengelilingi api unggun. Pada era berikutnya, musik membuat anak muda bertukar kaset dan mixtape. Bahkan, dalam setiap konser, orang pun akan berkumpul menonton pertunjukan. So, yes, music is social.   

Perkembangan era digital yang sangat pesat akan mempengaruhi semua jenis kegiatan dan industri, termasuk industri musik. Saat ini setiap pelaku seni musik dapat dengan mudah berinteraksi dengan penggemar karyanya. Hal ini terjadi karena perkembangan teknologi dan media sosial dari hari ke hari yang semakin banyak jenisnya.   

Tour de Singkarak 2014

0

Disemarakkan Nidji dan Kolaborasi Seni Tradisi Padang Pariaman

Perhelatan akbar Tour de Singkarak 2014 resmi digelar dengan ditandai oleh pemukulan bersama gendang tasa oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Bupati Padang Pariaman Drs. H. Ali Mukhni dan Ketua PB ISSI Edmound JT Simorangkir di Pantai Tiram, Padang Pariaman, Jumat malam, 6 Juni 2014.  

Pembukaan Tour de Singkarak 2014 begitu semarak dengan penampilan dari Nidji yang membawakan lagu-lagu hits mereka di depan masyarakat Sumatera Barat dan peserta Tour de Singkarak 2014. Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman dalam momen istimewa ini menampilkan Kolaborasi Seni Tradisi yang menggelar seni musik Gandang Tambuar, Dampiang, Indang, Bakiak, Gendang Tasa dan Rabab Piaman. Penampilan 25 seniman dari kelompok Art Birama di bawah asuhan Pemkab Padang Pariaman ini dikreasikan oleh musisi Susandra Jaya dan khusus dipersembahkan untuk Tour de Singkarak 2014.   

Edisi ke-6 Tour de Singkarak yang akan menjelajahi keindahan alam dan seni budaya 18 kota dan kabupaten di Sumatera Barat dari 7 hingga 15 Juni 2014 ini akan dimulai Grand Start-nya di Kantor Bupati Padang Pariaman hari Sabtu, 7 Juni 2014.  

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu menyampaikan, “Perhelatan akbar Tour de Singkarak 2014 diharapkan akan semakin memperkuat popularitas Sumatera Barat (Sumbar) sebagai salah satu distinasi wisata favorit. Promosi pariwisata yang terpadu dalam penyelenggaraan Tour de Singkarak juga diharapkan dapat ikut meningkat dan semakin menempatkan Sumatera Barat sebagai destinasi wisata favorit di Indonesia”.    

Lebih jauh Menteri Mari menggarisbawahi bahwa kesuksesan Tour de Singkarak yang telah terselenggara sejak 2009 merupakan hal yang membanggakan. Dari awal hanya 4 kabupaten yang ikut serta sampai dengan sekarang 18 kabupaten, dari 7 hari dan 4 etape menjadi 13 hari dan 9 etape, dari total hadiah Rp 600 juta menjadi Rp 1,3 miliar, dan bahwa standar penyelenggaraan dan kualitas kompetisi ini yang kian meningkat dari tahun ke tahun telah mengukuhkannya sebagai ajang olahraga balap sepeda internasional yang bergengsi.   

“Karena TDS sudah menjadi ajang balapan sepeda internasional yang masuk kalendar internasional, hal tersebut juga memantapkan Sumatera Barat sebagai destinasi wisata bertaraf internasional” tutup Menteri.  

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno dalam sambutan pembukaannya menyampaikan selamat datang di Ranah Minang kepada seluruh peserta Tour de Singkarak. Masyarakat Sumatera Barat berharap bahwa penyelenggaraan Tour de Singkarak yang sudah mendunia ini tetap menjadi event tahunan nasional dan internasional sebagai kebanggaan rakyat Indonesia dan Sumatera Barat pada khususnya. Kami tidak keberatan jika Tour de Singkarak ini suatu saat bisa lebih diperluas tidak hanya di wilayah kami namun juga di wilayah Indonesia lainnya, tentu saja dengan tetap menyandang nama Tour de Singkarak.

