![]() |
| Amankila Suite |
![]() |
| Restaurant |
![]() |
| Alcova Tiepolo Suite |
![]() |
| Ayung Suite |
![]() |
| Entrance to Lounge |
![]() |
| Lobby |
![]() |
| Main Pool |
![]() |
| Punakha Lodge Courtyard Night |
![]() |
| Spa |
![]() |
| Pool |
![]() |
| Amankila Suite |
![]() |
| Restaurant |
![]() |
| Alcova Tiepolo Suite |
![]() |
| Ayung Suite |
![]() |
| Entrance to Lounge |
![]() |
| Lobby |
![]() |
| Main Pool |
![]() |
| Punakha Lodge Courtyard Night |
![]() |
| Spa |
![]() |
| Pool |
The newly unveiled QUILA dining room at Alila Villas Uluwatu, Bali offers an exclusive journey of gastronomy where every bite is exquisite and loaded with multi-sensory surprises.
The name QUILA combines ‘qui’, which stands for ‘he who transforms’, with Alila, and aptly reflects the transformative dining experience presented within its exclusive setting. Diners seeking a culinary thrill are taken on an exhilarating ride for all the senses in a daily-changing dinner menu comprising a variety of different plates, artfully tailored by Executive Chef Marc Lorés Panadés.
Each plate is perfectly sized to deliver a powerful punch, a flavor some bite, or a provocative palate. Reflecting Chef Marc’s philosophy of “getting to the root of every single product, by getting as local, organic and sustainable as possible”, the menu of mainly Mediterranean-inspired creations combines fresh seasonal local produce with modern cooking techniques, styled in uniquely different and playful ways.
The imaginative use of sound, texture and aroma add other dimensions of sensory stimulation, along with carefully considered wine pairings that elevate the sense of absolute satiation.
This exclusive dining experience is limited to a maximum of 10 guests each night within QUILA’s intimate five-table indoor setting. Dietary requirements and preferences can be shared with Chef Marc in advance, who will tailor them into each diner’s personalised gastronomic journey. At QUILA, embrace your sense of adventure. Surrender to the unexpected. Savour the surprise…
For more information, please contact us at +62 361 848 2166 or email: [email protected]
TIDAK bisa dimungkiri, Jakarta, atau dahulu dikenal dengan Batavia, sarat akan sejarah. Entah itu kelam, atau justru “berjaya”, sisa-sisa bangunan seakan menjadi “saksi” sekaligus alat pembelajaran bagi mereka yang hidup di masa kini, termasuk dunia gemerlapnya. Adapun dalam proses pembangunannya, Batavia memang didirikan dengan mencontoh konsep bangunan Kota Amsterdam di Belanda. Tidak mengherankan, jika berkunjung ke pusat Kota Batavia–sekarang Kota Tua–Anda akan menjumpai banyak bangunan besar berarsitektur Neo Klasik, Gotik, hingga Barok. Belum lagi, soal kanal-kanal kuno dan jembatan gantung yang mempermanis lanskap…
Kawasan Batavia, atau yang kini populer dengan Kota Tua sendiri menjadi satu kawasan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Entah domestik maupun mancanegara, lokasi ini hampir dipastikan penuh di akhir pekan. Entah ingin sekadar duduk dan menikmati suasana, atau justru belajar sejarah Batavia – berikut adalah beberapa destinasi sejarah yang bisa Anda kunjungi saat berada di Kota Tua.
Pertama kali dibuka pada tahun 1929, tidak heran jika bangunan Stasiun Jakarta Kota–dahulu bernama Stasiun Beos–masih mengadopsi gaya Eropa. Sementara beberapa sumber mengungkap bahwa “Beos” diambil dari (Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij atau Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sumber lain justru mengklaim “Beos” sebagai singkatan dari Batavia En Omstreken (Batavia dan sekitarnya). Apa pun itu, Stasiun Beos sendiri telah lama menjadi penghubung Batavia dengan daerah-daerah di sekitarnya, seperti halnya Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), hingga Karavam (Karawang).
