Home Blog Page 88

Cantiknya Sukhothai

0

MAKANAN Thailand sudah tidak asing di lidah orang Indonesia. Itu sebabnya restoran ala Thai di Jakarta selalu dipenuhi dengan pengunjung. Saya berkesempatan mengunjungi salah satunya, Restoran Sukhothai, Authentic Thai Fine Dining Restaurant, berlokasi di Sheraton Media Hotel & Towers, Jakarta, lantai 6.

Yang menarik, tidak hanya makanannya yang sesuai selera, dengan ciri khas masakan Thai yang pedas dan penuh bumbu, namun dipadu dengan keseimbangan rasa manis, asin, dan asam. Bolehlah saya membayangkan suasana di Bangkok, sebuah restoran yang berada di tepi Sungai Chao Phraya dengan pemandangan yang menakjubkan.

Atau menjelajah ruas-ruas jalan di Bangkok yang dipenuhi penjaja makanan yang lezat. Mencicipi Som Tum (selada pepaya pedas), mie Thai, Khao Tom Pla (sup nasi ikan), Tom Yum Talay (sup hidangan laut), atau Khao Man Gai (nasi ayam).

Memang tidak sama persis, tapi konsep Restoran Sukhothai memang dimaksudkan untuk memberikan pengalaman kuliner yang lengkap ala Thai. Nama ‘Sukhothai’ dalam bahasa Indonesia berarti cantik. Sesuai dengan sebutannya, Sukhothai didekorasi dengan aneka hiasan khas Thailand, seperti stupa, patung gajah dan sebagainya. Di sisi luar restoran terdapat taman dan kolam kecil dengan tanaman-tanaman yang bernuansa Thailand. Nuansa Negeri Gajah ini diperkuat dengan seragam para karyawannya yang mengenakan pakaian tradisional Thailand.

Restoran Sukhothai berkapasitas tempat duduk untuk sekitar 64 orang dengan lay out menyerupai lesehan, dan disediakan sandaran serta bantal sebagai tempat duduk. Restoran ini menyediakan aneka hidangan khas Thailand baik berupa a la carte maupun set menu.

Menurut Mohamamd Iqbal, Marketing & Communications Manager Sheraton Media Hotel & Towers Jakarta, Sukhothai kini juga memiliki promosi Eat Till You Drop, di mana pengunjung bisa menikmati makanan khas negeri gajah sepuasnya dengan harga hanya Rp 129.000 net per orang. Minuman tradisional khas Thailand juga dihidangkan seperti Thai Ice Tea dengan daun teh yang khusus diimpor dari negara asalnya, serta Thai Coffee

Masakan Thai mencakup makanan dan minuman serta cara memasak khas Thailand. Di negara itu terdapat empat jenis masakan daerah yang berasal dari empat daerah utama: Thailand Utara, Thailand Timur Laut, Thailand Tengah, dan Thailand Selatan. Masing-masing masakan daerah mendapat pengaruh dari masakan Cina dan masakan negara-negara tetangga. Bumbu dan rempah-rempah dipakai dalam keadaan segar, mulai dari cabai rawit, cabai merah, santan, kecap ikan, jahe, bawang putih, bawang merah, daun ketumbar, serai, terasi, gula jawa, hingga asam.

Bersantap di Sukhothai seperti menjelajahi keistimewaan citarasa Thailand, dan kita tidak sadar bahwa kita masih berada di kawasan Sheraton Media Hotel & Towers, Jakarta. Hotel ini bagian dari Starwood Hotels & Resorts Worldwide, Inc., adalah satu-satunya hotel berbintang lima yang berlokasi di Jakarta bagian utara yang memberikan beraneka ragam fasilitas dan pelayanan bertaraf internasional untuk tamu bisnis baik domestik maupun internasional yang datang ke Jakarta. Lokasi hotel yang sangat strategis, dekat dengan Pusat Perbelanjaan terluas di Asia Tenggara, Mangga Dua Shopping Complex, Jakarta International Expo dan Bandar Udara Internasional.

Starwood Hotels & Resorts Worldwide, Inc. adalah salah satu perusahaan pengelola hotel dan bisnis hiburan terkemuka di dunia dengan kepemilikan 1,025 properti di sekitar 100 negara dan lebih dari 145.000 karyawan di seluruh properti yang dikelola. Starwood Hotels benar-benar merupakan sebuah jaringan kepemilikan, pengelola dan franchise hotel, resor dan perumahan dengan brand-brand ternama internasional, seperti St. Regis®, The Luxury Collection®, W®, Westin®, Le Méridien®, Sheraton®, Four Points® by Sheraton, juga Aloft(SM), dan Element(SM).

Bon Appetit. Khob Khun Krab!

Antara Manila dan Jakarta

0

SEORANG teman yang pernah mengunjungi Manila, Filipina, bercerita tentang makanan eksotis negeri tersebut, yakni balut. Balut adalah telur bebek setengah matang, tapi yang khas di dalamnya ada embrionya yang berusia 18 hari (21 hari menetas). Memakannya cukup dengan taburan garam atau merica, seperti tradisi kita saat menyantap telur setengah matang.