Tour de Singkarak 2014 yang diselenggarakan pada 7 – 15 Juni 2014 ini akan menjelajahi 9 etape/stage dalam 9 hari pelaksanaan. Partisipasi Kabupaten/ Kota tahun ini mengalami peningkatan menjadi 18 (delapan belas) dengan bergabungnya Kabupaten Pasaman Barat. TDS 2014 dikemas menjadi kegiatan yang semakin berkualitas dengan jarak tempuh lebih panjang yaitu 1250 km serta total hadiah pada penyelenggaraan Tour de Singkarak 2014 adalah Rp 1,3 miliar yang merupakan dukungan dari Provinsi Sumatera Barat dan 18 kab/ kota yang dilalui.

Jumlah peserta yang bertanding dalam Tour tahun ini adalah sebanyak 18 team dari 23 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Tunisia, Selandia Baru, Thailand, Australia, Iran, Singapura, Argentina, Spanyol, Taiwan, Uni Emirat Arab, Brunei Darussalam, Belanda, Korea Selatan, Amerika Serikat, Uzbekistan, Mongolia, Inggris, Filipina, Maroko, Moldova dan Jepang.

Warung Kopi & Teh Hadir di Hotel Tentrem

0

Satu lagi yang baru dari Hotel Tentrem Yogyakarta. Mengawali Juni 2014 ini, hotel yang terletak di Jl. AM Sangaji No. 72 A ini memperkenalkan sebuah outlet baru yakni Warung Kopi & Teh yang berlokasi di area lobi. Dengan lokasi di area balcony, pengunjung bisa merasakan suasana santai dan menikmati aneka pilihan menu yang menggugah selera.

Warung Kopi & Teh ini menyajikan aneka variasi minuman dengan penyematan nama-nama yang unik di setiap menunya. Anda akan diajak menikmati aneka pilihan Kopi atau Teh Monco Negoro, Kopi Panas Adem, Teh Campur Sari, Kopi Panas Adem, Wedang Seger, Wedang Bregas hingga aneka es atau yang dinamai dengan S’karepmu.  

Warung Kopi & Teh ini juga menyediakan aneka Cemilan Tentrem mulai dari martabak ayam, lemper bakar, pisang goreng kampoung, tahu renyah sambal kecap dan masih banyak lagi yang lain. Yang lebih istimewa lagi harga yang dibanderol untuk aneka menu lezat ini dimulai dari harga Rp 20.000 saja.  

Buka dari pukul 15.00 – 23.00 Warung Kopi & Teh bisa menjadi pilihan yang tepat bagi anda untuk menghabiskan waktu bersama teman atau kolega.

Hotel Tentrem dengan 274 kamar yang berlokasi di tengah kota Yogyakarta dengan sentuhan modern dan paduan tradisional Jawa.  

Hotel Tentrem Yogyakarta

Superhero

0

Anda tentu mengenal Spider-Man, Superman, Batman, atau Iron Man. Superhero itu sangat populer dan selalu menjadi idola anak-anak, bahkan orang dewasa. Tidak heran, film-film bertemakan pahlawan super selalu diproduksi sepanjang zaman.  

Di balik superhero, ternyata ada peran Marvel dan DC. Dua perusahaan yang dikenal memproduksi dan menerbitkan komik itu mendominasi dunia pahlawan super dengan karya-karya abadi. Karya mereka mampu menarik perhatian dan lintas generasi.  

Popularitas keduanya diikuti persaingan ketat dalam hal memanjakan penggemar mereka. Persaingan itu kemudian menjadi perseteruan abadi. Dengan tetap mempertahankan idealisme, Marvel dan DC seakan memonopoli industri hiburan yang menjual superhero. Persaingan keduanya sudah terjadi sejak 1930-an, bahkan berlanjut hingga lebih dari tujuh dekade. Menurut situs Slate.com, mereka mampu menguasai hingga 70 persen pasar retail komik (lihat MALE Zone, yang ditulis Dedy Sofan).  