Dahulu, bangunan ini dikenal sebagai kantor Cabang NHM (Nederlansche Handel-Maatschappij) atau Factorij Batavia, sebelum akhirnya mulai difungsikan sebagai museum sejak awal tahun 2004. Adapun bangunan bergaya art-deco klasik hasil rancangan tiga arsitek Belanda (J.J.J de Bruyn, A.P. Smits dan C. van de Linde) ini merupakan salah satu museum perbankan di Indonesia, yang menyimpan berbagai benda-benda perbankan dengan rentang zaman Belanda, kemerdekaan Republik Indonesia, hingga masa kini.
Dahulu berfungsi sebagai rumah sakit (Binnen Hospital), gedung besar yang terletak di depan Stasiun Jakarta Kota ini mulai dialihfungsikan sebagai bank (De Javasche Bank, 1828), hingga akhirnya diresmikan sebagai Museum Bank Indonesia pada 21 Juli 2009.
Alih-alih menyandang nama Museum Sejarah Jakarta, gedung yang satu ini justru populer dengan nama Museum Fatahillah. Dahulu, di sanalah pusat pemerintahan VOC dan Hindia Belanda di Batavia–atau bahkan di Indonesia. Adapun selain sebagai Kantor Gubernur Jenderal, gedung yang dibangun dalam rentang tahun 1707-1710 ini juga memiliki ruang pengadilan, berikut penjara bawah tanah.
Lantaran menjadi “pusat” Kota Tua Jakarta, setidaknya ada beragam aktivitas yang bisa Anda lakukan saat berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta. Ini mencakup masuk dan berkeliling museum, atau justru sekadar duduk-duduk, dan bersepeda ontel a la turis. Adapun Museum Fatahillah juga dikelilingi oleh beberapa gedung tua yang kini difungsikan sebagai museum, seperti halnya Museum Seni Rupa (dahulu Kantor Dewan Kehakiman), Museum Wayang (dahulu Gereja Belanda), serta Gedung Kantor Pos, dan Cafe Batavia (dahulu gudang komoditas hasil bumi).
Tidak seperti namanya, di sanalah dahulu tersimpan beragam hasil bumi terutama rempah-rempah–komoditas utama VOC yang konon sangat laris di pasar Eropa. Adapun dibangun secara bertahap (1652-1771), gedung Museum Bahari terdiri atas dua sisi, yakni sisi barat (Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat) dan sisi timur (Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur).
Dinamakan demikian lantaran warna bangunan yang didominasi warna merah. Sebenarnya, Toko Merah sendiri merupakan bangunan “kembar”, dengan tipikal dua rumah yang tergabung dalam satu atap. Merupakan bangunan berarsitektur klasik Eropa dan Tiongkok, lokasi Toko Merah sendiri ada dekat dengan pusat pemerintahan, yakni di tepi Kali Besar (de Groote Rivier). Pada pertengahan abad ke-19, gedung ini berfungsi sebagai sebuah toko, dengan nama pemilik Oey Liauw Kong. Seiring berjalannya waktu, Toko Merah pernah difungsikan sbeagai kantor hingga Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang.
Jembatan Kota Intan–atau populer dengan Jembatan Jungkit–merupakan sebuah jembatan yang pada dasarnya menghubungkan Kalibesar Timur dan Kalibesar Barat. Adapun nama “Intan” diperoleh dari Bastion Diamant (Intan)–sebuah bastion Kastil Batavia yang terletak tidak jauh dari jembatan tersebut.
Sebelum bernama Jembatan Kota Intan, jembatan yang dibangun pada 1968 ini dikenal sebagai de Hoenderpasar Brug (Jembatan Pasar Ayam). Satu hal yang menarik, yakni jembatan ini pernah dilukis oleh seorang pelukis populer–Vincent van Gogh, dalam kunjungannya ke Batavia. Sayang, kini jembatan tersebut merupakan peninggalan “satu-satunya” yang tersisa dari jembatan sejenis hasil rancangan Belanda di Batavia.