Tradisi makan orang Filipina itu, yang mungkin sebagian orang menganggapkan sebagai pengalaman dalam Fear Factor, bisa Anda nikmati di Millennium Hotel Sirih Jakarta (Café Sirih) 14 hingga 26 Juni 2011.

Philipina Food Festival ini diadakan dalam rangka  memperingati hari kemerdekaan yang ke-113 negara tersebut yang jatuh pada tanggal 12 Juni. Dua koki sengaja didatangkan langsung dari The Heritage Hotel Manila, Lauro Montefolka Moreno dan Karl Dorado Fortaleza, khusus untuk mengkreasikan berbagai hidangan khas Filipina.

Kedua koki tersebut menyajikan berbagai hidangan lezat dan traditional seperti: atsarang papaya (acar pepaya hijau), rellenong manok (isi ayam tanpa tulang), kilawing tanguigue (asinan king mackerel), bistik tagalog (steak sapi tagalog ), chicken adobo (ayam masak cuka), calamares fritos (cumi goreng mentega), pancit canton (mie rebus ala Filipina), guinataang langka (nangka santan), adobo rice (nasi goreng adobo), halo-halo (es buah ala Filipina), dan bilo-bilo (beras ketan dengan santan).

Penawaran spesial tersebut tidak hanya untuk warga Filipina tentu saja, tetapi bisa dinikmati oleh siapa saja yang ingin memuaskan hasrat dan rasa keigintahuan tentang pengalaman menyantap masakan Filipina, yang berasal dari perpaduan antara masakan budaya Cina dan Spanyol.

Pengunjung dapat menikmati pengalaman menarik ini selama makan siang atau makan malam hanya dengan Rp 150.000 per orang. Anak usia di bawah 12 tahun akan mendapatkan diskon sebesar 50%. Sebagai tambahan, semua pengunjung dalam acara Fiesta Filipina berkesempatan untuk memenangkan voucher menginap di The Heritage Hotel Manila, Grand Millennium Kuala Lumpur, Orchard Hotel Singapore, Copthorne Malaysia dan Millennium Hotel Sirih Jakarta.

“Bring Back Batavia”

Kalau Filipina memperingati kemerdekannnya ke 113, maka Jakarta tahun ini merayakan ulang tahunnya yang ke 484, 22 Juni lalu.  Berbagai perayaan diadakan, dan The Ritz-Carlton, Jakarta mempersembahkan Bring Back Batavia, sebuah pengalaman kulinari untuk menikmati masakan khas Jakarta tempo dulu di era Batavia, bertempat di Asia Restaurant, 16 hingga 25 Juni 2011.

Tim kulinari Asia, yang dipimpin oleh Executive Chef Rudolph Blattler dan Chef de Cuisine Syaiful Bahri telah mempersiapkan beraneka ragam hidangan untuk menikmati pengalaman bersantap dari resep tempo dulu dengan variasi yang berbeda.

Dimulai dari hidangan pembuka dengan kategori salad yang terdiri dari gado-gado, ketoprak, asinan; dilanjutkan dengan kategori sup yang terdiri dari sop buntut dan sop kaki kambing Tanah Abang; lalu pilihan hidangan utamanya adalah: pindang banding Betawi, sayur besan, gulai tikungan melawai, sayur asembetawi, pepes ikan salem mangga dua, ikan tongkol baker sunda kelapa, semur ayam betawi, gulai sotong muara karang, tumis genjer pedas, jambal goreng bumbu merah, ayam baker tanahabang, semur daging Betawi, bandeng bumbu acar pedas, udang bakar mbah priok, tongseng kambing kwitang, sayur babanci, jambal goreng petai peda dan masih banyak lagi.

Selain itu terdapat beberapa kulinari booth seperti kambing guling, ketupat sayur, lontong sayur, nasi uduklontong cap gomeh, gabus pucung, martabak (isi kambing, ayam, daging dan ikan), nasi gorengudik dan kerak telor Bang Somad.

Perjalanan menikmati kuliner a la Batavia tidak akan lengkap jika belum mencicipi Dutch Station seperti veal with red onion sauce, macaroni Dutch style, braised steak, cheese crocket with mayonnaise, mushroom crocket with mayonnaise, bitterballen with honey mustard, mushroom pie with tomato sauce; dan untuk booth minuman, para tamu diajak kembali ke masa silam dengan menikmati Bir Pletok (minuman tradisional yang terdiri dari berbagai macam bumbu singkong rebus yang manis, kentang dan kacang tanah).

Para tamu dapat menikmati allyou-can-eat buffet pada malam maupun siang hari, dimulai dengan harga Rp. 208,000 per orang dengan dihibur oleh alunan lagu khas tempo dulu seperti Jali-Jali, Kicir-kicir, Keroncong Kemayoran dan Lenggang Kangkung dari Orkes Samrah, yang merupakan salah satu orkestra tradisional Jakarta yang beradaptasi dari budaya Melayu.

