Slow Burn: Saatnya Menikmati Hidup Pelan-Pelan Lewat Cerutu, dari Jember hingga Lounge Mewah Jakarta

Kalau selama ini Anda mengira cerutu hanya milik kalangan pria tua berperut buncit yang duduk di kursi kulit besar sambil menyesap whisky, buku ini akan mematahkan semua stereotip itu. Slow Burn, karya Burhan Abe, justru menghadirkan wajah baru dunia cerutu — lebih hangat, lebih dekat, bahkan makin inklusif, termasuk untuk kaum perempuan dan generasi muda.

Buku ini merunut perjalanan cerutu Indonesia dari ladang tembakau di Jember yang legendaris, ke pabrik-pabrik tradisional seperti Taru Martani di Yogyakarta yang sudah berdiri sejak 1918, sampai ke cigar lounge paling berkelas di Jakarta, Bali, maupun Medan. Anda akan diajak menyusuri kisah Boss Image Nusantara (BIN) Cigar, produsen asal Jember yang tembakaunya diekspor hingga ke Eropa dan Timur Tengah, mengangkat nama Indonesia sebagai salah satu pemain penting di industri cerutu dunia.

Tidak berhenti di industri dan sejarah, Slow Burn juga menyelami fenomena gaya hidup cerutu — bagaimana lounge-lounge eksklusif seperti Churchill di Hotel Borobudur, Club Macanudo Jakarta, hingga Habanos Terrace di The Apurva Kempinski Bali menjadi tempat berkumpul para profesional, eksekutif muda, selebriti, hingga komunitas cigar enthusiast.

Lewat buku ini, Anda akan menemukan bagaimana cerutu bukan hanya soal asap dan gengsi, tapi soal komitmen pada waktu, memberi diri Anda izin untuk melambat, berbincang, atau sekadar menikmati me time dengan ritual kecil yang menyenangkan.

Menariknya lagi, buku ini memotret semakin banyak perempuan yang mulai menikmati cerutu. Bukan sekadar gaya-gayaan, tapi sebagai wujud self-reward — persis seperti menikmati segelas prosecco atau sepotong dark chocolate tanpa rasa bersalah. Ada cerita tentang lounge-lounge yang female friendly, pairing cerutu dengan dessert atau koktail ringan, sampai tips untuk pemula agar tak salah pilih.

Bisa diunduh di SINI ya.

Selain itu, bagi Anda yang punya jiwa wirausaha atau tertarik dunia luxury hospitality, buku ini juga membuka mata tentang potensi bisnis cerutu di Indonesia. Dengan populasi kelas menengah atas yang terus tumbuh dan makin gemar pada pengalaman autentik, cerutu bisa jadi salah satu ceruk pasar gaya hidup yang sangat menarik.

Disajikan dengan gaya tutur ringan dan banyak kutipan menarik dari para penikmat cerutu (termasuk publik figur seperti Jeremy Thomas dan Benny Prasetyo sang “cigar evangelist”), Slow Burn terasa seperti sahabat ngobrol santai di sore hari — membahas cita rasa tembakau, lounge-lounge unik, hingga komunitas cigar yang kini semakin semarak.

Unduh & baca selengkapnya di: 👉 Slow Burn, Cerutu dalam Ritme Hidup Modern

Temukan kenapa cerutu bisa jadi cara elegan untuk merayakan hidup — perlahan, berkelas, dan penuh cerita. Siapa tahu ini akan jadi ritual kecil favorit Anda berikutnya. (Iin S. Batara)

Related Stories

spot_img

Discover

AI Melaju, Pertahanan Bisnis Tertinggal

Perusahaan di Indonesia berlomba memanfaatkan kecerdasan buatan. Namun, fondasi keamanan, tata kelola, dan ketahanan...

Pasihan

Menyelami Jiwa Subak Melalui Pasihan, Film Dokumenter Baru dari SAKA Museum di AYANA Bali Di...

Luigis Enters a New Era—Without Losing Its Soul

Di tengah derasnya transformasi Canggu menjadi salah satu destinasi gaya hidup paling dinamis di...

Sebuah Sanctuary di Tengah Jakarta

Wajah Baru JimBARan Lounge AYANA Midplaza Merayakan Ketenangan dan Warisan Kuliner Nusantara Di kota yang...

Tantangan Berikutnya bagi Dunia Usaha Indonesia

Membuktikan Nilai AI bagi Bisnis Adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia terus meningkat. Namun,...

Saat Trisara Mengajarkan Arti Kemewahan yang Sesungguhnya

Phuket yang Tak Banyak Orang Kenal Di tengah tren slow travel yang semakin digemari...

Popular Categories

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here