Itulah tujuh destinasi sejarah yang bisa Anda kunjungi saat berada di Kota Tua. Ada pergeseran gaya traveling saat ini, termasuk menemukan hal-hal terhadap peninggalan lama. Adapun jangan lupakan cara baru mengeksplorasi Kota Tua, seperti halnya dengan mencoba paket wisata malam yang kini banyak ditawarkan. Untuk tujuan tersebut, tidak ada salahnya jika memutuskan menginap di hotel terbaik di Jakarta, yang berlokasi di dekat Kota Tua.
Sudamala Suites & Villas, Sanur telah mengubah paviliun ‘joglo’ di pelataran kolam renangnya menjadi restoran yang menyajikan hidangan Thailand: Aroy Thai Cafe & Lounge. Hasilnya pun aroy (lezat!)
Hotel butik mewah Sudamala Suites & Villas, Sanur, telah mengubah paviliun ‘joglo’ bergaya Jawa yang terdapat di pelataran kolam renangnya menjadi restoran terbuka yang menyajikan hidangan ringan lezat khas Thailand, suatu pilihan kuliner yang sangat pas untuk menemani waktu bersantai seharian di pinggir kolam renang sembari menikmati keindahan dan ketenangan alam tropis bak nirwana.
Executive Chef Sudamala yang baru, Tonny Kwan Lawrence, telah mengkreasikan menu yang mengangkat banyak rasa khas Thailand ke pantai Bali – coba bayangkan udang segar, rempah-rempah dan kari bersantan kelapa yang menggugah selera. Semua hasil kreasi terbaru Chef Tonny yang didapat dari pengalaman memasak selama bertahun-tahun di Thailand kini tersaji sempurna untuk dinikmati para tamu Sudamala di Aroy Thai.
Selama bertugas sebagai Sous Chef di Nora Buri Resort & Spa, Koh Samui, Thailand, Tonny sempat berkata, “Saya memiliki minat yang kuat dalam memadukan hidangan Asia –- menciptakan paduan masakan Asia dan Barat adalah gaya khas memasak saya. Sejak saya menggeluti dunia masak-memasak dengan serius, saya telah banyak bereksperimen dan menemukan kombinasi rasa baru yang luar biasa.” Di Aroy Thai, Tonny menyajikan hidangan Thailand klasik berpadu dengan sedikit rasa khas Bali.
“Pengalaman Chef Tonny selama di Thailand telah memberi kepekaan yang kuat terhadap makanan Thailand yang secara umum cukup ringan dan dapat dinikmati sepanjang hari. Selain itu, tidak ada lagi tempat di Sanur di mana anda dapat menikmati hidangan ala Thailand yang otentik dan lezat dalam suasana nyaman dan pemandangan yang indah,” ujar Direktur Sudamala Resorts, Emily Subrata. Menu Aroy meliputi hidangan sederhana dan nikmat yang dimasak sempurna dalam empat kategori, yaitu: Cemilan dan Salad, Sup, Hidangan Utama dan Pencuci Mulut.
Menu lezat tersebut antara lain Moo Rue Gai (sate babi dan ayam yang dihidangkan bersama nasi ketan dan saus kacang), Gai Hor Bai Toey (ayam bumbu bungkus daun pandan), serta Som Tam Thai Goong (salad papaya hijau dengan udang). Menu Thailand tidak akan lengkap tanpa kehadiran kari khas Thailand dan Aroy pun mempersembahkan hidangan otentik tersebut melalui pilihan Tom Kha Gai, yaitu ayam berkuah santan, Tom Yum Goong (sup udang pedas berkrim) dan kari bebek merah panggang yang disajikan dengan aneka buah-buahan.
Terdapat pula hidangan lain seperti nasi dan mie goreng yang begitu terkenal Pad Thai, yaitu mie beras yang dimasak dengan asam, udang dan sayur-sayuran.