Pada perayaan ulang tahun Kota Jakarta kali ini, Asia Restaurant yang berkapasitas 399 kursi ini akan didekorasi dengan nuansa kota tua Batavia dengan beberapa barang antik dipajang di sepanjang area restoran, seperti mobil antik Mercedes, becak, ondel-ondel dan sepeda onthel.

Selain itu juga akan ada window display di area samping Asia Restaurant yang dibuat seperti teras, lengkap dengan kursi dan meja kayu khas Betawi, serta lemari kayu kuno dengan beberapa barang antik di atasnya (piringan hitam jaman dahulu, setrika arang, radio tua, guci kecil tua, dan lain sebagainya). Ini semua dapat dilihat di The Ritz-Carlton, Jakarta selama acara Bring Back Batavia berlangsung. (Burhan Abe)

Selamat makan!

Melinda Dee dan Bank yang Makin Rawan

0

Terungkapnya pembobolan dana nasabah bank oleh Inong Melinda Dee menunjukkan bahwa kejahatan kerah putih bukan isapan jempol belaka. Bagaimana mengantisipasinya?

BINTANG iklan sebuah produk rokok, dengan tato lumayan penuh di tangan, nampak celingukan di kantor reserse kriminal Mabes Polri. Andhika Gumilang, nama bintang iklan itu, seringkali menundukkan wajahnya. Tidak seperti yang sering terlihat di layar kaca saat ia membintangi iklan atau main sinetron dengan segudang aksi yang penuh percaya diri, pria berusia 22 tahun itu sesekali menatap sesuatu dengan pandangan kosong.

Segala macam rasa, seperti sedih, menyesal, takut, juga malu, agaknya menumpuk jadi satu. Beberapa waktu sebelumnya, ketika ditanya wartawan tentang status hubungannya dengan Inong Melinda Dee, ia mengaku hanya sekadar anak angkat. Tapi siapapun tahu, bagaimana mungkin seorang ”anak angkat” menerima aliran dana yang lumayan gede, bahkan dihadiahi sebuah mobil mewah, Hummer V3.

Gara-gara Melinda Dee, 47 tahun, mantan Relation Manager Citibank yang menjadi istri sirinya itu, pemilik 6 (enam) Kartu Tanda Penduduk (KTP) – salah satunya menggunakan nama Juan Ferero – kini meringkuk di tahanan Mabes Polri, karena dijerat pasal pencucian uang dan pemalsuan identitas.

Melinda Dee memang fenomenal. Dalam posisinya, ia bisa membobol sedikitnya Rp 17 milyar dana para nasabah private banking Citibank, hanya bermodalkan keahliannya dalam melakukan komunikasi personal dan approachment (pendekatan) kepada nasabah. Bahkan, saking percayanya, para nasabah mau memberikan blanko kosong yang sudah ditandatangani kepada dirinya.

Fasilitas private banking memang biasa digunakan oleh orang-orang kaya yang tidak memiliki banyak waktu untuk datang ke bank melakukan transaksi. Peluang inilah, rupanya, yang dimanfaatkan oleh Melinda untuk memperkaya diri sendiri. Kerjasama dengan teller Citibank pun dilakukan. Bermodalkan blanko kosong yang sudah ditandatangani nasabah tadi, mulailah Melinda main ‘pat-gulipat’ mentransfer dana-dana nasabah ke beberapa rekening hasil rekayasa dirinya.

Belakangan, cerita kebobolan nasabah bank kembali berlanjut. Kini yang tengah pusing tujuh keliling adalah PT. Elnusa, salah satu anak perusahaan PT. Pertamina (persero). Bagaimana tidak. Depostio perusahaan yang bergerak di sektor energi hilir ini sebesar Rp 111 miliar di Bank Mega Cabang Jababeka, Bekasi, digasak oleh mantan Direktur Keuangannya sendiri, Santun Nainggolan, melalui pencairan deposito on call. Lho, kok bisa? 

Elnusa, sebagaimana banyak perusahaan lain, menempatkan dana cadangan mereka dalam berbagai bentuk, salah satunya deposito berjangka di Bank Mega. Elnusa menaruh dana Rp 161 miliar di bank milik Chairul Tanjung itu mulai 7 September 2009, di kantor cabang Jababeka-Cikarang, Bekasi. Total deposito terbagi menjadi lima bilyet, dengan jangka waktu beragam, mulai satu bulan hingga jangka tiga bulan. “Seluruh dana telah ditransfer Elnusa dan diterima baik oleh Bank Mega,” jelas Manajemen Elnusa, dalam keterangan tertulisnya.

Dokumen penempatan deposito telah ditandatangani oleh pejabat Elnusa yang berwenang, serta Kepala Cabang Bank Mega Jababeka-Cikarang. Pada periode tersebut hingga saat ini perseroan melakukan perpanjangan penempatan, pada saat jauh tempo dari masing-masing bilyet. Bank Mega juga terus membayar bunga deposito setiap bulannya.