Ditilik dari segi bisnis, Marvel dan DC sudah melakukan perlawanan langsung melalui karya yang dirilis. Tentunya karya-karya itu terlihat dari kehebatan superhero yang berada di rak-rak buku penggila komik. Beberapa di antaranya memiliki karakter cerita dan penampilan yang mirip. Kalau dilihat secara keseluruhan, Marvel dan DC memiliki karakteristik yang berbeda dalam menyajikan komik masing-masing. Dalam situs BBC.co.uk disebutkan DC selalu berevolusi, mengikuti zaman yang ada, tapi tetap segar. Adapun Marvel sangat revolusioner, dengan sesekali mengubah keseluruhan cerita, tapi tetap mempertahankan konsep aslinya.  

Persamaan karakter superhero mereka terletak pada konsep kekuatan dan kelemahan si pahlawan super, yang sekaligus menjadi pembeda kubu superhero itu. Tokoh-tokoh dalam komik DC lebih berfokus pada hidup dan tujuannya. Sementara itu, Marvel beradaptasi dengan situasi dan lingkungan sekitarnya.  

Begitu pula dengan cara karakter menyikapi kekuatan super yang dimilikinya. Karakter komik DC memiliki kecenderungan bangga akan kekuatan yang dimiliki dan menggunakannya dalam situasi tertentu. Bukan hanya itu, ada pula ideologi yang kuat di dalamnya. Seperti yang terlihat pada karakter Batman, yang melatih diri, sekaligus membuat berbagai macam alat canggih, untuk membela Kota Gotham. Adapun Wonder Woman adalah wanita tangguh dari Amazon, yang memiliki kekuatan dan keahlian di atas rata-rata untuk melindungi manusia.  

Marvel memiliki cara lain mempresentasikan karakternya, dengan memandang kekuatan super sebagai beban dalam hidup. Contohnya, para mutan dalam komik X-Men yang dikucilkan oleh masyarakat, atau sosok Bruce Banner yang menyimpan beban dan menderita akibat perubahan dirinya menjadi Hulk.  

Bagaimana The Balvenie Dibuat?

0

Tidak berbeda dengan proses pembuatan wiski pada umumnya. Ada beberapa tahap yang harus dilalui.

Tahap 1

Barley dan Malting

Di sekitar pabrik penyulingan terdapat perkebunan seribu are, Balvenie Mains, yang digunakan untuk pembuatan The Balvenie. Barley direndam dengan air untuk mengubah pati menjadi gula yang sangat penting dalam menghasilkan alkohol. Pabrik penyulingan The Balvenie adalah pabrik terakhir di Scottish Highland yang masih menggunakan floor malting.  

Tahap 2: 

Ekstraksi

Pengolahan barley menjadi bubur barley dilakukan di dalam sebuah wadah besar bernama mash tun untuk mengekstrak gula larut dari barley yang sudah direndam di dalam air.  

Tahap 3: 

Fermentasi

Fermentasi adalah tahap di mana alkohol pertama kali dihasilkan. Sama seperti halnya dalam proses pembuatan bir yang lebih dikenal dengan istilah brewing.  

Tahap 4: 

Penyulingan

Bentuk alat penyulingan tembaga merupakan faktor penting dalam menentukan rasa dan ciri khas dari The Balvenie. Itu sebabnya para pandai-tempa tembaga The Balvenie menjaganya dengan sangat hati-hati selama sekitar 50 tahun.  

Tahap 5: 

Para Pembuat Drum

Drum sangat penting dalam menghasilkan rasa yang khas dari The Balvenie. Oleh karena itu mereka mempercayakan persiapan dan perawatan kepada para pembuat drum yang telah berkomitmen untuk mendedikasikan waktu dan keahliannya sebagai pengrajin tradisional. Tanpa mereka, mereka tidak yakin dapat memperoleh drum dengan kualitas tinggi untuk dapat menyimpan The Balvenie.  

