Pizza, But Make It Akira
Mulailah dengan AB Tuna Pizza. Namanya terdengar playful. Rasanya jauh lebih serius. Crispy base menjadi panggung bagi tuna, umami aioli, micro shiso, dan white truffle oil. Ini adalah salah satu signature yang menjelaskan filosofi Akira Back dengan cara paling sederhana: ambil sesuatu yang sudah dikenal, lalu rusak sedikit konvensinya.
The AI Edge: Cara Tetap Relevan di Era Mesin Pintar
Kanpachi Goma bergerak ke arah yang lebih refined, dengan Japanese kingfish, yuzu goma, citrus, dan herb oil. Kemudian ada Brother From Another Mother Roll, pertemuan freshwater eel dan saltwater eel yang terdengar seperti judul film buddy comedy, tetapi hadir dengan presisi yang jauh lebih serius.
Di sisi lain menu, Rock Shrimp Tempura mendapatkan kick dari gochujang mayo dan kucai. Grilled Octopus datang dengan shiso verde, anticucho, dan smoked potato foam. Lalu ada 48 Hour Short Rib—hidangan yang mengingatkan bahwa di balik gaya flamboyan Akira Back, ada satu hal yang tidak pernah bisa dipalsukan: waktu.
Untuk dessert, restoran kembali bermain-main dengan identitasnya lewat Truffle Ice Cream Pizza. Pizza untuk pencuci mulut? Kenapa tidak. Jika hidup sudah terlalu serius, setidaknya dessert tidak perlu ikut-ikutan.
Wajib Baca: Membangun Mesin Uang di Era AI


For Those Who Want More
Namun fine dining selalu punya satu bab yang tidak tertulis: bagaimana jika Anda ingin sedikit lebih jauh? Akira Back Jakarta punya jawabannya.
Toro Caviar memadukan toro dengan gochujang miso, jalapeño, dan Oscietra caviar. Ini bukan hidangan untuk mereka yang sedang menghitung kalori, dan mungkin memang tidak seharusnya.
Kemudian ada Wagyu & Eringii Hot Rock Ishiyaki, di mana wagyu dipanggang langsung di atas batu panas di depan tamu. Ada aroma. Ada suara sizzling. Ada sedikit theatre. Dan itulah intinya.
Makan malam yang bagus membuat Anda kenyang. Makan malam yang memorable membuat Anda ingin membicarakannya setelah pulang.
Cuan dari ChatGPT: Mesin Duit Baru Jaman Now