Terhitung sejak 5 Maret 2010, total deposito Elsa menjadi Rp 111 miliar karena ada pencairan Rp 50 miliar secara resmi atas perintah manajemen perseroan.

Masalah mulai muncul saat Selasa (19/4/2011), kepolisian bertandang ke kantor Elnusa dan menanyakan perihal penempatan dana deposito di Bank Mega. Manajemen Elnusa mengakui ada penempatan dana perseroan di Bank Mega. Pada hari itu juga, secara bersama-sama, manajemen Elnusa dan polisi melakukan mengecekan ke kantor cabang Bank Mega Jababeka Cikarang. Namun hasilnya sungguh mencengangkan. Dari keterangan lisan Kacab Bank Mega, deposito perseroan ternyata telah dicairkan!

Bring the Comfort Zone to Your Home

0

YOUR home is in fact your private palace, so make sure it is as comfortable as possible to live in. A large room may not always be comfortable, and likewise, a small room may not always be tight in space. A spacious room, therefore, does not guarantee a comfortable home, so even in the case of a small house if everything is set out correctly it will result in a spacious home.

Ideally, before living in your home, the house should go through several design processes considering both internal and external factors. Both have an influence on our approach to the design and building. Our approach can be interpreted into the design orientation, both for the material selected, the building as well as our related daily activities.

Today, especially in major cities, generally speaking one seldom finds large houses. So, the solution is to arrange the available space in the house, with the help of a designer or do this by yourself.

One of the ways to ‘cheat’ a small room and make it appear larger is by using light or bright colors. Furniture also has an impact on small rooms, so avoid large pieces of furniture in this case. Nowadays rooms in small homes look more like studio apartments where partitions are not clearly defined and where furniture defines the function of each room.

If you feel that your living room is too large or too spacious then you can divide it into several zones for different activities, such as for reading, listening to music or just for chatting. On the other hand if your living room is small you can rearrange it and turn it into a multifunctional space for a number of activities.

There are several ways to make your room feel spacious without reducing its beauty, such as the appropriate choice of furniture and accessories, correct arrangement of furniture, partitions, creation of a focal point on one of the walls, carpeting, color choice for walls and furniture as well as lighting effects.

Regarding the color for the walls white and cream are the most neutral especially for your living room as such colors can respond to the colors of furniture and accessories.  These colors are especially suitable for old houses. For contemporary style houses secondary and tertiary colors will make them look more attractive.

Lighting is also quite important to make the room comfortable. Spot-lighting can be used to focus on certain accessories in the room. Lighting can also give a different meaning or interpretation to certain parts of the room.

Apart from the exterior and interior factors there are other important requirements in the house including air conditioners washing machine, refrigerator, water heater and so forth.

There are many kinds of water heaters available on the market, so do not go and just buy any brand or model, but make sure it is suited to your requirements.

Based on the energy source there are three types of water heaters: electric, gas and solar panels. The electric and gas heaters are relatively less costly in comparison to the solar panels. However, once installed, the solar heaters require no energy source.

The water heater should also match the location of the house, because for tropical countries the solar panel heater is more suitable while the gas one is more appropriate for cold or subtropical regions.

To choose the right capacity of water heater you must have a good estimate of your daily requirements for hot water. While a large capacity water heater gives more hot water it also needs more electricity. So you must consider the power available in your home. If your power is limited it is advisable to buy a water heater with low wattage. (Burhan Abe)

The Jakarta Post, June 17, 2011

Saint Emilion Grand Cru Classe

0

PESTA kuliner paling akbar di Jakarta, apalagi kalau bukan Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF), yang tahun ini berlangsung 14 hingga 29 Mei 2011.  Di sini pesta makanan dipadukan dengan dunia fashion, atau sebaliknya. Tapi yang menarik perhatian saya adalah Wine & Cheese Expo di sela-sela acara tersebut.

Acara “anggur dan keju” yang dipusatkan di Multi Purpose Hall, La Piazza, Mal Kelapa Gading ini menampilkan anggur dan keju terbaik dari sejumlah negara sahabat. Panitia bekerja sama dengan beberapa kedutaan besar dari negara-negara yang mempunyai tradisi wine dan keju, sebutlah Prancis, Chile, New Zealand, Australia, Amerika, Argentina, Italia, Jerman, Kanada, Portugal, Afrika Selatan dan tentu saja tuan rumah Indonesia.

Berbagai kegiatan menarik ada di dalamnya, seperti Meet & Greet 14 Chateau Representatives dari Bordeaux Prancis, Wine Tasting, Wine Dinner dengan lima chef ternama dunia, Wine Workshop, Wine & Food Pairing, Pastry Chef Show, Cheese Discovery, dan Foodtography Competition.

Wine adalah minuman beralkohol yang dibuat dari sari anggur jenis Vitis vinifera yang biasanya tumbuh di area 30 hingga 50 derajat lintang utara dan selatan.