Hadir di area ‘joglo’, yaitu bangunan terbuka khas Jawa dengan atap tinggi yag menawan, Aroy Thai menawarkan suasana santai di pinggir kolam renang dengan harga makanan yang sangat terjangkau. “Kami telah mencicipi makanannya dan benar-benar aroy (lezat)!” tambah Emily Subrata. Aroy Thai Cafe and Lounge at Sudamala Suites & Villas, Sanur buka setiap hari, jam 10.00 – 17.00 WITA.

“Saat ini kami sedang mempersiapkan Pecha Kucha volume ke-28. Pecha Kucha sendiri adalah sebuah ajang networking, gathering dan sharing session. Keunikan Pecha Kucha ada pada format presentasi 20×20, di mana pembicara menuangkan idenya melalui 20 slide di mana setiap slide-nya berdurasi 20 detik. Hasilnya adalah presentasi berdurasi 6 menit 40 detik yang singkat, padat, dan tentunya jauh dari membosankan,” ujar Fitra Kharisma dari Maverick Indonesia, sebuah konsultan komunikasi, selaku penyelenggara Pecha Kucha Night Jakarta, dalam surelnya.









Katanya, berbagai tema seputar kreativitas telah diangkat menjadi topik di Pecha Kucha Night Jakarta. Sebutlah tema ‘keluarga’ (All Things Family), ‘travel’ (Globetrotter), ‘aviasi’ (Altitude), ‘kesehatan’ (Let’s Get Physical), ‘konten video’ (Life in Motion), berbagi melalui komunitas (Better Together), dan lain-lain. Selain topik yang menarik beberapa tokoh terkemuka dan penuh inspirasi pun pernah menjadi bagian dari Pecha Kucha Night Jakarta, seperti Jokowi (Presiden Republik Indonesia terpilih 2014-2019), Joko Anwar (sutradara film), Pandji Pragiwaksono (stand up comedian), Ayla Dimitri (fashion stylist) dan Sheila Timothy (produser film).
Di volume ke-28 ini, Pecha Kucha ingin menghadirkan berbagai ahli atau peminat berbagai macam minuman melalui tema SALUT! Topik ini kami pilih karena pembicaraan mengenai makanan sudah mendominasi percakapan mengenai kuliner tapi tidak dengan minuman. Dengan topik ini diharapkan ada percakapan tentang berbagai jenis minuman, cara membuatnya dan bagaimana mengonsumsinya. Saya diundang untuk membahas wine, yang menjadi minat saya.
Yup, tanpa berpikir dua kali, saya menerima undangan tersebut. Pecha Kucha Night Jakarta Vol. 28 bertemakan minuman, “SALUT!”, berlangsung di kantor BukaLapak.com, Jakarta, Kamis, 15 Desember 2016.
Pembicara kali ini ini terdiri sembilan pemrasaran, yakni Helga Angelina (jus), Nova Dewi (jamu), Oza Sudewo (teh), Kiki Moka (cocktail), Ade Putri (bir), Agam Abgari (kopi), Reza (susu-kurma-madu), dan Dhilla Baharudin (kombucha), dan saya sendiri soal wine. Malam itu, saya membahas sejarah wine, juga berbagai macam jenis wine dari yang old world sampai sampai wine lokal, kemudian membahas tata cara mengonsumsi hingga manfaatnya, dalam 20 slide.