Tahap 6: 

Pematangan

The new-make spirit ini dimasukkan ke dalam drum kayu ek untuk proses pematangan yang akan memakan waktu bertahun-tahun. Proses pematangan memiliki pengaruh besar pada rasa single malt; bukan hanya karena jenis drum yang digunakan, tetapi perubahan suhu di dalam gudang serta cuaca yang dingin juga berpengaruh terhadap cita rasa yang dihasilkan.

Populasi Gadget dan Iklan Digital

0

Tren digitalisasi bukan untuk dihindari, tapi harus diterima sebagai sebagai sebuah keniscayaan – kecuali Anda merasa nyaman hidup di “zaman batu”. Penetrasi perangkat-perangkat canggih juga makin tidak terbendung dalam kehidupan sehari-hari. Sebutlah ponsel, smartphone, tablet, phablet, dan kelak si pendatang baru “kacamata pintar”.  

Jangan salah, masyarakat Indonesia ternyata termasuk pasar yang atraktif bagi gadget-gadgetmasa kini tersebut. Ada yang memperkirkan, jumlah pemilik ponsel di Indonesia sudah menembus 200 juta – lebih tinggi dibandingkan populasi televisi dan radio. Sementara, penetrasi internet di Indonesia sekitar 40 persen.  

Sebuah penelitian yang lebih komprehensif mengungkapkan bahwa kebanyakan orang Indonesia memiliki perilaku konsumtif dalam pembelian smartphone dan tablet. Menurut perkiraan Cisco Visual Networking Index (VNI) Forecast, akan ada 370 juta pembelian ponsel atau tablet yang dilakukan oleh warga Indonesia pada 2017 mendatang.  

Penelitian itu mencatat bahwa pada 2011 tercatat sekitar 250 juta pembelian berbagai ponsel dan komputer tablet di Indonesia. Hanya dalam satu tahun, jumlah tersebut meningkat 50 juta menjadi 300 juta pengguna ponsel dan tablet — dan diperkirakan akan menembus angka 370 juta pada 2017.   Dirk Wolter, Director for Mobility Architecture for Asia Pacific, Japan, and Greater China, mengatakan peningkatan jumlah tersebut karenakan perilaku konsumtif warga Indonesia disertai gaya hidup yang berubah mengikuti perkembangan teknologi. “Seperti dapat kita lihat, satu orang di Indonesia sekarang bisa memiliki empat ponsel,” tutur Wolter, seperti dikutip Okezone.  

Ya, perilaku konsumtif membuat pertumbuhan pasar gadget di Indonesia melonjak karena hadirnya ponsel-ponsel atau tablet dengan harga miring, pasar gadget second pun berkembang. Meski ponsel-ponsel anyar ramai berdatangan, tapi pembelian ponsel dari tangan kedua pun marak karena harganya yang lebih murah. Di Indonesia hal ity sudah biasa, “Sementara di negara maju sebutlah AS dan Eropa, orang-orang tak ada yang membeli ponsel atau tablet bekas. Mereka semua membeli barang yang baru,” jelas Wolter.  

Besarnya populasi gadgetdi Indonesia ini tentunya juga diikuti oleh gaya hidup seseorang yang selalu membutuhkan internet dalam aktivitasnya. Kebutuhan akan koneksi internet ini makin tinggi dari waktu ke waktu, sebab tidak hanya bisnis, internet juga dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari. Selain digunakan untuk melakukan aktivitas pekerjaan dan bisnis, penggunaan internet data yang melonjak tersebut juga didominasi oleh aktivitas masyarakat dalam bersosial media.  

Cisco mencatat bahwa keuntungan paling banyak di dunia telekomunikasi bersumber dari data internet, diikuti oleh layanan SMS, serta layanan telepon. Pada 2011 tercatat keuntungan terbesar di dunia telekomunikasi Indonesia bersumber dari data internet, yakni 11 miliar dolar AS. Berikutnya adalah SMS sebesar 9 miliar dolar AS, dan layanan telepon sebesar 6 miliar dolar AS.  