Beruntung, pada hari pertama saya dan beberapa media, diundang untuk “Saint Emilion Grand Cru Classe Wine Dinner” di Intercontinental Hotel Jakarta. Malam itu kami mencicipi makan malam ditemani oleh berbagai wine yang dihasilkan oleh Saint Emilion, Bordeaux, salah satu wilayah penghasil wine di Prancis.

Yang membanggakan, kami juga berkesempatan bertemu dengan 11 wine maker dari chateau-chateau di St Emilion untuk mencoba wine produksi mereka. Sebelas wine yang bisa kami coba malam itu adalah wine-wine terbaik dari Chateau Dassault, Chateau Bellefont-Belcier, Chateau Guadet, Chateau Laroze, Chateau Franc Mayer, Chateau Fonroque, Chateau Fontplegade, Chateau Destieux, Chateau Couvent des Jacobin, dan Chateau Moulin du Cadet. Grand Cru termasuk kelas berat, yang dalam bahasa pecinta wine dikenal sebagai full bodied. Kami, terutama saya, mencoba meninggalkan preferensi sebelumnya dalam pengalaman rasa, dan mencoba menjelejah rasa baru minuman dari Prancis itu.

Ciri wine asal Bordeaux, di dalamnya termasuk St Emilion, adalah tidak ada yang terdiri dari satu jenis varietas anggur saja, alias blend.  Varietas anggur yang digunakan untuk pembuatan red wine di sini adalah Merlot dan Cabernet Sauvignon, serta jenis anggur yang lain, seperti Cabernet Franc, Petit Verdot, dan Malbec. Rasanya rata-rata kompleks, sehingga memberikan sensasi tersendiri.

Memang, masing-masing wine memiliki karakter rasa tersendiri, ada yang ringan ada yang kompleks. Aromanya pun ada yang fruity, smokey, creamy, dan lain-lain. Semua itu akan menemukan rasa yang sempurna jika dipadupadankan dengan makanan yang pas. Semua itu membutuhkan eksperimen dan pengalaman, tapi paling gampang adalah menanyakan kepada ahlinya alias sommelier – meski rasa bersifat personal tapi mereka umumnya tidak salah memberikan rekomendasi. Cheers! (Burhan Abe)

Terpuruk Ku di Aston Marina

0

Setetes embun di daun lamban bergulir / Ketika jatuh ke tanah terserap musnah / Begitupun hatiku diayun bimbang jawabmu / Terhempas dan hampa tak terkira / Mentari tersaput mega enggan bersinar / Menusuk angin ke raga jiwa gemetar / Terpuruk ku di sini dipeluk bimbang sikapmu / Membeku dan lara tak terkira

LAGU KLa Project itu mengawali pertunjukan mereka di Aston Marina Jakarta, Jumat malam, 5 April lalu. Lagu Terpuruk Ku di Sini ini cukup akrab di telinga para pengujungnya. Meski sendu, tapi lagu tersebut sekaligus membuka nostalgia, terutama mereka yang tumbuh bersama grup berusia 23 tahun itu.

Pilihan Aston Marina Jakarta menghadirkan KLa Project sangat tepat, apalagi di tengah hiburan dengan musik yang hampir seragam. Menurut Public Relations Manager Gita Ayu Ashari, acara yang disponsori oleh Aqua, Bank BNI, dengan event organizer Lewi Yahya Production ini merupakan acara musik pertama yang diselenggarakan oleh Aston Marina di 2011.

KLa Project jelas nama besar di blantika musik Indonesia, dibentuk oleh Katon Bagaskara, Lilo (Romulo Radjadin), Adi Adrian, dan Ari Burhani tahun 1988. Nama KLa sendiri diperoleh dari inisial personel band ini, sementara penggunaan huruf “A” kecil bertujuan untuk menandakan adanya dua personel yang memiliki inisial huruf tersebut.

Pada mulanya tahun 1988 mereka hanya menyertakan salah satu lagunya, Tentang Kita, di album kompilasi, yang kemudian menjadi hits. Setahun kemudian mereka merilis albumnya yang pertama “KLa”, dan lahirlah hits-hits berikutnya, seperti Rentang Asmara, Waktu Tersisa, dan Laguku.  Pada 1991, KLa meluncurkan album keduanya bertajuk “Kedua”, dengan lagu andalannya Yogyakarta. Sementara album ketiga (Pasir Putih, 1992) mereka mencetak hits seperti Tak Bisa Ke Lain Hati dan Belahan Jiwa.

Seperti grup band pada umumnya, Kla Project sempat mengalami bongkar pasang personilnya. Ari Burhani setelah album ketiga, memilih keluar dan beralih peran sebagai manajer band. Tapi dengan formasi tiga pemain inti,  KLa tidak kehabisan kreativitas, terbukti mampu melahirkan dua album, Ungu (1994) dan V (1995).