Materi yang disampaikan sembilan pemrasaran sangat menginspirasi pengunjung, terbukti dengan antusiasme dan tanggapan positif mereka hingga acara berakhir. Tercatat lebih dari 60 orang hadir pada acara ini, termasuk perwakilan dari tiga media, yaitu Media Indonesia, Republika, dan Provoke! (Burhan Abe)
![]() |
| Yoforia – Gerai di Paris van Java, Bandung |
![]() |
| Kunjungan Blogger |
![]() |
| Chef Martin Naradipraja |
![]() |
| A-Yo, Yolo, dan Salmon Salad |
Siapa yang menyangkal, Bali merupakan destinasi paling populer di Indonesia, bahkan di dunia. Tidak heran banyak hotel berdiri di Pulau Dewata tersebut, seperti Fame Hotel Sunset Road, Kuta – Bali, yang berlangsung Sabtu, 18 Desember 2016. Acara seremoni peresmian Fame Hotel Sunset Road, Kuta-Bali bertema “Glamorous in White”, dihadiri oleh sekitar 250 undangan, termasuk investor, agen perjalanan, serta jajaran manajemen Paramount Enterprise.
Fame Hotel Sunset Road, Kuta – Bali merupakan hotel bintang dua yang dikelola oleh Parador Hotels and Resorts yang ada di bawah naungan Paramount Enterprise. Dengan konsep sebagai affordable lifestyle, hotel ini menawarkan pengalaman menginap layaknya selebriti kepada para tamunya. Mulai dari interior design, hingga pelayanan yang diberikan, para tamu akan dimanjakan oleh sensasi menginap yang sangat stylish dan glamour.
Acara grand opening dimulai dengan prosesi pengguntingan pita oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Badung – Bali Cok Raka Darmawan, didampingi oleh Presiden Direktur Paramount Enterprise Ervan Adi Nugroho, dan Deputy Chief Operating Officer Parador Hotels & Resorts Johannes Hutauruk, dilanjutkan hotel inspection dan ditutup dengan brunch party yang diramaikan oleh live music dan DJ performance.
Menurut Cok Raka Darmawan, sektor pariwisata di Kabupaten Badung adalah salah satu prioritas Pemerintah Kabupaten Badung. Pariwisata merupakan salah satu potensi sekaligus kebutuhan yang harus dikembangkan di Badung, untuk memajukan sektor-sektor pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Sektor pariwisata terbukti sebagai salah satu sektor penggerak perekonomian serta mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. “Untuk itu kami masih tetap membuka kesempatan kepada investor untuk berinvestasi di Kabupaten Badung, khususnya penyediaan akomodasi pariwisata seperti hotel, namun tentunya harus tetap memperhatikan tata ruang, dan aturan adat dan budaya,” katanya.
Sementara Ervan Adi Nugroho, Presiden Direktur Paramount Enterprise menjelaskan bahwa salah satu komitmen perusahaannya, selaku pengembang nasional adalah membangun akomodasi yang memadai, affordabledan berkualitas bagi para wisatawan maupun pebisnis di Tanah Air. “Pulau Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang paling sering menjadi tujuan berlibur para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Kabupaten Badung yang dikenal sebagai barometer pariwisata di Bali memiliki posisi strategis dan potensi yang tinggi serta didukung oleh kebijakan Pemerintah Kabupaten yang mendukung kemajuan pariwisata.”
Melihat potensi ini, Parador Hotels and Resorts yang ada di bawah naungan Paramount Enterprise membuka Fame Hotel Sunset Road, Kuta – Bali, yang merupakan Hotel Fame ke 3 setelah Fame Hotel Gading Serpong dan Fame Hotel Batam, dan ke 8 milik Paramount Enterprise sejak 2012.
Sekarang ada total ada 8 hotel yang dioperasikan oleh Parador Hotels & Resorts. Selain Fame di Bali, ada 7 hotel yang telah dibuka yaitu, 5 hotel di Tangerang, Malang, dan Magelang. Perusahaan ini juga telah mengelola hotel milik pihak lain yaitu Fame Hotel Batam. “Kami optimis bahwa kehadiran Fame Hotel Sunset Road, Kuta – Bali, akan mampu bersaing dengan hotel-hotel sejenis dan bahkan menjadi salah satu favorit para wisatawan lokal maupun mancanegara,” tambah Ervan.