VNI Forecast memprediksi angka tersebut akan terus meningkat, dan pada  2017 data internet akan mencapai 15 miliar dolar AS, SMS 12 miliar dolar AS, dan layanan suara 8 miliar dolar AS.  

Ketika populasi gadgetsemakin tinggi, dan penggunaan internet menjadi kebutuhan yang terus meningkat, maka periklanan digital pun adalah sebuah keniscayaan pula. Beriklan secara digital sekarang ini menjadi pilihan bukan hanya oleh perusahaan besar, tetapi juga usaha kecil dan menengah. “Dulu orang melihat digital itu sebagai komunikasi. Sekarang sebagai sarana untuk berkomunikasi, untuk berjualan,” ucap Danny Wirianto, CEO Merah Cipta Media.  

Hanya saja, sekalipun kebutuhan beriklan digital semakin membesar, masih ada beberapa catatan. Pertama, pengetahuan terhadap iklan digital masih rendah. Kedua, kesadaran akan ranah digital sebagai medium komunikasi dan keperluan bisnis belum ada. “Anak daerah, kayak di Bali atau Yogyakarta, misalnya, pintar dalam hal tekno, tapi secara marketing belum comply,” kata Ketua Pengembangan Digital Advertising di Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia. (Burhan Abe) 

Sumber: MALE 83

Iklan Digital Lebih Seksi

0

KEBERADAAN media digital merupakan bagian dari perkembangan media massa. Dulu, media cetak hanya bersaing dengan sesama media cetak, yakni koran dan majalah, ditambah radio dan televisi. Tapi kini, media konvensional tersebut harus menghadapi revolusi media, yakni media digital.  

Tapi yang jelas, media digital, atau lebih luas online, adalah peluang bukan ancaman, kendati uang yang masuk ke new mediaitu di Indonesia relatif kecil. Juga, kue iklan untuk media digital di Indonesia yang pada tahun 2013 mencapai Rp 1,5 triliun, misalnya, 70 persen mengalir ke perusahaan media digital asing, seperti Google, Yahoo, Facebook, Tweeter, dan Facebook.  

Artinya, demikian Direktur Pengembangan Bisnis Kelompok Kompas Gramedia, Edi Taslim, hanya tersisa sekitar Rp 400-500 miliar yang diperebutkan oleh 25 lebih media digital Indonesia.   Sungguh, kondisi yang masih memprihatinkan, apalagi melihat jumlah pengguna internet di Indonesia yang sudah mencapai 70 juta, yang sungguh luar biasa. Lalu,  mengapa iklannya masih relatif kecil?  

Berikut analisis Handi Irawan D, CEO Frontier Consulting Group. Pertama, pengetahuan para pelaku bisnis dan pemilik merek di Indonesia relatif minim dalam hal teknologi digital. Akibatnya, mereka masih kurang yakin terhadap efektivitas dari media digital. Proses pengukuran efektivitas dari media digital ini masih sangat minim, dan mungkin hanya beberapa puluh perusahaan di Indonesia saja yang melakukannya.  

Kedua, kisah sukses dari merek-merek atau perusahaan di Indonesia yang berhasil meningkatkan penjualan atau meningkatkan ekuitas merek dengan hanya mengandalkan media digital masih minim. Yang sering menjadi contoh, biasanya hanya perusahaan dengan skala kecil dan umumnya banyak yang menggunakan media sosial.   Ketiga, tentu saja adalah dari medianya sendiri. Iklan internet di Indonesia yang terbanyak adalah dalam bentuk iklan banner dan display – di luar kedua jenis iklan itu nyaris nol.  

Keempat, karakter pengguna internet di Indonesia masih dominan dalam hal media sosial. Selain itu, pengguna internet di Indonesia didominasi oleh mereka yang berusia muda. Dalam hal ini, banyak perusahaan atau pemilik merek merasa bahwa iklan di media digital tidak mampu menjangkau sebagian besar dari target mereka.  