Tahun 2001 Lilo juga sempat keluar. Tahun 2003 dengan tambahan personil baru, yaitu Erwin Prasetya, Yoel Vai dan Hari Goro, grup ini menamakan diri NuKLa – yang sempat merilis satu album pada 2004 bertajuk “New Chapter” dengan single Izinkan Ku Memuja. Pada tahun 2006 Erwin juga memutuskan keluar dari NuKLa karena perbedaan visi, dan Katon menyatakan kelompoknya kembali ke nama semula KLa Project.

Awal 2009 boleh dikatakan tonggak sejarah baru bagi KLa, sebab Lilo balik lagi, dan meluncurkan album KLa Returns. Pada 2010, mereka kembali meluncurkan album yang berjudul “Exelentia” dan menjagokan single berjudul Hidup adalah Pilihan dengan dua pemain tambahan.

Formasi inilah, yang tentu saja lebih lengkap, karena diperkuat oleh backing vocals segala, yang ditampilkan malam itu. Hampir semua lagu hits-nya dinyanyikan. Dengan kapasitas 120 kursi di Cumi-Cumi Lounge & Bar, para tamu yang membayar Rp 150.00 atau Rp 1 juta per seat (untuk empat orang, dengan bonus sebotol spirit atau wine, mixer, dan snack) itu terlihat nyaman menikmati alunan lagu-lagu KLa Project yang membawakan 16 lagu.

Saya sendiri, dan juga teman-teman HAM (Himpunan Anak Media) Jakarta, yang terdiri dari Shalfi Andri (TEMPO), Hadi Suwarno (Travel Club), Tiara Maharani (Venue), Ali Rustamaji (Investor Daily), Marcell Lahea (Shang Bao), Harry Sutanto (Garuda), Michael Petit (Hang Out Jakarta), Elizabeth dan Fathur (Event Guide), tidak hanya menikmati, tapi juga hanyut dalam pertunjukan yang berdurasi hampir dua jam itu.

Penampilan musisi kawakan itu berhasil menyuguhkan suasana romansa dan nostalgia, yang menciptakan histeria penonton hingga akhir pertunjukan. Meski sempat vakum lama, penampilan KLa Project malam itu luar biasa, dan tidak sia-sia kami malam itu “terpuruk” di Aston Marina Jakarta. (Burhan Abe)

Abad 21 dan Munculnya Gen C

0

Indonesia di awal abad 21 adalah negeri dengan 180 juta ponsel di saku penduduknya, 50% di antaranya adalah smartphone yang bisa digunakan untuk berinternet. Nasionalis, tapi sekaligus narsis – selalu memasang foto-foto kegiatan terbaru di Facebook dan rajin mengetwit di Twitter, pendeknya akrab dengan socialmedia. Mereka adalah penentu perekonomian masa depan, ketika akhir  2010 pendapatan per kapita mencapai 3.000 dolar AS. Bagaimana memetakan perubahan di abad 21 ini? Inilah sebagian jawabannya, yang dinukilkan dari buku Cracking Zone karya Rhenald Kasali.

CHANGE! Itulah kata-kata sakti yang selalu didengung-dengungkan oleh agen perubahan, tidak hanya di dunia politik tapi juga bisnis dan manajemen. Salah seorang penganjur perubahan di Indonesia adalah Rhenald Kasali. Guru besar Fakultas Ekonomi UI ini adalah pemikir sekaligus praktisi perubahan – ia juga pendiri Rumah Perubahan. Ia menulis untuk membedah mindset masyarakat, mengubah cara berpikir orang, memperbaiki organisasi, perusahaan berserta kepemimpinan dan sikap karyawannya.

Buku-buku Rhenald selalu menghebohkan, dan kali ini adalah Cracking Zone. Bagaimana memetakan perubahan di abad 21 dan keluar dari perangkap comfortzone? Itulah yang hendak dijawab lulusan University of Illinois at Urbana Champaign, AS, ini dalam buku terbarunya.

Buku ini merupakan sekuel karya Rhenald sebelumnya tentang perubahan.  Sekurangnya, buku setebal 356 halaman ini menbedah perubahan era digital melahirkan rekahan-rekahan peluang. Persoalannya, hanya mereka yang berjiwa cracker yang mampu membaca peluang itu.

Indonesia adalah negeri paradoks, bad news dan good news sama kuatnya. Serangkaian berita buruk kita bisa kenali dengan mudah, mulai dari rontoknya kepercayaan masyarakat terhadap aparat, perilaku pejabat yang korup, birokrasi yang lamban, lalu-lintas yang buruk, ketidakkapabelan tokoh publik, dan seterusnya.

Di sisi yang lain kita melihat bergeraknya perekonomian, penghasilan guruh yang makin meningkat, bergairahnya kewirausahaan, pendapatan per kapita yang hampir menyentuh 3.000 dolar AS, yang yang lebih penting makin terhubungnya masyarakat berkat kemajuan internet dan teknologi informasi dan telekomunikasi – yang melahirkan fenomena social media, media yang bisa saling mendekatkan antar anggota masyarakat, khususnya onliner.