Fame Hotel Sunset Road, Kuta – Bali dibangun di atas lahan seluas 1,9 hektare (4 lantai), didesain dengan konsep lifestyle yang orisinal. Dilengkapi dengan 90 kamar dengan desain yang stylish, dua meeting rooms, semi outdoor swimming pool, restoran, kids corner, dan e-corner. Pas untuk tamu yang ingin bernostalgia dengan musik atau film, karena poster para musisi dan bintang-bintang film bertebaran, mulai dari lorong hingga ke kamar- kamar hotel. Ikon terkenal di era 1980-an hingga 2000-an.
Lokasi Fame Hotel Sunset Road, Kuta – Bali, sangat strategis karena dekat dengan Bandar Udara Internasional Ngurah Rai dan tempat wisata terkenal seperti Pantai Kuta, Jalan Legian, beberapa pusat hiburan malam terkenal dan pusat perbelanjaan.
Tapi sebetulnya Fame sendiri ada pusat hiburan. Sejak melangkahkan kaki ke reception, suasana sudah beraura hiburan, ketika para tamu menuju koridor ke kamar mereka pun seperti memasuki gedung bioskop.
Yes, Parador Hotels & Resorts ingin menghadirkan pengalaman menginap yang baru dan segar kepada para wisatawan. Mulai dari konsep interior design, pelayanan, semua agaknya mereka pikirkan sangat matang sehingga Fame Hotel Sunset Road, Kuta – Bali ini menjadi pilihan baru dan unik bagi para tamu.
“Tentunya dengan harga yang sangat terjangkau, dan kualitas pelayanan layaknya seperti seorang superstar. Kehadiran Fame Hotel Sunset Road, Kuta – Bali diharapkan dapat semakin meramaikan industri perhotelan di Bali yang cukup ketat dan menjadi pilihan utama para wisatawan untuk menginap. Stay Famous!” ujar Deputy Chief Operating Officer Parador, Johannes Hutauruk.
Memang, biaya liburan Raja Ampat yang terbilang mahal membuat sebagian masyarakat tidak bisa pergi berlibur ke Raja Ampat. Jangan merasa berkecil hati karena kamu bisa liburan seru ke Raja Ampat meski punya bujet minim. Gak percaya? Inidia tips liburan hemat di Raja Ampat!
Kalau ingin hemat liburan ke Raja Ampat Papua, kamu wajib mempersiapkannya jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Booking tiket pesawat dan penginapan dari jauh-jauh hari biasanya banyak potongan harga yang bisa kamu dapatkan. Persiapkan setidaknya tiga bulan sebelum kamu liburan ke Raja Ampat.
Saat mencari tiket pesawat ke Raja Ampat pulang pergi, carilah tiket promo yang bisa memangkas bujet liburan kamu, sehingga bisa murah. Jangan bosan untuk sering memantau tiket penerbangan yang menawarkan promo ke destinasi Raja Ampat ini.
Setelah dapat tiket pesawat murah, kamu juga harus rajin browsing lokasi penginapan yang tidak mahal. Cari penginapan di Raja Ampat, yang sudah termasuk akomodasi dan makan gratis, agar menghemat bujet akomodasi dan jatah makan.
Cara mencari penginapan murah di Raja Ampat mudah, cukup bandingkan penginapan satu dengan lainnya. Kalau menurut kamu hotel di sana terlalu mahal, kamu bisa memilih homestay yang biasanya ditawarkan penduduk setempat yang lokasinya justru dekat dengan objek wisata di Raja Ampat yang kamu ingin kunjungi.
Memilih homestay sebagai tempat penginapan kamu di Raja Ampat tentu kamu tidak akan mendapatkan makan. Jadi bawalah persediaan makanan untuk dimakan sewaktu-waktu kamu lapar. Apalagi Raja Ampat bukanlah perkotaan jadi harga makanan pun pasti selangit.