Walaupun demikian, semuanya ini tinggal menunggu waktu. Pandangan pesimis menganggap kondisi ini sangat mencemaskan, tapi padangan optimis ini justru merupakan tantangan bagi perusahaan penerbitan di Indonesia. Perusahaan-perusahaan penerbitan digital itu dituntut untuk lebih kreatif, dengan produk-produk yang kreatif pula, supaya bisa menarik pengiklan.  

Media digital interaktif merupakan sebuah produk teknologi informasi terbaru yang trendi saat ini. Kehadiran model bacaan baru dalam formal digital ini tentu sangat berpengaruh kepada cara masyarakat mengomsumsi media.  

Dulu, tak terbayangkan kita dapat membaca majalah berformat digital, yang bukan hanya dalam bentuk Web atau file PDF, Word, Photoshop atau sejenisnya, melainkan dalam berbagai format sesuai dengan keinginan. Majalah digital berformat folio, misalnya, mempunyai konten yang sama, desain grafis yang sama, serta tampilan yang sama, dengan majalah cetak, bahkan lebih dari itu; interaktif dan ada videonya.    


Selain memberi pengalaman membaca yang baru, lebih fleksibel, interaktif dan menyenangkan, juga memungkinkan Anda menyimpan puluhan majalah tanpa harus menenteng tumpukan kertas yang sangat tebal seperti di masa lalu, hanya dalam sebuah tablet.  

Hal inilah yang membuat orang seperti Chris Antonius, CEO sebuah perusahaan, merasa optimistis. Iklan di media digital peluangnya besar, juga lebih seksi. Selain bisa menyasar target yang lebih luas, hasil dari pemasangan iklan pun bisa terlihat lebih jelas.  

Menurut Chris,  iklan di media tradisional dianggap tidak lagi begitu efektif untuk menggaet konsumen, berbeda dengan iklan digital yang memanfaatkan akses internet di komputer dan perangkat mobile, sepert tablet dan smartphone. “Kebiasaan orang-orang sekarang yang kerap menggunakan waktu luang mereka di komputer dan perangkat mobile, adalah peluang manis bagi pengiklan,” tukasnya.  

Menurutnya, hasil dari iklan pun akan terlihat lebih jelas. Yang menarik, iklan digital bisa dilacak dan dilaporkan dengan jelas. Pengiklan bisa mengetahui  dengan tepat berapa banyak orang yang mengklik iklan atau melihat produk yang diiklankan tersebut – yang tidak didapatkan di media tradisional. (Burhan Abe)  

Sumber: MALE 82

Publishing Revolution

0

A picture tells a thousand words… Imagine what moving ones can do!

TIDAK ada salahnya kita bahas lagi soal media digital. Maklum, dalam beberapa tahun terakhir ini perkembangan media digital sangat luar biasa, dan hampir semua media cetak besar beralih ke media digital – paling tidak menambahkan versi digitalnya di samping yang konvensional. Inilah yang disebut publishing revolution, media cetak (Eric Schmidt, mantan CEO Google memprediksi 5 tahun lagi) akan berada pada titik nadir, dan tergantikan dengan digital.  

Tidak pelak, perkembangan teknologi yang pesat menuntut semua hal menjadi lebih praktis dan mudah. Dalam bidang penerbitan, media digital adalah jawabannya. Apalagi, faktanya, tablet sebagai medium baru mulai menjamur. Tidak hanya tablet sebetulnya, tapi smartphone yang berfungsi sebagai tablet (ada yang menyebut phablet), ikut menyemarakkan perkembangan ini. Produk-produk gadget yang masuk kategori mobile itu kian menggerus keberadaan majalah konvensional.  

Memang, tablet buatan Apple, yang lebih dikenal sebagai iPad, pada kuartal kedua 2014 ‘hanya’ mampu terjual sebanyak 16,3 juta unit, tidak sesuai target yang dipasang para analis Wall Street mencapai 19,36 juta.  