Karena bad news dan good news sama kuatnya, terjadilah “duel maut” antara keduanya. Tumbuhan dan tabrakan antar keduanya itu menimbulkan patahan, polarisasi antara kelompok “wait and see” dan kelompok crackers yang “see and do”.  Antara pesimisme-sinisme dan optimisme-positivisme. Inilah cracking zone yang bisa membuat Anda menjadi crackers atau mati ditelan zaman. Sejumlah perusahaan telah menjelma menjadi  corporate crackers, dan lihatlah apa yang mereka dapatkan dari kegigihan tersebut, dari angle melihat  Indonesia dan memimpin perubahan.

Rhenald Kasali menerangkan, seorang cracker adalah orang yang mampu membaca dan menyikapi kode-kode perubahan. Mereka memiliki fleksibilitas, dan akselerasi yang lebih baik menjalani transisi gaya hidup serba digital dengan membuka sejuta peluang.

Photo by Antoine Beauvillain on Unsplash

“Bukan tanpa risiko tentunya. Justru retakan-retakan itu seperti pedang bermata dua. Jika tak mewaspadainya, peluang itu akan mengubur gerak hasil ciptaannya sendiri. Tapi yang berhasil menjinakkannya, peluang itu akan memberi benefit bagi dirinya,” ujar pria kelahiran Jakarta, 13 Agustus 1960 ini.

Mengubah Kucing Menjadi Cheetah

0

RHENALD Kasali salah satu ahli bedah bisnis yang piawai di negeri ini. Ulasan-ulasan bisnisnya yang bernas, tajam, dan tak njelimet bisa disimak di sejumlah media. Apakah itu di media cetak, elektronik, seminar, atau pun di puluhan buku yang telah ditulisnya. Boleh dibilang, persoalan bisnis yang rumit bila dibedah Rhenald terasa mudah dimengerti, oleh awam sekalipun.

Buku-bukunya pun, karena selalu memberikan perspektif baru, juga mudah dipahami. Tak heran jika banyak buku yang ditulisnya menjadi best seller di pasaran. Sebutlah Change! (2005), Recode Your Change DNA (2007),  Mutasi DNA Powerhouse (2008), atau Myelin: Mobilisasi Intengibles sebagai Kekuatan Perubahan (2010).

Sebagai seorang doktor ilmu bisnis, Rhenald mempunyai sebuah obsesi. “Saya ingin mengubah cara berpikir masyarakat Indonesia yang masih sangat birokratis menjadi entrepreneurship dan leadership,” kata peraih Louise A. Young Award (1994) dan  Alice & Charlotte Biester Award (1995), University of Illinois itu.

Di buku terbaru Cracking Zone, benang merah tersebut juga tergambar. “Indonesia telah berubah, bagi yang sudah untung pada 2010 jangan terlena karena mungkin saja ada cracker menimbulkan retakan pada bisnis Anda. Perubahan mental dari karakter kucing ke karakter cheetah mutlak diperlukan,” jelas bapak dua anak ini.

Living Comfortably in Luxurious Apartment

0

DEVELOPERS are going all out to build first class apartment, complete with all facilities to complement the active modern lifestyle. Luxuries apartment such as these are generally in the central business district (CBD) or Menteng and Kebayoran Baru. However the premium location is just one plus point as there is another factor that is more vital, and that is the exclusivity.

Cushman & Wakefield  reports that based on location the percentage of apartments available in CBD area is 13.4 percent, while in primary recidential such as Kebayoran Baru, Senayan, Menteng, Pondok Indah, Permata Hijau and Kemang the percentage of apartements available is 10.9 percent. The remaining 75.7 percent are spread out in secondary recidentila areas in the city.

For the past decade there has been a significant growth in the middle class, consistent with the improved economy. This has created an increased demand for new residences, especially apartments.

According to economist Faisal Basri, the lower middle segment has increased from 37 million to 69 million. The middle segment has exeprienced an almost three-fold incease from 7.5 million to 22 million. The upper middle segment has experienced a five-fold increase from 0.4 million to  2.23 million, while the higher income segment has risen by 0.1 million to become 0.37 million.

The significant growth in Indonesia’s upper middle the attention of Frasers Hospitality from Singapura. This company which owns and managers a number of five-star hotels and residences has four brands: Fraser Suites, Fraser Place, Fraser Residence, dan Modena – a Boutique Hotel Residence by Fraser

Fraser’s properties are located in many of the world’s major cities and the group now manages serviced apartments in Indonesia called Fraser Residences Sudirman Jakarta, the soft opening of which took place in Februari 2011.

“Here you’ll find every comfort and convenience to make your stay in Jakarta better than you ever dared imagine,” ujar Christopher Bong, General Manager Fraser Residence Jakarta Sudirman.

Located in the prime vicinity of the capital city of Indonesia, this is part of a mega project undertaken by PT Ciputra Adigraha to transform the 1.6km street in the heart of Jakarta’s golden triangle into a prime commercial and leisure centre. Here one can only find the most prestigious office buildings and key government offices (including the Presidential Palace) but also the shopping and entertainment opportunities that define city living at its best.