Pulang jalan-jalan belum lengkap kalau tidak membeli buah tangan untuk diberikan kepada teman-teman. Supaya lebih hemat, lebih baik sisihkan ruang kosong di koper kamu untuk meletakkan suvenir yang kamu beli di Raja Ampat. Kalau koper penuh, akhirnya kamu akan membawa kantong plastik. Kalau kamu membawa muatan lebih banyak dari sebelumnya, kamu akan dikenakan biaya tambahan untuk bagasi pesawat dan pengeluaran liburan kamu justru semakin bertambah. Oleh karena itu, perhitungkan dengan matang kebutuhan yang akan kamu bawa saat pergi dan pulang agar kamu terhindar dari biaya tambahan.
Maison Aurelia is the first upscale boutique hotel by Préférence label which offers an elegant hideaway from city bustles and daily hassles in the alluring stretch of Sanur – Bali.
Tauzia Hotel Management along with PT Segara Biru Kencana jointly announced the opening of Maison Aurelia – Sanur by Préférence Hotels located on Jl. Danau Tamblingan, in the heart of revered and timeless Sanur – South Denpasar, 2 December 2016.
The opening marks the first property under the Préférence label uniquely, comprising of upscale, charm & heritage boutique hotels. Maison Aurelia – Sanur offers homey & soothing feeling in the calming comfort of its classic colonial style blended with modern amenities. Guests will surely experience a place of discreet luxury & serenity. “The word choice of ‘Aurelia’ derives from Latin which means ‘golden’ – the color which symbolizes strength, luxury & perfection – while ‘Maison’ means ‘home’ in French – as we believe our warm & attentive personnel will make our guests truly feel homely,” said Irene Janti, Chief Brands & Marketing Officer, Tauzia Hotel Management.
Maison Aurelia – Sanur, by Préférence Hotels features 54 alluring guestrooms divided into two categories: 42 Camelia Rooms of 36sqm & 12 Magnolia Rooms of 54sqm complete with LED TV with cable channels, complimentary Wi-Fi connection, Bluetooth speaker clock, bottled mineral water, coffee/tea maker, mini bar, convenient wardrobe, safe deposit box, plush toiletries by Durance, complimentary daily newspapers & working space.
“In addition to the beautifully crafted guestrooms, Maison Aurelia offers outdoor Jacuzzi, swimming pool, beach club access & overall the feeling to be home away from home,” added Sophie Marivin, Hotel Manager, Maison Aurelia, Sanur.
Be the first to experience the alluring Maison Aurelia – Sanur, by Préférence Hotels starting from IDR 1,118,000nett/night (room only).
Maison Aurelia, Sanur Hosts Spice Gastrobar – Second Edition by Celebrity Masterchef, Chris Salans
In the attempt of adding more delight to its guests, Maison Aurelia – Sanur offers a captivating dining experience at Spice Gastrobar – Second Edition, by celebrity masterchef Chris Salans – the founder of world-famous Mozaic Gastronomique Restaurant in Ubud.
“Like for the first edition Spice Gastrobar in Ubud, we are only using ingredients that are locally sourced with an emphasis on the surprising flavors & healing properties of Indonesian aromatic roots, herbs & spices,” added Salans, “the cuisine and mixology joyfully combines Indonesian flavors with western techniques of preparation and presentation such as in Snapper Carpaccio with tamarind croutons & rojak or Jim and Jack – a bourbon and jackfruit sensation.”
The interiors of Spice at Maison Aurelia – Sanur are a visual sensation celebrating the Indonesian archipelago & interpreted with contemporary artisan styling. The spicy color palette within the restaurant is literally lifted from the ingredients in the chef’s kitchen: cassia bark, saffron, curry and coriander. “The signature bold zig-zag pattern prevalent in the tile floors & bar areas are inspired by the sarongs of paddy field farmers.”
Installations of hand-thrown upended terracotta pots are utilized to create whimsical pendant lamp groupings along the ceiling. And perhaps even more fun & dramatic is the “bottle chandelier”, created from a cluster of suspended wine & liquor bottles that hover over the bar station.
The design of Spice at Maison Aurelia – Sanur was a creative collaboration between Chef Chris Salans & Lloyd Hassencahl of Design Solutions.