Hanya saja, menurut CEO Apple Tim Cook angka penjualan iPad tersebut sudah sesuai dengan target internal perusahaan, dan yang menarik dua dari tiga pengguna iPad pada pertengahan tahun pertama ini merupakan pengguna baru.  

Yang jelas, menurut perkiraan IDC, penjualan tablet secara global untuk bisnis tahun ini akan tumbuh 14%, bandingkan dengan tahun 2013 yang 11%, dan berlanjut hingga 18% pada 2018. Kalkulasi yang lebih simpel dikemukakan oleh TabTimes, bahwa penjualan tablet untuk bisnis tahun 2014 akan mencapai 36,5 juta unit, atau naik 52% ketimbang 2013. Perkiraan angka pasar bisnis tersebut adalah tiga kali lipat dibandingkan pasar konsumer (individual).  

Yang menarik, kepraktisan serta kecanggihan perangkat tentu saja, menjadi hal yang utama, maka penggunaan mobile cenderung makin membesar ketimbang desktop. Bahkan sebelum akhir 2015, The NPD Group memperkirakan penggunaan mobile broadband devicemencapai 34 juta unit – 66% di antaranya adalah tablet.  

Praktis, mudah, murah dan efisien. Hal ini nampaknya yang membuat orang keranjingan memakai perangkat mobile, dan kembali ke soal media, versi digital yang bisa mewakili.  Tidak seperti media konvensional yang statis, majalah digital (interaktif) tampil lebih atraktif dan komunikatif, serta kaya akan konten yang membuat pembaca bisa tidak sekadar membaca tapi mempunyai pengalaman yang lebih seru di dunia digital.  

Majalah digital tidak hanya tren baru, tapi juga sekaligus challenge baru bagi penerbit untuk mengembang tiga unsur yang ada di platform ini: cetak, video, dan web, yang bisa memanjakan pembacanya. Selain memanfaatkan interaktif dan efek video, beberapa media sudah mengembangkan e-commerce yang lebih atraktif, yang menjadikan bertransaksi bisnis di dunia internet (via mobile) lebih menarik ketimbang duduk di meja komputer. Majalah The Church memberi catatan menarik, “A picture tells a thousand words… Imagine what moving ones can do!” (Burhan Abe)

Sumber: MALE Edisi 81

Think Digitally

0

Digitalisasi bukan sekadar mantra, tapi memang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kita semakin tergantung kepada berbagai teknologi yang memudahkan hidup, sebutlah komputer, notebook, smartphone, tablet, phablet dan seterusnya. Perangkat tersebut memudahkan kita untuk melakukan apa saja, mulai dari berkomunikasi, bersosialiasi, hingga bekerja.  

Salah satu produk digital adalah MALE. Digitalisasi media adalah sebuah keniscayaan, upaya memanfaatkan laju teknologi agar tidak ketinggalan zaman. Format digital juga lebih fleksibel, kapasitas distribusinya jauh melebihi media kertas yang terbatas. Majalah digital mempunyai konten yang lebih menarik, karena bisa diperkaya dengan video, suara, dan tautan web. Unik dan interaktif.  

Memang, ada pendapat minor bahwa animo pembaca majalah digital interaktif mulai menurun. Dibandingkan dengan majalah konvensional, khususnya di Indenesia, jumlah pen-download majalah digital masih tergolong kecil. “Tidak banyak yang tahu, kami mem-published versi digital di iPad,” ujar seorang pemimpin redaksi sebuah majalah gaya hidup.

Keluhan tersebut ternyata tidak hanya berlaku di Indonesia. Beberapa penerbitan majalah digital di AS juga pernah mengeluhkan hal yang sama, bahkan lebih ekstrem mengatakan bahwa “The app is dead”. Benarkah?