Fraser Suites Jakarta consists of 200 units of apartments and penthouse outfitted with i-house recreational, leisure and fitness facilities including a luxurious swimming pool, tennis courts as well as indoor and outdoor playgrounds.

Fraser Residence Sudirman Jakarta offers 108 Golden-Standard serviced apartments, including 1-bedroom, and 2-bedroom options. The contemporary, modernist ambience offers the ideal setting to unwind, catch up on a little work, or spend time with family and friends. Full length windows in the living room create a light, airy atmosphere, while the full-equipped open concept kitchen lends an open, spacious feel. While internet access is standard, residents have a choice of wireless or cabled access.

Coffe As Pure As It Comes

0

KOPI sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kehidupan saya saat ini. Bahkan jauh sebelumnya, nongkrong di warung kopi sudah menjadi kebiasaan baru. Selain atmosfernya yang memberi inspirasi kepada para pengunjungnya, termasuk para mobile worker seperti saya, a cup of joe mampu menggugah selera dan membangkitkan spirit – di luar fakta melaui berbagai riset tentang manfaat minuman berwarna hitam luar biasa ini.

Itu sebabnya, ketika ada ajakan untuk berkongko-kongko di Pacific Restaurant & Lounge untuk ber-evening coffee, tiada keraguan untuk menyetujuinya. Saya berdua dengan Rian Farisa, eksekutif perbankan pecinta kuliner dan mempunyai blog gastronomyaficionado.com. Sementara sang host adalah Angelina dan Hanny Gunawan dari The The Ritz-Carlton Jakarta.

Memang restaurant & lounge yang terletak di lantai enam Hotel The Ritz-Carlton Jakarta itu bukanlah sebuah coffee shop. Tapi tentu saja, duduk di sofa di venue ini, menyeruput kopi sambil mengintip dari kaca atas kesibukan kota Jakarta, sungguh sebuah pengalaman yang menyenangkan. 

Desain sempurna dengan dekorasi suasana yang nyaman oleh Hirsch dan Bedner Singapore, restoran ini memiliki tiga area, yaitu lounge, bar dan kemudian area restoran itu sendiri, serta juga tersedia empat ruangan khusus untuk makan malam. Desain restoran memperlihatkan campuran elemen dari marmer dan perabotan kayu dengan warna tanah dan jendela kaca yang besar mempersilakan tamu untuk menikmati pemandangan terbaik dari Jakarta.

Restoran menawarkan berbagai menu yang spesial dengan menonjolkan premium grills dengan memperlihatkan kelezatan dari Asia dan Mediterania dipadukan dengan tapas style. Area lounge merupakan tempat yang sempurna untuk menikmati acara minum teh sore ala tradisional Inggris, pilihan untuk makanan ringan, resepsi koktail, dan koleksi cerutu yang bermacam-macam dan gabungan koktail terbaik ketika menikmati percakapan dengan teman atau rekan bisnis.

Pacific yang elegan dapat mengakomodasi lebih dari 100 tamu untuk makan malam dengan kombinasi restoran dan area lounge yang akan menjadi tempat untuk berkumpul yang eksklusif dan elegan untuk acara makan formal maupun informal.

Khusus sore itu tujuan utama adalah menikmati minuman kopi, dan kebetulan Pacific baru saja memperkenalkan koleksi kopi berkualitas dari seluruh dunia sejak awal Maret 2010. Kopi-kopi eksklusif ini akan disajikan secara murni dengan metode French press di mana biji kopi akan dipanggang terlebih dahulu tepat sebelum diseduh. Enam varian kopi yang terkenal dari berbagai belahan dunia mulai dari kopi Brasil yang agak manis hingga kopi beraroma tinggi yang berasal dari Toraja, Indonesia akan disajikan bagi pecinta kopi.

Di samping rasa dan aromanya yang menarik, kopi ternyata mengandung antioksidan yang tinggi, dan kabarnya dapat menurunkan risiko terkena penyakit kanker, diabetes, batu empedu, dan berbagai penyakit jantung (kardiovaskuler).

Photo by Mae Mu on Unsplash

Yang jelas, sampai saat ini kopi masih tercatat sebagai salah satu minuman paling populer di dunia. Secara umum, terdapat dua jenis biji kopi, yaitu arabika (kualitas terbaik) dan robusta. Sejarah mencatat bahwa kopi ditemukan pertama kali oleh orang Etiopia di Afrika sekitar 3.000 tahun (1.000 SM) yang lalu. Kata kopi sendiri berasal dari bahasa Arab qahwah yang berarti kekuatan. Di Turki qahwah disebut kahveh, di Belanda disebut koffie, dan seterusnya sehingga masing-masing negara mempunyai istilah tersendiri. 

Indonesia sendiri menggunakan kata kopi, yang konon penyerapan dari kata koffie. Saat ini Indonesia menjadi salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, tidak kurang dari 400 ribu ton kopi per tahun yang dihasilkan dari bumi pertiwi ini.