Meliá Hotels International menerima penghargaan “Best Sustainable Development and Corporate Responsibility Project” di acara penghargaan bergengsi Worldwide Hospitality Awards untuk projek “Improving Life in Kairo, Kiwenga” yang dipromosikan oleh hotel Meliá Zanzibar, Tanzania, di mana fokus tim hotel sepenuhnya untuk meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat sekitar desa Kairo di Kiwenga.
Perekonomian Pulau Zanzibar biasanya bergantung pada pertanian, tetapi reformasi ekonomi dan pemberian insentif bagi investasi telah mendorong pariwisata dan perdagangan sebagai pendorong utama dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Terlepas dari kemajuan ini, saat ini masih banyak desa-desa yang hidup dalam kemiskinan dan tidak memiliki akses pada kebutuhan dasar yang penting seperti air minum dan listrik. Berkat kesadaran tim hotel Meliá Zanzibar atas kondisi ini, mereka melakukan sebuah proyek untuk meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat sekitar desa Kairo di Kiwenga.
Inti dari proyek ini adalah untuk membina dialog langsung dengan orang- orang yang berhubungan dengan hotel, melibatkan pemilik hotel, staf, manajemen, pemasok serta masyarakat setempat secara langsung untuk menciptakan dampak positif dalam membuat Kairo menjadi tempat yang lebih baik untuk hidup, berbagi pengetahuan, pengalaman, sumber daya dan komitmen Meliá Hotels International untuk tanggung jawab sosial di tempat-tempat di mana perusahaan beroperasi.
Projek yang dipimpin oleh tim serta pemilik hotel, ASB Tanzania Ltd, telah memenuhi kebutuhan dasar penduduk desa melalui penyediaan barang-barang konsumsi, pembangunan sumur untuk menyediakan air minum, dan renovasi 35 rumah dengan atap, toilet dan kamar mandi baru. Selain itu, masjid setempat yang merupakan pusat pertemuan bagi masyarakat juga telah dibangun kembali. Investasi langsung telah mencapai lebih dari 145.000 Euro.
Tim hotel juga mempromosikan penggunaan sayuran lokal pada gerai makanan di hotel, menggunakan rumah kaca sendiri untuk membantu penduduk desa mempelajari lebih banyak tentang pertanian dasar untuk meningkatkkan swasembada. Sebagian besar staf hotel yang berasal dari orang-orang lokal juga turut memajukan perekonomian desa antara lain melalui pembelian amenities dan aksesoris buatan lokal seperti gelang untuk paket all-inclusive.
Pengembangan dan nilai-nilai lokal juga didukung melalui program pendidikan dan olahraga, dengan tim hotel yang sangat aktif dalam mengatur kegiatan di sekolah setempat dan mendukung tim sepak bola desa dengan menyediakan material yang dibutuhkan. Komitmen ini juga meluas ke tamu-tamu hotel yang memiliki kesempatan untuk mengunjungi desa untuk mempelajari lebih lanjut tentang kehidupan desa dan berkontribusi pada keberlanjutan dari proyek ini dan dinamisasi perekonomian desa.
Proyek ini adalah bagian dari Global Corporate Social Responsibility Model dari Meliá Hotels International dan mencerminkan komitmen perusahaan untuk mengembangkan masyarakat lokal di mana perusahaan beroperasi, berbagi dengan masyarakat sekitar dengan memberikan kontribusi untuk menciptakan kekayaan dan nilai. Proyek ini juga mengintegrasikan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, khususnya pemberantasan kemiskinan, perbaikan infrastruktur, keberlanjutan masyarakat lokal dan peningkatan akses terhadap kualitas air minum.
Meliá Hotels International terus membuat kemajuan guna mencapai tujuannya untuk menjadi perusahaan yang dijadikan tolok ukur dalam pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Best Sustainable Development and Corporate Responsibility Project sangat layak untuk hotel ini.