Banyak yang tidak setuju. Salah satunya adalah Josh Klenert, Direktur Eksekutif di Digital Customer Experience untuk JPMorgan Chase. Mengapa majalah digital tidak menarik perhatian? Menurut kreator majalah Huffington dan HuffPost untuk iOS7 dan Android ini, tak lain karena penerbitnya belum berpikir secara digital. Majalah-majalah digital yang ada saat ini kebanyakan perpanjangan dari majalah cetak. Isinya hanya memindahkan dari cetak ke digital saja. 

Sudah begitu, periode terbitnya rata-rata sebulan sekali, yang bagi pembaca online dan komunitas digital, terlalu lama. David Jacobs,  CEO 29th Street Publishing, menambahkan bahwa replika tidak akan pernah berhasil.

Makanya, jangan heran kalau ada majalah digital yang pelanggannya hanya 3% dari pembaca secara keseluruhan. “There is a challenge (and an opportunity) since the mainstream conception of a magazine app is what amounts to a photo gallery of pages of a magazine, with the occasional widget or animation. But that’s not a transformation that is going to happen overnight,” tambahnya.

Tentu, majalah digital tidak mati, tetapi membutuhkan pembenahan di berbagai lini, mulai dari kreativitas, desain, termasuk pembenahan di luar konten – sebutlah periodisasi terbit (Esquire, misalnya, sudah meluncurkan edisi mingguannya di iPad),  sosialisasi produk dan strategi pemasaran. Apalagi, faktanya, tidak ada yang bisa menghentikan proliferasi tablet. Pasar tablet semakin besar, banyak aplikasi yang dibuat dan dikembangkan untuk perangkat ini.  

Jadi, kalau ada penerbit yang mengeluh kekurangan pembaca, jangan salahkan teknologinya – apalagi menyalahkan masyarakat yang kurang aware terhadap produk digital. Buktinya, MALE, sampai edisi yang ke 80, masih mendapat animo yang luar biasa, dengan downloader sekitar 300-350 ribu per edisi di tiga platform (PDF, IOS, dan Android). Secara keseluruhan, sampai April 2014, MALE sudah diunduh dalam bentuk PDF 25.230.846 dan Folio 843.188 (iPad dan Android Gadget), sementara Aplikasi iPadnya sudah mencapai 49.057, dan  aplikasi Android 84.824. (Burhan Abe)

Satanic Secrets of Hollywood

0

Tema hantu-hantuan ternyata bukan monopoli film Indonesia, Hollywood pun keranjingan hal yang sama — yang bahkan menjadi kiblat sineas perfilman dunia. Berbagai genre mengacu ke sana, khususnya horor dan thriller. Beragam cara dilakukan untuk meracik konsep cerita yang tidak hanya membuat penontonnya berteriak ketakutan, tapi juga mencekam. Termasuk pula memberi pemahaman tentang kejadian di luar batas pemikiran manusia pada umumnya.

Hantu, monster, pembunuh berantai, dan psikopat menjadi menu pilihan konsep cerita dalam industri film. Tapi, di antara berbagai macam sosok yang menakutkan, iblis atau setan menjadi tokoh langganan.   

Iblis atau setan adalah simbol dan karakter antagonis yang kental mewarnai film horor serta thriller. Sama sekali tidak ada kesan positif ketika menyebut kata ’iblis’, selain sifat menghancurkan, merusak, dan menjauhkan manusia dari kebaikan. Bagai dua sisi mata uang, sosok iblis, yang identik dengan keburukan, selalu menjadi ide menarik untuk diangkat ke layar film. Pertarungan kebaikan dan kejahatan selalu mengedepankan sosok iblis, yang menjadi pihak yang bertanggung jawab atas kemalangan yang menimpa tokoh utama.   

Seperti disebut dalam artikel Satanic Secrets of Hollywood di situs Hollywoodilluminati, kehadiran iblis tidak pernah terduga. Tokoh ini bahkan tampak pada simbol-simbol yang sering keluar dalam frame film yang konon dipakai oleh penganut agama setan memperlihatkan komunitasnya. (Burhan Abe)  

Source: MALE 79